alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Cuma 3 Jam, 1.701 Kg Sampah Plastik Ditukar di Banjar Tengkulak Kaja

GIANYAR, BALI EXPRESS – Di masa pandemi Covid-19, program Plastic Exchange ternyat masih diminati masyarakat. Seperti yang terpantau pada kegiatan plastic exchange di Banjar Tengkulak Kaja, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Sabtu (27/11). Bahkan hanya tiga jam saja, sampah yang terkumpul 1.701 kilogram atau 1 ton lebih.

Bendesa Adat Tengkulak Kaja, I Made Selamet menjelaskan bahwa sejak dibuka pukul 09.00 WITA sampai sekitar pukul 12.00 WITA, sampah plastik yang terkumpul mencapai 1.701 kilogram atau 1 ton lebih. Hal itu menunjukkan jika masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Plastic Exchange tersebut rutin digelar sebulan sekali.

“Sampah-sampah ini ditukar oleh sekitar 100 orang warga. Mereka membawa sampah plastik yang dipilah dari sampah rumah tangga,” ujarnya.

Dirinya menambahkan jika kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh warga di Banjar Tengkulak saja namun juga menarik minat para siswa SDN 2 Kemenuh. Sehingga berbeda dengan warga, penukar sampah yang telah dibawa pun diganti menjadi buku. “Mereka total membawa 64,5 kilogram sampah plastik berupa kresek. Karena siswa, kita ganti alat penukarnya berupa buku, kalau warga kan penukarnya beras,” bebernya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika selain sampah plastik, dalam plastic exchange tersebut juga menerima sampah berupa rongsokan, kardus, buku bekas, kertas, besi hingga botol bir. Antusias masyarakat yang tinggi pun dibuktikan dengan total beras yang keluar dalam kegiatan tersebut mencapai 682 kg. “Adapun beras sebagai alat penukar, diupayakan dari sponsor dan donatur setempat yang peduli akan kebersihan lingkungan sekaligus peduli sesama di masa pandemi Covid-19,” tandasnya.

Baca Juga :  Keberadaan Ketua Koperasi yang “Ngemplang” Dana Nasabah Misterius

Sementara itu, pencetus Plastic Exchange, Made Janur Yasa menyebutkan jika aksi tersebut mulai dilakukan di seluruh Bali sejak pandemi Covid-19, atau sejak 2 tahun lalu. Dimana sejak 2 tahun itu sudah dilakukan oleh 200 Banjar di Bali dengan total ampah plastik yang berhasil dikumpulkan mencapai 500 ton lebih.

Kegiatan ini dicetuskan agar bantuan berupa sembako tidak digelontorkan begitu saja, sekaligus untuk menggugah masyarakat berbakti pada ibu pertiwi dengan lebih peduli terhadap lingkungan. “Tenaga yang habis saat memilah sampah itulah, diganti dengan alat penukar berupa beras. Sehingga masyarakat akan sangat menghargai beras yang didapat dari penukaran sampah,” tegasnya.

Menurutnya, di Bali ada Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan. Dimana hubungan harmonis dengan Tuhan adalah jati diri, hubungan harmonis dengan sesama manusia adalah untuk kesejahteraan. Dan hubungan harmonis dengan lingkungan. “Itu kita lakukan dengan menjaga. Dengan tidak membuang sampah sembarangan. Maka kalau ada sampah plastik di tanah pungut, jangan justru dibuang ke jalan,” sebutnya.

Penggiat lingkungan yang masuk nominasi CNN Hero ini pun meminta agar kebiasaan memungut dan memilah sampah plastik ini dimulai dari rumah tangga. “Sebenarnya kita ini menyukseskan program Gubernur Bali dalam perangi sampah dari sumber. Dari rumah tangga, dari Banjar. Kalau bisa mengurangi sampah ke TPA Suwung, TPA Temesi,” pungkasnya. 

GIANYAR, BALI EXPRESS – Di masa pandemi Covid-19, program Plastic Exchange ternyat masih diminati masyarakat. Seperti yang terpantau pada kegiatan plastic exchange di Banjar Tengkulak Kaja, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Sabtu (27/11). Bahkan hanya tiga jam saja, sampah yang terkumpul 1.701 kilogram atau 1 ton lebih.

Bendesa Adat Tengkulak Kaja, I Made Selamet menjelaskan bahwa sejak dibuka pukul 09.00 WITA sampai sekitar pukul 12.00 WITA, sampah plastik yang terkumpul mencapai 1.701 kilogram atau 1 ton lebih. Hal itu menunjukkan jika masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Plastic Exchange tersebut rutin digelar sebulan sekali.

“Sampah-sampah ini ditukar oleh sekitar 100 orang warga. Mereka membawa sampah plastik yang dipilah dari sampah rumah tangga,” ujarnya.

Dirinya menambahkan jika kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh warga di Banjar Tengkulak saja namun juga menarik minat para siswa SDN 2 Kemenuh. Sehingga berbeda dengan warga, penukar sampah yang telah dibawa pun diganti menjadi buku. “Mereka total membawa 64,5 kilogram sampah plastik berupa kresek. Karena siswa, kita ganti alat penukarnya berupa buku, kalau warga kan penukarnya beras,” bebernya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika selain sampah plastik, dalam plastic exchange tersebut juga menerima sampah berupa rongsokan, kardus, buku bekas, kertas, besi hingga botol bir. Antusias masyarakat yang tinggi pun dibuktikan dengan total beras yang keluar dalam kegiatan tersebut mencapai 682 kg. “Adapun beras sebagai alat penukar, diupayakan dari sponsor dan donatur setempat yang peduli akan kebersihan lingkungan sekaligus peduli sesama di masa pandemi Covid-19,” tandasnya.

Baca Juga :  PHDI Karangasem Sebut Proses Diksa Tidak di Ababi

Sementara itu, pencetus Plastic Exchange, Made Janur Yasa menyebutkan jika aksi tersebut mulai dilakukan di seluruh Bali sejak pandemi Covid-19, atau sejak 2 tahun lalu. Dimana sejak 2 tahun itu sudah dilakukan oleh 200 Banjar di Bali dengan total ampah plastik yang berhasil dikumpulkan mencapai 500 ton lebih.

Kegiatan ini dicetuskan agar bantuan berupa sembako tidak digelontorkan begitu saja, sekaligus untuk menggugah masyarakat berbakti pada ibu pertiwi dengan lebih peduli terhadap lingkungan. “Tenaga yang habis saat memilah sampah itulah, diganti dengan alat penukar berupa beras. Sehingga masyarakat akan sangat menghargai beras yang didapat dari penukaran sampah,” tegasnya.

Menurutnya, di Bali ada Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan. Dimana hubungan harmonis dengan Tuhan adalah jati diri, hubungan harmonis dengan sesama manusia adalah untuk kesejahteraan. Dan hubungan harmonis dengan lingkungan. “Itu kita lakukan dengan menjaga. Dengan tidak membuang sampah sembarangan. Maka kalau ada sampah plastik di tanah pungut, jangan justru dibuang ke jalan,” sebutnya.

Penggiat lingkungan yang masuk nominasi CNN Hero ini pun meminta agar kebiasaan memungut dan memilah sampah plastik ini dimulai dari rumah tangga. “Sebenarnya kita ini menyukseskan program Gubernur Bali dalam perangi sampah dari sumber. Dari rumah tangga, dari Banjar. Kalau bisa mengurangi sampah ke TPA Suwung, TPA Temesi,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru