alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Profesor Robot Hasilkan Robot Tangan Hingga Alat Guling Babi Otomatis

BADUNG, BALI EXPRESS – Penelitian selanjutnya, Prof Widhiada mengungkapkan, motor penggerak hybrid, yakni dengan listrik dan mesin aslinya. Ia mengklaim motor ini lebih efektif dibandingkan hanya menggunakan penggerak listrik saja. Pasalnya dengan dua mesin dapat memberikan performa lebih saat menjajal tanjakan.

“Penggerak motor ini pertama menggunakan listrik, kemudian setelah melaju di atas 40 km/jam mesin aslinya akan hidup. Ini masih skala riset. Jadi harapan bisa kami membuat produk switch control tenaga penggerak motor,” jelasnya.

Selain lebih efektif saat melewati tanjakan, Widhiada mengklaim harga perubahan penggerak motor lebih murah ketimbang melakukan modifikasi mesin dengan bahan bakar minyak ke listrik. Untuk pengisian listrik masih dilakukan dengan mencolok ke saluran listrik.

“Kedepannya kami akan kembangkan agar saat mengecas baterai menggunakan putaran roda. Motor listrik ini dari kosong sampai penuh perlu waktu satu jam mencas baterai,” bebernya.

Selain memiliki riset dibidang kesehatan, Ahli Robotik ini juga sudah mampu menciptakan alat Guling babi otomatis. Dalam penggunaannya penggulingan ini dapat diatur putaran motor listriknya, mulai dari frekuensi rendah hingga tinggi. “Dari penggulingan ini dapat diatur frekuensi putaran motor listrik, sesuai selera usernya,” katanya.

Penggulingan otomatis ini juga dapat mengetahui kematangan babi. Sehingga saat babi sudah matang akan ada alarm. Pria 52 tahun ini juga akan membuat sistem kontrol menggunakan wifi. “Jadi pengguna dari jarak jauh dapat mengoperasikan,” tuturnya.

Widhiada juga pernah memikirkan untuk membuat sistem pemanasnya langsung. Namun dengan pemanas pengganti api dari kayu bakar dapat mengurangi rasa. Sehingga idenya tersebut dibatalkan. Kemdati demikian, ia akan menggantinya dengan sistem blower.

“Jadi blower ini berfungsi untuk menjaga kebesaran api, kalau apinya kecil meredup blower akan hidup, tapi ketika apinya besar blower akan mati,” terangnya, seraya mengatakan, penggulingan babi ini sudah digunakan oleh Yuda Babi Guling yang beralamat di Jalan Nangka Nomor 23, Denpasar. Saat ini, ia sedang membuat penggulingan otomatis untuk Babi Guling Pande Egi.

Terakhir, Widihada bersama timnya membuat industri kecil-kecilan. Ia pun dibantu oleh beberapa mahasiswa bimbingannya. Jadi selain fokus pads penelitian, pria asal Darmasaba ini juga membantu mahasiswa menjadi seorang entreprenuer.

“Jadi mereka nanti dapat membuat perusahaan sendiri tanpa perlu mencari pekerjaan. Sekaligus membantu ekonomi mahasiswa di tengah pandemi karena ada produk yang dapat mereka jual,” ucapnya.

Tidak terhenti dengan riset-riset yang telah dilakukan, Widhiada bersama tim sedang menggarap robot pemilah sampah. Ia mendaptkan ide dari negeri tirai bambu.

“Jadi nanti dengan adanya robot ini, ketika melakukan pemilahan sampah robot berbasis deep learning akan mengetahui sampah organik atau non organik. Sehingga proses pemilahan sampah dapat lebih cepat,” terangnya.

Lebih lanjut Dosen Teknik Mesin ini menambahkan, selama ini yang menjadi masalah hasil dari riset belum diaplikasikan atau belum bisa diproduksi dengan jumlah yang banyak. Lantaran perlu biaya untuk memproduksi secara masal. Ia pun berharap kedepannya ada investor yang mau bekerja sama, sehingga kedepannya masyarakat luas dapat menggunakan hasil risetnya.

“Dengan biaya yang murah, Masyarakat dapat menggunakan hasil riset ini. Apalagi untuk penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan,” harapnya.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS – Penelitian selanjutnya, Prof Widhiada mengungkapkan, motor penggerak hybrid, yakni dengan listrik dan mesin aslinya. Ia mengklaim motor ini lebih efektif dibandingkan hanya menggunakan penggerak listrik saja. Pasalnya dengan dua mesin dapat memberikan performa lebih saat menjajal tanjakan.

“Penggerak motor ini pertama menggunakan listrik, kemudian setelah melaju di atas 40 km/jam mesin aslinya akan hidup. Ini masih skala riset. Jadi harapan bisa kami membuat produk switch control tenaga penggerak motor,” jelasnya.

Selain lebih efektif saat melewati tanjakan, Widhiada mengklaim harga perubahan penggerak motor lebih murah ketimbang melakukan modifikasi mesin dengan bahan bakar minyak ke listrik. Untuk pengisian listrik masih dilakukan dengan mencolok ke saluran listrik.

“Kedepannya kami akan kembangkan agar saat mengecas baterai menggunakan putaran roda. Motor listrik ini dari kosong sampai penuh perlu waktu satu jam mencas baterai,” bebernya.

Selain memiliki riset dibidang kesehatan, Ahli Robotik ini juga sudah mampu menciptakan alat Guling babi otomatis. Dalam penggunaannya penggulingan ini dapat diatur putaran motor listriknya, mulai dari frekuensi rendah hingga tinggi. “Dari penggulingan ini dapat diatur frekuensi putaran motor listrik, sesuai selera usernya,” katanya.

Penggulingan otomatis ini juga dapat mengetahui kematangan babi. Sehingga saat babi sudah matang akan ada alarm. Pria 52 tahun ini juga akan membuat sistem kontrol menggunakan wifi. “Jadi pengguna dari jarak jauh dapat mengoperasikan,” tuturnya.

Widhiada juga pernah memikirkan untuk membuat sistem pemanasnya langsung. Namun dengan pemanas pengganti api dari kayu bakar dapat mengurangi rasa. Sehingga idenya tersebut dibatalkan. Kemdati demikian, ia akan menggantinya dengan sistem blower.

“Jadi blower ini berfungsi untuk menjaga kebesaran api, kalau apinya kecil meredup blower akan hidup, tapi ketika apinya besar blower akan mati,” terangnya, seraya mengatakan, penggulingan babi ini sudah digunakan oleh Yuda Babi Guling yang beralamat di Jalan Nangka Nomor 23, Denpasar. Saat ini, ia sedang membuat penggulingan otomatis untuk Babi Guling Pande Egi.

Terakhir, Widihada bersama timnya membuat industri kecil-kecilan. Ia pun dibantu oleh beberapa mahasiswa bimbingannya. Jadi selain fokus pads penelitian, pria asal Darmasaba ini juga membantu mahasiswa menjadi seorang entreprenuer.

“Jadi mereka nanti dapat membuat perusahaan sendiri tanpa perlu mencari pekerjaan. Sekaligus membantu ekonomi mahasiswa di tengah pandemi karena ada produk yang dapat mereka jual,” ucapnya.

Tidak terhenti dengan riset-riset yang telah dilakukan, Widhiada bersama tim sedang menggarap robot pemilah sampah. Ia mendaptkan ide dari negeri tirai bambu.

“Jadi nanti dengan adanya robot ini, ketika melakukan pemilahan sampah robot berbasis deep learning akan mengetahui sampah organik atau non organik. Sehingga proses pemilahan sampah dapat lebih cepat,” terangnya.

Lebih lanjut Dosen Teknik Mesin ini menambahkan, selama ini yang menjadi masalah hasil dari riset belum diaplikasikan atau belum bisa diproduksi dengan jumlah yang banyak. Lantaran perlu biaya untuk memproduksi secara masal. Ia pun berharap kedepannya ada investor yang mau bekerja sama, sehingga kedepannya masyarakat luas dapat menggunakan hasil risetnya.

“Dengan biaya yang murah, Masyarakat dapat menggunakan hasil riset ini. Apalagi untuk penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan,” harapnya.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/