alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Bangun Tresna Asih, Tumpek Krulut Tata Titi Kehidupan Warga Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Akademisi Unhi Denpasar, I Kadek Satria mengungkapkan seluruh masyarakat Bali telah melaksanakan perayaan Rahina Tumpek Krulut secara niskala dan sakala, Sabtu (23/7).

Perayaan Rahina Tumpek Krulut secara niskala dan sakala dilaksanakan mengingat Gubernur Bali, Wayan Koster telah meresmikan Rahina Tumpek Krulut sebagai perayaan hari Tresna Asih (Hari Kasih Sayang) seusai pelaksanaan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru.

Dikatakan Kadek Satria, Tumpek Krulut dijadikan harinya Tresna Asih adalah upaya nyata dari ritual tumpek. Artinya bukan hanya beritual, tetapi ada tindakan nyata melalui saling kasih dan menyayangi dengan segala makhluk kehidupan.

“Inilah pemaknaan Tumpek Krulut, bahwa rasa-rasa yang ada mesti dimuliakan dengan upacara dan aksi nyata. Upacaranya adalah dengan ritual pada gambelan dan aksi nyatanya adalah cinta kasih terhadap diri, sesama dan lingkungan yang akan menghasilkan cinta kasih utama, yaitu kepada Sang Pencipta,” tandas Kadek Satria, Selasa (26/7).

Lebih jauh dikatakannya, bahwa jalinan instrumen gambelan tak bisa berdiri sendiri, namun gabungan atau lulut/jalinan/rangkaian inilah simbol penyatuan yang memunculkan nilai seni (kasih).

“Artinya penyatuan, ikatan, rangkaian yang terhubung inilah menghasilkan keindahan. Keterhubungan kita sebagai manusia dengan alam dan lingkungan serta sesama adalah bagian yang akan memunculkan keindahan hidup. Inilah sesungguhnya aksi nyata dari pemaknaan tumpek ini,” sebutnya.

Baca Juga :  Pemuteran Raih Desa Mandiri Inspiratif dari Kemenparekraf

Perayaan Tumpek Krulut dikatakan sebagai pengingat bagi Umat Hindu di Bali akan rasa syukur dan kasih sayang terhadap sesama manusia, alam, dan juga Hyang Widhi Wasa sebagai persembahan bhakti kepada Dewa Iswara yang dalam bentuk manifestasinya sering kita lakukan upacara terhadap gambelan.

Seperti apa yang diungkapkan oleh I Kadek Divayana Siswa dari SMKN 1 Denpasar, Selasa (26/7). “Gambelan memiliki berbagai instrumen berbeda, namun menghasilkan suatu kesatuan melodi yang indah. Tentu gambelan inilah yang harus kita jadikan pedoman hidup, ketika banyak perbedaan, tetapi kita harus saling menghargai, memberikan kasih sayang yang sama,” ujarnya.

Tak disanggahnya bahwa dewasa ini masyarakat mulai terpengaruh akan kebudayaan luar yang menyebabkan kecenderungan masyarakat akan kurangnya bersosialisasi. Dikarenakan teknologi sudah maju, semua bisa dilakukan sendiri, hingga mampu mengikis rasa kepedulian akan sesama umat manusia.

Sedangkan menurut Mahasiswa Undiknas Denpasar, Putu Angel Purnamayanti menegaskan selaku generasi muda, sangat mendukung kebijakan Gubernur Bali, Wayan Koster yang telah menguatkan kembali Perayaan Tumpek Krulut sebagai harinya Tresna Asih dengan tetap mempertahankan nilai – nilai kearifan lokal Sad Kerthi di Bali.

Baca Juga :  PPDB Tahun Ini, Bali Pilih 50 Persen Jalur Zonasi

“Ini upaya nyata untuk membentengi warisan budaya leluhur Bali yang kita rasakan bersama sungguh luar biasa. Karena dalam dekade belakangan ini, perlahan – lahan budaya Bali yang diagungkan oleh negara luar malah ada yang sudah terkikis,” ujarnya.

“Saya berharap agar generasi muda dapat menerapkan perayaan Tumpek Krulut, tidak hanya saat peringatannya saja, tapi dapat diimplementasikan lebih sering dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ida Rsi Agung Pinatih Kusuma Yoga menegaskan perayaan rahina Tumpek Krulut sebagai Hari Tresna Asih atau Kasih Sayang Dresta Bali merupakan
wujud komitmen Gubernur Koster lestarikan nilai kearifan lokal Bali.

Dikatakannya, rahina Tumpek Krulut yang merupakan tumpek yang keempat dari enam Tumpek yang ada dalam siklus kalender Bali secara filosofis, bertujuan untuk menstanakan Dewa Keindahan dalam diri manusia, agar manusia senantiasa diberikan kesenangan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

“Selain dengan cara mendengarkan dan memainkan gambelan rasa senang dan kebahagiaan dalam diri manusia juga dapat dicapai dengan membangun tresna asih/kasih sayang terhadap sesama manusia dan melakukan aktivitas kebersamaan,” tegasnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Akademisi Unhi Denpasar, I Kadek Satria mengungkapkan seluruh masyarakat Bali telah melaksanakan perayaan Rahina Tumpek Krulut secara niskala dan sakala, Sabtu (23/7).

Perayaan Rahina Tumpek Krulut secara niskala dan sakala dilaksanakan mengingat Gubernur Bali, Wayan Koster telah meresmikan Rahina Tumpek Krulut sebagai perayaan hari Tresna Asih (Hari Kasih Sayang) seusai pelaksanaan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru.

Dikatakan Kadek Satria, Tumpek Krulut dijadikan harinya Tresna Asih adalah upaya nyata dari ritual tumpek. Artinya bukan hanya beritual, tetapi ada tindakan nyata melalui saling kasih dan menyayangi dengan segala makhluk kehidupan.

“Inilah pemaknaan Tumpek Krulut, bahwa rasa-rasa yang ada mesti dimuliakan dengan upacara dan aksi nyata. Upacaranya adalah dengan ritual pada gambelan dan aksi nyatanya adalah cinta kasih terhadap diri, sesama dan lingkungan yang akan menghasilkan cinta kasih utama, yaitu kepada Sang Pencipta,” tandas Kadek Satria, Selasa (26/7).

Lebih jauh dikatakannya, bahwa jalinan instrumen gambelan tak bisa berdiri sendiri, namun gabungan atau lulut/jalinan/rangkaian inilah simbol penyatuan yang memunculkan nilai seni (kasih).

“Artinya penyatuan, ikatan, rangkaian yang terhubung inilah menghasilkan keindahan. Keterhubungan kita sebagai manusia dengan alam dan lingkungan serta sesama adalah bagian yang akan memunculkan keindahan hidup. Inilah sesungguhnya aksi nyata dari pemaknaan tumpek ini,” sebutnya.

Baca Juga :  Dua Bupati Perempuan Bertemu, Bicarakan Minuman Beralkohol

Perayaan Tumpek Krulut dikatakan sebagai pengingat bagi Umat Hindu di Bali akan rasa syukur dan kasih sayang terhadap sesama manusia, alam, dan juga Hyang Widhi Wasa sebagai persembahan bhakti kepada Dewa Iswara yang dalam bentuk manifestasinya sering kita lakukan upacara terhadap gambelan.

Seperti apa yang diungkapkan oleh I Kadek Divayana Siswa dari SMKN 1 Denpasar, Selasa (26/7). “Gambelan memiliki berbagai instrumen berbeda, namun menghasilkan suatu kesatuan melodi yang indah. Tentu gambelan inilah yang harus kita jadikan pedoman hidup, ketika banyak perbedaan, tetapi kita harus saling menghargai, memberikan kasih sayang yang sama,” ujarnya.

Tak disanggahnya bahwa dewasa ini masyarakat mulai terpengaruh akan kebudayaan luar yang menyebabkan kecenderungan masyarakat akan kurangnya bersosialisasi. Dikarenakan teknologi sudah maju, semua bisa dilakukan sendiri, hingga mampu mengikis rasa kepedulian akan sesama umat manusia.

Sedangkan menurut Mahasiswa Undiknas Denpasar, Putu Angel Purnamayanti menegaskan selaku generasi muda, sangat mendukung kebijakan Gubernur Bali, Wayan Koster yang telah menguatkan kembali Perayaan Tumpek Krulut sebagai harinya Tresna Asih dengan tetap mempertahankan nilai – nilai kearifan lokal Sad Kerthi di Bali.

Baca Juga :  Mirah Bersama Anak Temani Suami Mancing, Diusir Satpam Hotel

“Ini upaya nyata untuk membentengi warisan budaya leluhur Bali yang kita rasakan bersama sungguh luar biasa. Karena dalam dekade belakangan ini, perlahan – lahan budaya Bali yang diagungkan oleh negara luar malah ada yang sudah terkikis,” ujarnya.

“Saya berharap agar generasi muda dapat menerapkan perayaan Tumpek Krulut, tidak hanya saat peringatannya saja, tapi dapat diimplementasikan lebih sering dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ida Rsi Agung Pinatih Kusuma Yoga menegaskan perayaan rahina Tumpek Krulut sebagai Hari Tresna Asih atau Kasih Sayang Dresta Bali merupakan
wujud komitmen Gubernur Koster lestarikan nilai kearifan lokal Bali.

Dikatakannya, rahina Tumpek Krulut yang merupakan tumpek yang keempat dari enam Tumpek yang ada dalam siklus kalender Bali secara filosofis, bertujuan untuk menstanakan Dewa Keindahan dalam diri manusia, agar manusia senantiasa diberikan kesenangan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

“Selain dengan cara mendengarkan dan memainkan gambelan rasa senang dan kebahagiaan dalam diri manusia juga dapat dicapai dengan membangun tresna asih/kasih sayang terhadap sesama manusia dan melakukan aktivitas kebersamaan,” tegasnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/