alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Komoditas Beras Sudah Menjadi Komoditas Politik

DENPASAR, BALI EXPRESS – Berkaitan dengan hiruk-pikuk dan pro-kontra impor beras, Guru Besar pada Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof Wayan Windia menilai masalah beras adalah hal politis. 

Prof Wayan Windia menegaskan harga beras merupakan price-leader, bisa memengaruhi tingkat inflasi, berpengaruh pada jutaan kehidupan petani, bahkan bisa menjatuhkan pemerintah. “Harus diingat, bahwa komoditas beras adalah komoditas politis,” jelasnya, Minggu (28/3).

Dilanjutkannya, Menteri Perdagangan (Mendag) semestinya ada koordinasi yang bagus dengan Manteri Pertanian. “Harus ada koordinasi. Kok tiba-tiba saja nyelonong ngomong akan impor beras. Momentum ngomongnya juga sangat tidak tepat. Yakni justru pada saat petani kita sedang panen raya. Substansi yang dibicarakan bukan substansi yang main-main, yakni tentang komoditas beras,” sambung Windia.

Dalam kesempatan tersebut ia juga menilai secara ideologis, hal itu juga tidak tepat. Karena baru saja Presiden menyatakan bahwa kita harus mencintai produksi dalam negeri. 

“Saya sadar betul saat ini, bahwa banyak para elit, yang sangat concern pada masalah petani, pertanian, beras, dan lainnya. Mungkin karena pengaruh serangan Covid-19. Semua sadar, bahwa pertanian akhirnya menjadi tiang penyangga utama kehidupan kita sebagai bangsa. Bukan industri, bukan pariwisata,” ucapnya.

Windia mengaku kesadaran tentang pentingnya beras dan pertanian, juga sudah mulai muncul di kalangan mikro. Terlebih ia mengetahui anak muda di Subak Intaran (Sanur Kauh), Anak Agung Ketut Gede Aryateja, sedang bekerja keras untuk mengamankan subak dan produksi pertaian di subaknya.

“Jangan lagi dibilang anak-anak muda di Agro Learning Center (ALC), di bawah kepemimpinan Nyoman Bhaskara. Mereka-mereka ini sudah sejak lama bekerja keras, membangun kesadaran baru di kalangan anak muda, tentang pentingnya pertanian,” imbuh Windia.

Sementara pihak konsumen di Indonesia, keenakan terus dimanjakan dengan komoditas hasil pertanian yang murah. Sehingga memungkinkan untuk membuat kebijakan Upah Minimun Regional (UMR) yang juga murah. 

“Hingga kapan kita harus hidup dalam kehidupan ekonomi yang palsu? Apakah menunggu sampai sawah kita harus habis dijual oleh petani, karena memang tidak menguntungkan memelihara sawah,” tanya Windia.

Ia menegaskan, selalu mengatakan bahwa semuanya  harus belajar hidup dengan harga produk pertanian (beras) yang menguntungkan petani. “Jangan selalu ingin hidup dalam zona nyaman, dengan memeras keringat petani,” tandasnya. 

 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Berkaitan dengan hiruk-pikuk dan pro-kontra impor beras, Guru Besar pada Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof Wayan Windia menilai masalah beras adalah hal politis. 

Prof Wayan Windia menegaskan harga beras merupakan price-leader, bisa memengaruhi tingkat inflasi, berpengaruh pada jutaan kehidupan petani, bahkan bisa menjatuhkan pemerintah. “Harus diingat, bahwa komoditas beras adalah komoditas politis,” jelasnya, Minggu (28/3).

Dilanjutkannya, Menteri Perdagangan (Mendag) semestinya ada koordinasi yang bagus dengan Manteri Pertanian. “Harus ada koordinasi. Kok tiba-tiba saja nyelonong ngomong akan impor beras. Momentum ngomongnya juga sangat tidak tepat. Yakni justru pada saat petani kita sedang panen raya. Substansi yang dibicarakan bukan substansi yang main-main, yakni tentang komoditas beras,” sambung Windia.

Dalam kesempatan tersebut ia juga menilai secara ideologis, hal itu juga tidak tepat. Karena baru saja Presiden menyatakan bahwa kita harus mencintai produksi dalam negeri. 

“Saya sadar betul saat ini, bahwa banyak para elit, yang sangat concern pada masalah petani, pertanian, beras, dan lainnya. Mungkin karena pengaruh serangan Covid-19. Semua sadar, bahwa pertanian akhirnya menjadi tiang penyangga utama kehidupan kita sebagai bangsa. Bukan industri, bukan pariwisata,” ucapnya.

Windia mengaku kesadaran tentang pentingnya beras dan pertanian, juga sudah mulai muncul di kalangan mikro. Terlebih ia mengetahui anak muda di Subak Intaran (Sanur Kauh), Anak Agung Ketut Gede Aryateja, sedang bekerja keras untuk mengamankan subak dan produksi pertaian di subaknya.

“Jangan lagi dibilang anak-anak muda di Agro Learning Center (ALC), di bawah kepemimpinan Nyoman Bhaskara. Mereka-mereka ini sudah sejak lama bekerja keras, membangun kesadaran baru di kalangan anak muda, tentang pentingnya pertanian,” imbuh Windia.

Sementara pihak konsumen di Indonesia, keenakan terus dimanjakan dengan komoditas hasil pertanian yang murah. Sehingga memungkinkan untuk membuat kebijakan Upah Minimun Regional (UMR) yang juga murah. 

“Hingga kapan kita harus hidup dalam kehidupan ekonomi yang palsu? Apakah menunggu sampai sawah kita harus habis dijual oleh petani, karena memang tidak menguntungkan memelihara sawah,” tanya Windia.

Ia menegaskan, selalu mengatakan bahwa semuanya  harus belajar hidup dengan harga produk pertanian (beras) yang menguntungkan petani. “Jangan selalu ingin hidup dalam zona nyaman, dengan memeras keringat petani,” tandasnya. 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/