alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Tragedi Pintu Dam Renggut Nyawa Redun, Pesan soal Ajal Jelang Berangkat

DENPASAR, BALI EXPRESS – Meninggalnya I Wayan Redun, 55, karena hanyut saat membuka pintu Dam Jalan Tukad Yeh Aya, Renon, Denpasar Selatan, Kamis (26/5), menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Kini jenazah sudah disemayamkan di rumah duka Jalan Tukad Balian, Gang 90 Nomor 2, Renon.

Koran Bali Express (Jawa Pos Grup) menyempatkan menyambangi kediaman korban, Jumat (27/5). Di rumah duka, sudah banyak pelayat baik dari sanak saudara, tetangga maupun dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Denpasar, tempat pria tua itu bekerja. Bahkan, hadir juga Wakil Walikota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa.

Begitupun karangan bunga dan ucapan bela sungkawa memenuhi gang rumah tersebut. Istri Redun, Ni Ketut Sumarni yang ditemui pun menceritakan bagaimana kepergian sang suami kala itu.

Selama ini suaminya sehat-sehat saja. Bahkan sebelum kejadian, Redun sempat mandi di Pantai dan bercanda dengan sang cucu. “Diajak sama cucunya, Pekak (kakek) ayo main, bapak (Redun) ceria-ceria saja,” tutur wanita ini.

Kemudian pria itu sempat keluar dan ke Griya, lalu nongkrong bersama teman-temannya di warung. Ketika pulang itulah anaknya bernama Ketut Gede Mertayasa alias Tut De meminta tolong untuk membukakan pintu Dam. Ternyata, Tut De yang sebenarnya bekerja sebagai penjaga Dam.

“Petugas Dam sebetulnya Tut De sudah dua tahun, kalau bapak memang di PU,” ujat Sumarni. Korban memang sering membantu buah hatinya tersebut untuk mengatur debit air di Dam. Tetapi sesaat sebelum musibah ini, Tut De dalam keadaan sakit demam. Sehingga ketika hujan turun mengguyur dan air sungai meluap, dia meminta tolong ayahnya yang membuka pintu air sendiri.

“Pak saya tidak bisa badan saya panas, bapak saja dulu yang ke sana, begitu Tut De bilang,” imbuhnya, menirukan sang anak. Permintaan tersebut diiyakan oleh korban. Memang pihak keluarga tidak ada bermimpi atau mempunyai firasat apapun mengenai hal ini. Namun sebelum menuju ke tempat kejadian perkara (TKP), Redun sempat berpamitan.

Ucapannya tersebut yang cukup mengejutkan. Ia berkata kepada Tut De : “Mungkin kalau bapak mati, De (kamu) yang gantikan”. Kemudian Redun berangkat sekitar pukul 16.00. Tapi sesampainya di lokasi, hanya satu pintu air sebelah utara yang bisa terbuka. Karena tali pintu sebelah selatan terputus dan jatuh ke sungai. Korban lantas berinisiatif turun ke sungai untuk mengambil dan menyambung tali tersebut.

Padahal dirinya sempat dilarang oleh warga yang juga datang ke sana. Naas kala tali bisa diambil, Redun terpeleset dan terseret kencangnya arus. Pria itu langsung hilang tersedot ke pintu Dam.

Warga tentu panik dan segera melapor ke Kepala Lingkungan dan pihak berwajib. Sekitar pukul 19.00, korban baru bisa ditemukan petugas pencarian gabungan sejauh 3,7 kilometer dari titik awal.
Tepatnya di aliran sungai sebelah TPS Mertasari, Sidakarya. Sayangnya Redun sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Tragedi ini tentu sangat memukul pihak keluarga. Padahal hanya tiga bulan lagi, korban akan pensiun sebagai petugas PU. Kini keluarga hanya bisa mengikhlaskan kepergian Redun. Pria itu akan dimakamkan di Setra daerah Renon. “Sekarang belum bisa ngaben (kremasi), nanti sore akan dimakamkan pukul 17.00, pukul 14.00 pihak Desa sudah siap-siap dan melakukan pembersihan jenazah,” tutupnya.

 






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Meninggalnya I Wayan Redun, 55, karena hanyut saat membuka pintu Dam Jalan Tukad Yeh Aya, Renon, Denpasar Selatan, Kamis (26/5), menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Kini jenazah sudah disemayamkan di rumah duka Jalan Tukad Balian, Gang 90 Nomor 2, Renon.

Koran Bali Express (Jawa Pos Grup) menyempatkan menyambangi kediaman korban, Jumat (27/5). Di rumah duka, sudah banyak pelayat baik dari sanak saudara, tetangga maupun dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Denpasar, tempat pria tua itu bekerja. Bahkan, hadir juga Wakil Walikota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa.

Begitupun karangan bunga dan ucapan bela sungkawa memenuhi gang rumah tersebut. Istri Redun, Ni Ketut Sumarni yang ditemui pun menceritakan bagaimana kepergian sang suami kala itu.

Selama ini suaminya sehat-sehat saja. Bahkan sebelum kejadian, Redun sempat mandi di Pantai dan bercanda dengan sang cucu. “Diajak sama cucunya, Pekak (kakek) ayo main, bapak (Redun) ceria-ceria saja,” tutur wanita ini.

Kemudian pria itu sempat keluar dan ke Griya, lalu nongkrong bersama teman-temannya di warung. Ketika pulang itulah anaknya bernama Ketut Gede Mertayasa alias Tut De meminta tolong untuk membukakan pintu Dam. Ternyata, Tut De yang sebenarnya bekerja sebagai penjaga Dam.

“Petugas Dam sebetulnya Tut De sudah dua tahun, kalau bapak memang di PU,” ujat Sumarni. Korban memang sering membantu buah hatinya tersebut untuk mengatur debit air di Dam. Tetapi sesaat sebelum musibah ini, Tut De dalam keadaan sakit demam. Sehingga ketika hujan turun mengguyur dan air sungai meluap, dia meminta tolong ayahnya yang membuka pintu air sendiri.

“Pak saya tidak bisa badan saya panas, bapak saja dulu yang ke sana, begitu Tut De bilang,” imbuhnya, menirukan sang anak. Permintaan tersebut diiyakan oleh korban. Memang pihak keluarga tidak ada bermimpi atau mempunyai firasat apapun mengenai hal ini. Namun sebelum menuju ke tempat kejadian perkara (TKP), Redun sempat berpamitan.

Ucapannya tersebut yang cukup mengejutkan. Ia berkata kepada Tut De : “Mungkin kalau bapak mati, De (kamu) yang gantikan”. Kemudian Redun berangkat sekitar pukul 16.00. Tapi sesampainya di lokasi, hanya satu pintu air sebelah utara yang bisa terbuka. Karena tali pintu sebelah selatan terputus dan jatuh ke sungai. Korban lantas berinisiatif turun ke sungai untuk mengambil dan menyambung tali tersebut.

Padahal dirinya sempat dilarang oleh warga yang juga datang ke sana. Naas kala tali bisa diambil, Redun terpeleset dan terseret kencangnya arus. Pria itu langsung hilang tersedot ke pintu Dam.

Warga tentu panik dan segera melapor ke Kepala Lingkungan dan pihak berwajib. Sekitar pukul 19.00, korban baru bisa ditemukan petugas pencarian gabungan sejauh 3,7 kilometer dari titik awal.
Tepatnya di aliran sungai sebelah TPS Mertasari, Sidakarya. Sayangnya Redun sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Tragedi ini tentu sangat memukul pihak keluarga. Padahal hanya tiga bulan lagi, korban akan pensiun sebagai petugas PU. Kini keluarga hanya bisa mengikhlaskan kepergian Redun. Pria itu akan dimakamkan di Setra daerah Renon. “Sekarang belum bisa ngaben (kremasi), nanti sore akan dimakamkan pukul 17.00, pukul 14.00 pihak Desa sudah siap-siap dan melakukan pembersihan jenazah,” tutupnya.

 






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/