alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Belum Ditahan, Tersangka Korupsi LPD Serangan Diperiksa Marathon

DENPASAR, BALI EXPRESS – Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Denpasar telah memeriksa ulang tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Serangan, Denpasar Selatan.

Pemeriksaan dilakukan secara maraton di Kejari Denpasar. Kasi Intel Kejari Denpasar Putu Eka Suyantha, dikonfirmasi, Minggu (26/6) menyatakan pemeriksaan setelah IWJ ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. “Tersangka sudah diperiksa lagi oleh penyidik Kejari Denpasar baru-baru ini,”ujar Putu Eka Suyantha.

Ditanyakan terkait dengan penahanan tersangka, Kasi Intel Eka Suyantha menyatakan belum dilakukan penahanan. “Masalah penahanan belum dilakukan,” kata Eka Suyantha tanpa menyebutkan alasannya.

Seperti diketahui, kasus penyimpangan dana LPD Desa Serangan ini terjadi Tahun Anggaran 2015 s/d 2020. Penyidik selain menetapkan IWJ selaku kepala LPD Desa Adat Serangan Tahun 2015-2020 sebagai tersangka, NWSY selaku Tata Usaha LPD Desa Adat Serangan Tahun 2015 s/d 2020 juga menjadi tersangka.

Baca Juga :  Taman Jagat Karana Dilengkapi Outdoor Fitness dan Arena Skateboard

Adapun modus operandi para tersangka mempergunakan dana LPD Desa Adat Serangan tidak sesuai dengan rencana kerja. Selain itu, tersangka menggunakan dana tidak berdasarkan rencana anggaran pendapatan belanja LPD Desa Adat Serangan.

Kedua tersangka juga tidak mencatatkan pembayaran bunga atau piutang pada buku kas LPD Desa Adat. “Kedua tersangka membuat laporan pertanggungjawaban khususnya laba usaha tidak riil dengan hasil pembagian hasil jasa produksi tidak sesuai dengan ketentuan,” sambung Eka Suyantha.

Dari penggunaan dana yang tidak sesuai tersebut, para tersangka membuat 17 kredit fiktif dan melakukan manipulasi pencatatan buku kas. Perbuatan kedua tersebut dinilai penyidik memperkaya atau menguntungkan diri pribadi para tersangka maupun orang lain.

Baca Juga :  Sidak Distribusi Migor, Kejari Denpasar Temukan Ini

Bahwa berdasarkan laporan penghitungan kerugian keuangan negara, diketahui akibat perbuatan para tersangka tersebut merugikan keuangan negara / daerah Cq. Keuangan LPD Desa Adat Serangan dengan nilai Rp 3.749.118.000,- (Rp 3,74 miliar).

Berdasarkan bukti bukti itulah, kedua tersangka disangka Primair Pasal 2 ayat (1), Subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-undang 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU no. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang Undang No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jis Pasal 55 ayat (1) KUHP Jis Pasal 64 ayat (1)KUHP.

 






Reporter: Suharnanto

DENPASAR, BALI EXPRESS – Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Denpasar telah memeriksa ulang tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Serangan, Denpasar Selatan.

Pemeriksaan dilakukan secara maraton di Kejari Denpasar. Kasi Intel Kejari Denpasar Putu Eka Suyantha, dikonfirmasi, Minggu (26/6) menyatakan pemeriksaan setelah IWJ ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. “Tersangka sudah diperiksa lagi oleh penyidik Kejari Denpasar baru-baru ini,”ujar Putu Eka Suyantha.

Ditanyakan terkait dengan penahanan tersangka, Kasi Intel Eka Suyantha menyatakan belum dilakukan penahanan. “Masalah penahanan belum dilakukan,” kata Eka Suyantha tanpa menyebutkan alasannya.

Seperti diketahui, kasus penyimpangan dana LPD Desa Serangan ini terjadi Tahun Anggaran 2015 s/d 2020. Penyidik selain menetapkan IWJ selaku kepala LPD Desa Adat Serangan Tahun 2015-2020 sebagai tersangka, NWSY selaku Tata Usaha LPD Desa Adat Serangan Tahun 2015 s/d 2020 juga menjadi tersangka.

Baca Juga :  Suket Negatif Covid-19 Diduga Palsu, Tiga Orang Diciduk

Adapun modus operandi para tersangka mempergunakan dana LPD Desa Adat Serangan tidak sesuai dengan rencana kerja. Selain itu, tersangka menggunakan dana tidak berdasarkan rencana anggaran pendapatan belanja LPD Desa Adat Serangan.

Kedua tersangka juga tidak mencatatkan pembayaran bunga atau piutang pada buku kas LPD Desa Adat. “Kedua tersangka membuat laporan pertanggungjawaban khususnya laba usaha tidak riil dengan hasil pembagian hasil jasa produksi tidak sesuai dengan ketentuan,” sambung Eka Suyantha.

Dari penggunaan dana yang tidak sesuai tersebut, para tersangka membuat 17 kredit fiktif dan melakukan manipulasi pencatatan buku kas. Perbuatan kedua tersebut dinilai penyidik memperkaya atau menguntungkan diri pribadi para tersangka maupun orang lain.

Baca Juga :  Khawatir Mati, Peternak di Denpasar Jual Celeng Murah-murah

Bahwa berdasarkan laporan penghitungan kerugian keuangan negara, diketahui akibat perbuatan para tersangka tersebut merugikan keuangan negara / daerah Cq. Keuangan LPD Desa Adat Serangan dengan nilai Rp 3.749.118.000,- (Rp 3,74 miliar).

Berdasarkan bukti bukti itulah, kedua tersangka disangka Primair Pasal 2 ayat (1), Subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-undang 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU no. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang Undang No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jis Pasal 55 ayat (1) KUHP Jis Pasal 64 ayat (1)KUHP.

 






Reporter: Suharnanto

Most Read

Artikel Terbaru

/