
BALIEXPRESS.ID — Musim kemarau yang lebih panjang dan kering ikut meningkatkan ancaman kebakaran di Bali.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat 225 kejadian kebakaran gedung dan permukiman sepanjang 1 Januari hingga 9 September 2026.
Selain kebakaran bangunan, periode tersebut juga diwarnai 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total area terdampak mencapai 196,68 hektare.
Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, mengatakan kondisi kemarau tahun ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko bencana.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang, lebih kering, serta diikuti suhu udara yang relatif lebih tinggi di sejumlah wilayah.
"BPBD Provinsi Bali melihat kondisi musim kemarau tahun ini perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan perkembangan cuaca dan informasi dari BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan dengan suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah," katanya, Kamis (10/9).
Menurutnya, kondisi tersebut berpengaruh terhadap peningkatan sejumlah ancaman bencana, terutama yang berkaitan dengan minimnya kelembapan lingkungan.
"Dari perspektif kebencanaan, kondisi tersebut berdampak pada peningkatan potensi beberapa kejadian, terutama kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta kebakaran pemukiman," terangnya.
Data BPBD Bali menunjukkan Buleleng menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar.


