alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Locu Tauke Mulai Bersihkan Patung di TITD Ling Gwan Kiong Jelang Imlek

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rabu (26/1) pagi, beberapa orang pengurus klenteng TITD Ling Gwan Kiong nampak sibuk. Ada yang mengangkat tangga, menyiram halaman hingga menyapu. Mereka terpantau sibuk melakukan beberapa pekerjaan. Selain itu, patung-patung yang ada di dalam klenteng dikeluarkan dari persemayamannya. Ternyata mereka tenga melakukan ritual bersih-bersih patung.

 

Locu Tauke, Wendra Saputra menyampaikan, sebelum melakukan bersih-bersih patung, para pengurus yang akan bertugas, melakukan ritual Dewa Naik pada Selasa (25/1) malam sekitar pukul 00.00 wita. Hal itu dilakukan untuk meminta ijin kepada dewa-dewi sebelum bekerja. “Kami sebelumnya sembahyang dulu sebelum menyentuh patung-patung untuk dibersihkan,” ungkapnya.

 

Ritual ini dilakukan rutin setiap perayaan Imlek. Untuk bersih patung ini, dilakukan 6 hari menjelang perayaan puncak Imlek. Dari pantauan di lokasi, salah satu yang dibersihkan adalah patung berstananya dewa Chen Fu Zhen Ren serta dua patihnya. Patung mulanya dibersihkan dengan kuas kecil untuk menghilangkan debu, selanjutnya dimandikan dengan air kembang dan air kelapa. Selain patung, para pengurus juga membersihkan altar tempat patung dewa, serta peralatan lain yang ada di dalam klenteng.

 

Berdasarkan cerita agama, dewa terutama dewa dapur yang bertugas di bumi, naik ke surgawi untuk melaporkan hasil kerja mereka di dunia. Dewa dapur melaporkan kelakuan baik dan buruknya manusia. Jadi saat dewa naik itu lah, bersih-bersih patung ini dilakukan.

 

Selain membersihkan patung serta altar di dalam klenteng, abu dupa yang tersimpan pada kendi juga dibersihkan. Abu-abu itu disaring untuk dibuang kotorannya. Selanjutnya kendi dicuci bersih lalu dikeringkan. Kemudian abu yang sudah disaring dikembalikan lagi ke tempatnya masing-masing. Abu itu digunakan untuk meletakkan dupa yang digunakan seusai persembahyangan oleh umat.

 

Perayaan tahun ini pun tergolong sama dengan perayaan Imlek dua tahun terakhir. Umat yang datang dibatasi untuk melakukan persembahyangan. Kemeriahan perayaan imlek pun tak lagi terlihat. Pementasan barong sai serta pementasan gong yang biasanya ada di wantilan klenteng juga ditiadakan. “Kali ini masih dibatasi. Nanti umat yang sembahyang diatur 10 orang yang masuk setelah itu kembali 10 orang lagi. Begitu secara bergiliran,” kata dia.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rabu (26/1) pagi, beberapa orang pengurus klenteng TITD Ling Gwan Kiong nampak sibuk. Ada yang mengangkat tangga, menyiram halaman hingga menyapu. Mereka terpantau sibuk melakukan beberapa pekerjaan. Selain itu, patung-patung yang ada di dalam klenteng dikeluarkan dari persemayamannya. Ternyata mereka tenga melakukan ritual bersih-bersih patung.

 

Locu Tauke, Wendra Saputra menyampaikan, sebelum melakukan bersih-bersih patung, para pengurus yang akan bertugas, melakukan ritual Dewa Naik pada Selasa (25/1) malam sekitar pukul 00.00 wita. Hal itu dilakukan untuk meminta ijin kepada dewa-dewi sebelum bekerja. “Kami sebelumnya sembahyang dulu sebelum menyentuh patung-patung untuk dibersihkan,” ungkapnya.

 

Ritual ini dilakukan rutin setiap perayaan Imlek. Untuk bersih patung ini, dilakukan 6 hari menjelang perayaan puncak Imlek. Dari pantauan di lokasi, salah satu yang dibersihkan adalah patung berstananya dewa Chen Fu Zhen Ren serta dua patihnya. Patung mulanya dibersihkan dengan kuas kecil untuk menghilangkan debu, selanjutnya dimandikan dengan air kembang dan air kelapa. Selain patung, para pengurus juga membersihkan altar tempat patung dewa, serta peralatan lain yang ada di dalam klenteng.

 

Berdasarkan cerita agama, dewa terutama dewa dapur yang bertugas di bumi, naik ke surgawi untuk melaporkan hasil kerja mereka di dunia. Dewa dapur melaporkan kelakuan baik dan buruknya manusia. Jadi saat dewa naik itu lah, bersih-bersih patung ini dilakukan.

 

Selain membersihkan patung serta altar di dalam klenteng, abu dupa yang tersimpan pada kendi juga dibersihkan. Abu-abu itu disaring untuk dibuang kotorannya. Selanjutnya kendi dicuci bersih lalu dikeringkan. Kemudian abu yang sudah disaring dikembalikan lagi ke tempatnya masing-masing. Abu itu digunakan untuk meletakkan dupa yang digunakan seusai persembahyangan oleh umat.

 

Perayaan tahun ini pun tergolong sama dengan perayaan Imlek dua tahun terakhir. Umat yang datang dibatasi untuk melakukan persembahyangan. Kemeriahan perayaan imlek pun tak lagi terlihat. Pementasan barong sai serta pementasan gong yang biasanya ada di wantilan klenteng juga ditiadakan. “Kali ini masih dibatasi. Nanti umat yang sembahyang diatur 10 orang yang masuk setelah itu kembali 10 orang lagi. Begitu secara bergiliran,” kata dia.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/