alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Cari Kakul, Hilang, Ditemukan Meninggal di Tukad Mecatu

TABANAN, BALI EXPRESS – Usaha warga Banjar Seleksek, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan mencari salah satu warganya yang hilang tidak sia-sia. Meski yang dicari sudah meninggal dalam keadaan tragis.

 

Sosok yang mereka cari, Ni Nyoman Tambir,66, sudah ditemukan tidak bernyawa pada aliran Tukad Mecatu di lingkungan Banjar/Desa Pajahan, Pupuan, pada Sabtu (27/11) pagi. Sekitar pukul 08.30.

 

Informasinya, jenazahnya ditemukan dalam keadaan terbalik. Kaki kanannya tersangkut bambu di tengah aliran sungai yang dekat dengan singsing atau air terjun.

 

Sebelumnya, oleh keluarganya korban dilaporkan hilang ke Polsek Pupuan pada Jumat (26/11). Itu setelah sehari sebelumnya, Kamis (25/11), korban pamitan kepada keluarganya untuk mencari kakul.

 

Namun sampai dengan malam hari, korban rupanya tidak kunjung pulang. Sehingga pihak keluarga dibantu warga banjarnya melakukan pencarian.

 

“Kamis (25/11), korban pamitan ke suaminya untuk ke sawah. Mencari keong (kakul). Tapi sampai malam hari, korban belum balik ke rumahnya,” jelas Kasubag Humas Polres Tabanan, Iptu Nyoman Subagia, yang membenarkan laporan tersebut, Minggu (28/11).

 

Sejak Jumat (26/11), pencarian dilakukan pihak keluarga bersama warga banjar setempat. Saat itu, pencarian hanya menemukan handuk milik korban. Selain itu ada kakul yang sudah dicari korban. Semuanya ditemukan di pinggir sungai. Terkecuali korban.

 

Baru keesokan harinya, Sabtu (27/11), pencarian yang dibandu pecalang Desa Pajahan memperoleh titik terang keberadaan korban dengan tetap menyusuri alur sungai.

Baca Juga :  Nadiawan Shock Namanya Masuk Daftar Kasepekang Desa Bebetin, Kenapa?

 

Baru sekitar pukul 08.30, para pencari menemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Pencarian waktu itu dilakukan sampai di air terjun.

 

Tubuh korban saat itu ditemukan sudah tidak bernyawa. Dalam keadaan terbalik. Dan kaki kanannya tersangkut bambu. Kemudian bagian kepalanya berada di bawah.

 

Hasil pencarian itu kemudian dilaporkan ke Polsek Pupuan. Selanjutnya proses evakuasi dilakukan dengan melibatkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan.

 

Evakuasi jenazah korban tidak serta merta bisa lakukan. Mengingat kondisi medan yang curam. Selain itu, posisi jenazah korban yang tersangkut ada di pertengahan air terjun.

 

“Perkiraan sementara, korban terseret sejauh satu kilometer dari posisi ditemukannya handuk dan keong yang dicari korban. Dari keterangan pihak keluarga, korban sudah tujuh kali hilang dari rumah. Dan korban juga memiliki riwayat epilepsi,” jelasnya.

 

Dari hasil pemeriksaan luar, tempurung kepala korban dalam keadaan pecah yang diduga akibat benturan dengan bebatuan di sepanjang aliran sungai. Kulitnya sudah dalam keadaan mengelupas. Tubuhnya dalam keadaan membengkak akibat lama terendam air sungai.

 

“Di luar itu, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” pungkasnya.

TABANAN, BALI EXPRESS – Usaha warga Banjar Seleksek, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan mencari salah satu warganya yang hilang tidak sia-sia. Meski yang dicari sudah meninggal dalam keadaan tragis.

 

Sosok yang mereka cari, Ni Nyoman Tambir,66, sudah ditemukan tidak bernyawa pada aliran Tukad Mecatu di lingkungan Banjar/Desa Pajahan, Pupuan, pada Sabtu (27/11) pagi. Sekitar pukul 08.30.

 

Informasinya, jenazahnya ditemukan dalam keadaan terbalik. Kaki kanannya tersangkut bambu di tengah aliran sungai yang dekat dengan singsing atau air terjun.

 

Sebelumnya, oleh keluarganya korban dilaporkan hilang ke Polsek Pupuan pada Jumat (26/11). Itu setelah sehari sebelumnya, Kamis (25/11), korban pamitan kepada keluarganya untuk mencari kakul.

 

Namun sampai dengan malam hari, korban rupanya tidak kunjung pulang. Sehingga pihak keluarga dibantu warga banjarnya melakukan pencarian.

 

“Kamis (25/11), korban pamitan ke suaminya untuk ke sawah. Mencari keong (kakul). Tapi sampai malam hari, korban belum balik ke rumahnya,” jelas Kasubag Humas Polres Tabanan, Iptu Nyoman Subagia, yang membenarkan laporan tersebut, Minggu (28/11).

 

Sejak Jumat (26/11), pencarian dilakukan pihak keluarga bersama warga banjar setempat. Saat itu, pencarian hanya menemukan handuk milik korban. Selain itu ada kakul yang sudah dicari korban. Semuanya ditemukan di pinggir sungai. Terkecuali korban.

 

Baru keesokan harinya, Sabtu (27/11), pencarian yang dibandu pecalang Desa Pajahan memperoleh titik terang keberadaan korban dengan tetap menyusuri alur sungai.

Baca Juga :  Ketua DPRD dan Bupati Tabanan Kunjungi PMI di Hotel Aris

 

Baru sekitar pukul 08.30, para pencari menemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Pencarian waktu itu dilakukan sampai di air terjun.

 

Tubuh korban saat itu ditemukan sudah tidak bernyawa. Dalam keadaan terbalik. Dan kaki kanannya tersangkut bambu. Kemudian bagian kepalanya berada di bawah.

 

Hasil pencarian itu kemudian dilaporkan ke Polsek Pupuan. Selanjutnya proses evakuasi dilakukan dengan melibatkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan.

 

Evakuasi jenazah korban tidak serta merta bisa lakukan. Mengingat kondisi medan yang curam. Selain itu, posisi jenazah korban yang tersangkut ada di pertengahan air terjun.

 

“Perkiraan sementara, korban terseret sejauh satu kilometer dari posisi ditemukannya handuk dan keong yang dicari korban. Dari keterangan pihak keluarga, korban sudah tujuh kali hilang dari rumah. Dan korban juga memiliki riwayat epilepsi,” jelasnya.

 

Dari hasil pemeriksaan luar, tempurung kepala korban dalam keadaan pecah yang diduga akibat benturan dengan bebatuan di sepanjang aliran sungai. Kulitnya sudah dalam keadaan mengelupas. Tubuhnya dalam keadaan membengkak akibat lama terendam air sungai.

 

“Di luar itu, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru