alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Hapus Stigma Klaster Upacara, Disbud Badung Gencarkan Edukasi Prokes

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung menggencarkan pemantauan dan pembinaan kepada masyarakat adat setempat. Hal ini berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes), terutama dalam pelaksanaan upacara keagamaan. Sehingga kegiatan keagamaan tak lagi diopinikan sebagai klaster baru penyebaran Covid-19.
Kadisbud Badung, I Gde Eka Sudarwitha mengungkapkan, pihaknya betul-betul fokus melaksanakan edukasi penerapan prokes. Sasarannya adalah desa adat. “Kami sedang fokus edukasi penerapan protokol kesehatan dalam upacara agama. Itu yang betul-betul kami konsentrasi. Karena sifatnya meyakinkan bendesa. Sehingga kita meyakinkan upacara (keagamaan) kita itu bukan sebagai klaster,” ungkapnya, Senin (28/9) kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dari edukasi sejauh ini, Disbud menilai upacara yang melibatkan masyarakat umum sudah perlahan taat tertib dalam melaksanakan prokes. Misalnya di pura kahyangan tiga, kahyangan jagat, dan lainnya. Namun yang belum taat, kata dia, pelaksanaan upacara pribadi atau keluarga. “Misalnya menikah, ngenteg linggih di merajan, kemudian kematian. Ini masih sedikit abai,” katanya.
Bentuk edukasi yang dilakukan, lanjut mantan Camat Petang ini, adalah mengerahkan staf ke desa adat untuk melaksanakan pembinaan. Bekerja sama dengan prajuru desa adat, pihaknya melakukan pendekatan secara personal ke warga. “Kami ada staf 162 orang. Kami turun melakukan edukasi ke 122 desa adat sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. Kalau yang umum, kami dekati prajuru. Nah, untuk yang pribadi, kami imbau melakukan dengan pendekatan personal,” jelasnya.
Sudarwitha pun menegaskan, pihaknya berupaya optimal untuk ikut serta mencegah penularan Covid-19. Khususnya bekerja sama dengan desa adat yang memiliki wewenang menekankan pelaksanaan prokes di wilayah masing-masing. “Untuk meyakinkan ini kan perlu langkah kerja. Kita yakin tapi diam, kan tidak cukup,” tegasnya.
Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Surat Edaran Nomor : 487/Gugas Covid19/IX/2020 tentang Penguatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Bali tanggal 17 September 2020. Pada huruf C, bupati dan walikota se-Bali, seluruh pimpinan/kepala lembaga/unit kerja instansi vertikal maupun daerah, direktur BUMN/BUMD, dan pimpinan perusahaan swasta, serta pimpinan lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh komponen masyarakat agar bersatu-padu dan bergotong royong untuk melaksanakan beberapa hal.
Di antaranya membatasi kegiatan upacara Panca Yadnya dan keramaian di Bali sesuai dengan Surat Edaran Bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Nomor: 081/PHDI-Bali/IX/2020 – Nomor: 007/SE/MDA-Prov Bali/IX/2020.  Kemudian melaksanakan pengaturan kegiatan keagamaan dan keramaian di Bali sesuai dengan Surat Edaran Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali Nomor: 42/IX/FKUB/2020.


MANGUPURA, BALI EXPRESS – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung menggencarkan pemantauan dan pembinaan kepada masyarakat adat setempat. Hal ini berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes), terutama dalam pelaksanaan upacara keagamaan. Sehingga kegiatan keagamaan tak lagi diopinikan sebagai klaster baru penyebaran Covid-19.
Kadisbud Badung, I Gde Eka Sudarwitha mengungkapkan, pihaknya betul-betul fokus melaksanakan edukasi penerapan prokes. Sasarannya adalah desa adat. “Kami sedang fokus edukasi penerapan protokol kesehatan dalam upacara agama. Itu yang betul-betul kami konsentrasi. Karena sifatnya meyakinkan bendesa. Sehingga kita meyakinkan upacara (keagamaan) kita itu bukan sebagai klaster,” ungkapnya, Senin (28/9) kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dari edukasi sejauh ini, Disbud menilai upacara yang melibatkan masyarakat umum sudah perlahan taat tertib dalam melaksanakan prokes. Misalnya di pura kahyangan tiga, kahyangan jagat, dan lainnya. Namun yang belum taat, kata dia, pelaksanaan upacara pribadi atau keluarga. “Misalnya menikah, ngenteg linggih di merajan, kemudian kematian. Ini masih sedikit abai,” katanya.
Bentuk edukasi yang dilakukan, lanjut mantan Camat Petang ini, adalah mengerahkan staf ke desa adat untuk melaksanakan pembinaan. Bekerja sama dengan prajuru desa adat, pihaknya melakukan pendekatan secara personal ke warga. “Kami ada staf 162 orang. Kami turun melakukan edukasi ke 122 desa adat sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. Kalau yang umum, kami dekati prajuru. Nah, untuk yang pribadi, kami imbau melakukan dengan pendekatan personal,” jelasnya.
Sudarwitha pun menegaskan, pihaknya berupaya optimal untuk ikut serta mencegah penularan Covid-19. Khususnya bekerja sama dengan desa adat yang memiliki wewenang menekankan pelaksanaan prokes di wilayah masing-masing. “Untuk meyakinkan ini kan perlu langkah kerja. Kita yakin tapi diam, kan tidak cukup,” tegasnya.
Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Surat Edaran Nomor : 487/Gugas Covid19/IX/2020 tentang Penguatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Bali tanggal 17 September 2020. Pada huruf C, bupati dan walikota se-Bali, seluruh pimpinan/kepala lembaga/unit kerja instansi vertikal maupun daerah, direktur BUMN/BUMD, dan pimpinan perusahaan swasta, serta pimpinan lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh komponen masyarakat agar bersatu-padu dan bergotong royong untuk melaksanakan beberapa hal.
Di antaranya membatasi kegiatan upacara Panca Yadnya dan keramaian di Bali sesuai dengan Surat Edaran Bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Nomor: 081/PHDI-Bali/IX/2020 – Nomor: 007/SE/MDA-Prov Bali/IX/2020.  Kemudian melaksanakan pengaturan kegiatan keagamaan dan keramaian di Bali sesuai dengan Surat Edaran Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali Nomor: 42/IX/FKUB/2020.


Most Read

Artikel Terbaru

/