alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Pelaku Kasus Sabu 35,1 Kilogram Didakwa dengan Pasal Berlapis

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kasus kepemilikan sabu sabu seberat 35,1 kilogram dengan nilai Rp 56 miliar mulai disidangkan di PN Denpasar secara daring, Kamis (28/7). Dalam perkara ini, terdakwa AA Oka Panji,49, I Ketut Subagiastra,35, dan Komang Suwana,48, tidak disidang bersamaan melainkan dipecah dalam dua berkas perkara.

 

Terdakwa  Anak Agung Gede Oka Panji,  satu berkas sedangkan lainnya terpisah. JPU I Bagus PG Agung dan I Made Agus Sastrawan dalam dakwaannya menyebutkan narkoba tersebut diketahui milik WNA asal Australia yang dipanggil Mr Apple (buron).

 

“Narkoba dibawa ke Vila Jepun milik terdakwa di Jalan Dewi Saraswati, Kuta Utara, Badung, awal Januari 2022,” beber JPU Bagus.

 

Di Vila tersebut terdakwa Subagiastra bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Mr Apple sendiri diketahui penyewa kamar no 1 selama lima bulan, dari Januari – Mei 2022 dengan harga sewa  Rp 50 juta, tapi baru dibayar  Rp 20 juta. Disebutkan pula,  terbongkarnya narkoba berbagai jenis itu diawali kedatangan mobil APV Februari 2022 lalu. Sang Sopir lantas menanyakan keberadaan Mr. Apple kepada Subagiastra yang selanjutnya diarahkan ke kamar no 1.

 

Beberapa saat kemudian sopir dan Mr. Apple keluar dari kamar dan mengambil bungkusan warna putih dari dalam mobil. Bungkusuan itu langsung dibawa masuk ke dalam kamar, setelah itu sopir pergi.

 

Mr. Apple diakhir Februari berpamitan pulang ke negaranya sambil meminta Subagiastra tidak masuk ke kamarnya. Subagiastra di bulan Maret sempat masuk ke kamar Apple guna membersihkan kamar. Tanpa diduga Subagiastra membuka tutup tong kayu warna cokelat yang di dalamnya ada bungkusan teh cina warna emas bertuliskan “Guanyinwang”.

Baca Juga :  Sanggar Palawara Music Company Tampilkan Hal Berbeda

 

Karena penasaran, Subagiastra membuka bungkusan tersebut dan ternyata di dalamnya berisi kristal bening diduga sabu. Selain itu juga ditemukan berbagai paket ekstasi, ganja, dan psikotropika.

 

Subagiastra pun menelepon terdakwa selaku pemilik vila. Terdakwa AA Pandji lantas menyuruh Subagiastra merapikan dan menyimpan kembali semua barang terlarang itu sambil menunggu Mr. Apple kembali dari Australia.

 

Setelah merapikan, beberapa waktu kemudian Subagiastra berpikir untuk memanfaatkan barang haram tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

 

Keesokan harinya, 16 Maret 2022, Subagiastra kembali masuk ke dalam kamar sambil mengambil tiga bumgkusan berisi ganja. Barang itu lalu disimpan di dalam kamar Nomor 2.

 

Keesokan harinya Subagiastra menelepon Komang Suwana (terdakwa sidang terpisah). Subagiastra mengatakan kepada Suwana jika ada kerjaan, dan saat itu Suwana menyanggupinya.

 

“Mereka kembali ke dalam vila dan mulai mengemas ekstasi ke dalam cangkang kapsul untuk dijual,” jelasnya.

 

Besok malamnya mereka menjual ekstasi ke tempat hiburan malam di daerah Canggu, Petitenget, dan Seminyak, di mana satu paket dijual Rp 400 ribu. Transaksi dilakukan secara tunai.

 

Setiap akhir pekan Subagiastra dan Suwana menjual kapsul ekstasi sebanyak 50 biji. Uang hasil penjualan kapsul tersebut dibagi berdua secara rata.

 

Dari penjualan narkotika ini, Subagiastra bersama Suwana berhasil meraup  Rp 30 juta.Uang tersebut dibagi rata berdua, masing-masing mendapat Rp 15 juta.

 

“Uang telah habis dipergunakan untuk keperluan pribadinya,” tukas JPU Agus Sastrawan.

 

Selanjutnya ada permintaan dari pembeli di tempat hiburan malam yang meminta dicarikan kokain atau serbuk MDMA. Subagiastra pun menyanggupinya dengan cara mengambil dari kamar Apple. Serbuk narkotika itu dikemas kecil kecil.

Baca Juga :  Periksa Saksi Dugaan Korupsi, Kejar Data, Polda Obok-obok PLN

Pada 8 April 2022, tim dari Ditresnarkoba Polda Bali melakukan penangkapan dan penggeledahan terhadap Subagiastra dan Suwana di depan vila. Saat ditangkap mereka membawa sepuluh paket kecil kokain dengan berat 8,00 gram netto dan sembilan paket plastik klip kecil MDMA seberat 7,38 gram netto.

 

Polisi juga mengamankan ekstasi dan narkoba jenis lainnya di kamar vila dengan berat total puluhan gram. Setelah mengetahui jika pemilik Villa Jepun adalah terdakwa Gung Panji, di mana yang bersangkutan juga mengetahui jika di dalam kamar tersimpan narkotika, polisi akhirnya menangkap Gung Panji.

 

Polisi lantas melakukan penggeledahan badan terdakwa menemukan ponsel dan berbagai kartu ATM serta uang tunai sebesar Rp 9 juta. “Uang tersebut diduga ada kaitannya dengan tindak pidana yang dilakukan Subagiastra dan Suwana,” tegas JPU Bagus.

 

Dalam dakwaan JPU mendakwa terdakwa telah melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) UU Narkotika. Dakwaan kedua JPU memasang Pasal 62 juncto Pasal 71 ayat (1) UU Narkotika. Selain itu JPU juga memasang Pasal 112 ayat (2) Jo. Pasal 132 ayat (1) dan Pasal 111 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) UU UU yang sama. Dakwaan ketiga Pasal 62 juncto Pasal 71 ayat (1) UU yang sama, serta Pasal 131 UU yang sama.






Reporter: Suharnanto

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kasus kepemilikan sabu sabu seberat 35,1 kilogram dengan nilai Rp 56 miliar mulai disidangkan di PN Denpasar secara daring, Kamis (28/7). Dalam perkara ini, terdakwa AA Oka Panji,49, I Ketut Subagiastra,35, dan Komang Suwana,48, tidak disidang bersamaan melainkan dipecah dalam dua berkas perkara.

 

Terdakwa  Anak Agung Gede Oka Panji,  satu berkas sedangkan lainnya terpisah. JPU I Bagus PG Agung dan I Made Agus Sastrawan dalam dakwaannya menyebutkan narkoba tersebut diketahui milik WNA asal Australia yang dipanggil Mr Apple (buron).

 

“Narkoba dibawa ke Vila Jepun milik terdakwa di Jalan Dewi Saraswati, Kuta Utara, Badung, awal Januari 2022,” beber JPU Bagus.

 

Di Vila tersebut terdakwa Subagiastra bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Mr Apple sendiri diketahui penyewa kamar no 1 selama lima bulan, dari Januari – Mei 2022 dengan harga sewa  Rp 50 juta, tapi baru dibayar  Rp 20 juta. Disebutkan pula,  terbongkarnya narkoba berbagai jenis itu diawali kedatangan mobil APV Februari 2022 lalu. Sang Sopir lantas menanyakan keberadaan Mr. Apple kepada Subagiastra yang selanjutnya diarahkan ke kamar no 1.

 

Beberapa saat kemudian sopir dan Mr. Apple keluar dari kamar dan mengambil bungkusan warna putih dari dalam mobil. Bungkusuan itu langsung dibawa masuk ke dalam kamar, setelah itu sopir pergi.

 

Mr. Apple diakhir Februari berpamitan pulang ke negaranya sambil meminta Subagiastra tidak masuk ke kamarnya. Subagiastra di bulan Maret sempat masuk ke kamar Apple guna membersihkan kamar. Tanpa diduga Subagiastra membuka tutup tong kayu warna cokelat yang di dalamnya ada bungkusan teh cina warna emas bertuliskan “Guanyinwang”.

Baca Juga :  Dekan Fakultas Hukum Unmas Apresiasi 3 Tahun Kepemimpinan Koster

 

Karena penasaran, Subagiastra membuka bungkusan tersebut dan ternyata di dalamnya berisi kristal bening diduga sabu. Selain itu juga ditemukan berbagai paket ekstasi, ganja, dan psikotropika.

 

Subagiastra pun menelepon terdakwa selaku pemilik vila. Terdakwa AA Pandji lantas menyuruh Subagiastra merapikan dan menyimpan kembali semua barang terlarang itu sambil menunggu Mr. Apple kembali dari Australia.

 

Setelah merapikan, beberapa waktu kemudian Subagiastra berpikir untuk memanfaatkan barang haram tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

 

Keesokan harinya, 16 Maret 2022, Subagiastra kembali masuk ke dalam kamar sambil mengambil tiga bumgkusan berisi ganja. Barang itu lalu disimpan di dalam kamar Nomor 2.

 

Keesokan harinya Subagiastra menelepon Komang Suwana (terdakwa sidang terpisah). Subagiastra mengatakan kepada Suwana jika ada kerjaan, dan saat itu Suwana menyanggupinya.

 

“Mereka kembali ke dalam vila dan mulai mengemas ekstasi ke dalam cangkang kapsul untuk dijual,” jelasnya.

 

Besok malamnya mereka menjual ekstasi ke tempat hiburan malam di daerah Canggu, Petitenget, dan Seminyak, di mana satu paket dijual Rp 400 ribu. Transaksi dilakukan secara tunai.

 

Setiap akhir pekan Subagiastra dan Suwana menjual kapsul ekstasi sebanyak 50 biji. Uang hasil penjualan kapsul tersebut dibagi berdua secara rata.

 

Dari penjualan narkotika ini, Subagiastra bersama Suwana berhasil meraup  Rp 30 juta.Uang tersebut dibagi rata berdua, masing-masing mendapat Rp 15 juta.

 

“Uang telah habis dipergunakan untuk keperluan pribadinya,” tukas JPU Agus Sastrawan.

 

Selanjutnya ada permintaan dari pembeli di tempat hiburan malam yang meminta dicarikan kokain atau serbuk MDMA. Subagiastra pun menyanggupinya dengan cara mengambil dari kamar Apple. Serbuk narkotika itu dikemas kecil kecil.

Baca Juga :  Gaga Dipecat sebagai Sekda Gianyar, Pemprov Surati Bupati dan Mendagri

Pada 8 April 2022, tim dari Ditresnarkoba Polda Bali melakukan penangkapan dan penggeledahan terhadap Subagiastra dan Suwana di depan vila. Saat ditangkap mereka membawa sepuluh paket kecil kokain dengan berat 8,00 gram netto dan sembilan paket plastik klip kecil MDMA seberat 7,38 gram netto.

 

Polisi juga mengamankan ekstasi dan narkoba jenis lainnya di kamar vila dengan berat total puluhan gram. Setelah mengetahui jika pemilik Villa Jepun adalah terdakwa Gung Panji, di mana yang bersangkutan juga mengetahui jika di dalam kamar tersimpan narkotika, polisi akhirnya menangkap Gung Panji.

 

Polisi lantas melakukan penggeledahan badan terdakwa menemukan ponsel dan berbagai kartu ATM serta uang tunai sebesar Rp 9 juta. “Uang tersebut diduga ada kaitannya dengan tindak pidana yang dilakukan Subagiastra dan Suwana,” tegas JPU Bagus.

 

Dalam dakwaan JPU mendakwa terdakwa telah melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) UU Narkotika. Dakwaan kedua JPU memasang Pasal 62 juncto Pasal 71 ayat (1) UU Narkotika. Selain itu JPU juga memasang Pasal 112 ayat (2) Jo. Pasal 132 ayat (1) dan Pasal 111 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) UU UU yang sama. Dakwaan ketiga Pasal 62 juncto Pasal 71 ayat (1) UU yang sama, serta Pasal 131 UU yang sama.






Reporter: Suharnanto

Most Read

Artikel Terbaru

/