
BALIEXPRESS.ID – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Denpasar melakukan pengujian terhadap berbagai produk kuliner yang dijual pelaku UMKM di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
Ketua Tim Informasi dan Komunikasi BBPOM di Denpasar, Ni Putu Ekayani, mengatakan pengujian dilakukan sejak hari pertama pelaksanaan PKB untuk memastikan keamanan pangan yang dikonsumsi pengunjung.
“Kami sudah uji, kalau pangan yang aman itu adalah pangan yang bebas dari tiga bahaya, bahaya kimianya kami uji, ternyata astungkara semua aman dari bahaya kimia,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Baca Juga: De Gadjah: Perhatian Presiden untuk Bali Tak Berkurang, Mari Sukseskan PKB
Pada pengawasan kali ini, BBPOM mengambil 19 sampel makanan dan minuman dari sejumlah stan UMKM.
Produk yang diuji dipilih berdasarkan potensi kandungan bahan berbahaya seperti rhodamin B, boraks, dan formalin.
Beberapa jenis makanan yang menjadi sampel antara lain sate ikan laut, pepes, bakso, kerupuk, es mutiara, dan terasi.
Menurut Ekayani, es mutiara termasuk produk yang mendapat perhatian karena warna merah mencolok kerap dicurigai mengandung pewarna tekstil rhodamin B.
“Jajan laklak itu juga biasanya berisi bahan bahaya kalau orang nakal di luar Bali ya sebab di Bali ini tidak pernah ketemu, kalau lontong ada juga beberapa yang diisi tapi di Bali aman tidak mengandung borak, ada tahu juga kami curigai mengandung formalin, ada mie juga dicurigai,” kata dia.
Selain itu, terasi juga menjadi salah satu produk yang dianggap berisiko karena tidak sedikit produk di pasaran yang menggunakan pewarna berbahaya untuk memperkuat warna.
“Terasi ini riskan ditambahkan pewarna tekstil rhodamin b, kalau beli rujak agak cerah merona begitu warnanya kemungkinan ada campuran tapi belum tentu juga, terbukti tadi tidak mengandung bahaya bisa jadi merahnya dari udang,” ujar Ekayani.



