alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Keluar Dari Aliran Sampradaya, Asrham Rada Mahacandra Ditutup

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Asrham Mahacandra di Dusun Bengkel, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng secara resmi dinyatakan ditutup. Penutupan dilakukan oleh pemilik lahan yang digunakan untuk membangun ashram Rada Mahacandra yang berada di dusun Bengkel, Desa Alasangker Kecamatan Buleleng. Terang saja penutupan itu disambut oleh krama desa adat yang notabene telah meminta penutupan ashram tersebut sejak tahun lalu.

 

Sebelumnya, pembangunan Ashram dilakukan pemilik lahan Made Joni Suprapta asal Tabanan yang meminang seorang perempuan dari Desa Alasangker. Made Joni sempat mengajukan izin secara formal ke pemerintah desa sekitar tahun 2013-2014 untuk mendirikan ashram dengan membawa surat-surat kelengkapan dari Kementerian Agama dan PHDI Pusat. Izin itu pun disetujui lantas dibangunlah Asrham tersebut.

 

Namun seiring waktu kegiatan-kegiatan ritual yang dilakukan oleh para penganut aliran Sampradaya itu berbeda dari tradisi adat Bali. Sehingga hal tersebut membuat krama desa adat setempat merasa resah.

 

Pada tahun 28 April 2021, asrham ini telah diminta untuk ditutup melalui surat yang disampaikan oleh desa adat. Pernyataan itu disepakati. Ashram pun ditutup. Namun secara visual ashram tersebut tetap melakukan kegiatan. Desa adat pun mulai terusik lantaran surat keputusan yang disampaikan untuk menutup ashram tidak diindahkan.

 

Seiring waktu pada Senin (28/3) desa adat kembali menegaskan untuk meminta untuk menutup tempat itu. Berhubungan dengan itu, pemilik lahan juga menyatakan mengundurkan diri dari ISKON. Keputusan itu pun dituangkan dalam berita acara dengan menghadirkan pengurus ashram, lembaga keagamaan, lembaga adat, dan krama Desa Alasangker.

 

Dalam paruman yang dilakukan, Krama desa juga menyampaikan dengan tegas menolak keberadaan aliran Sampradaya di desa Alasangker.

 

Perbekel Desa Alasangker Wayan Sitama saat dikonfirmasi via telepon Selasa (29/3) pagi menyebut, persembahyangan atau kegiatan keagamaan yang dilakukan aliran tersebut kerap meresahkan warga. Tidak saja hanya mengundang krama desa setempat tapi juga kerap mendatangkan krama dari luar desa. Sitama pun menganggap kegiatan keagamaan yang dilakukan kurang sesuai dengan tradisi adat Hindu di Bali. “Kegiatan dilakukan secara terselubung. Karena tahun lalu kami sudah minta untuk ditutup. Tapi kenyataannya masih beraktivitas. Memang warga kami ada yang mengikuti itu tapi hanya beberapa KK saja. Kebanyakan dari luar,” tegasnya.

 

Sutama pun mengakui kekecewaan atas warganya yang menganut aliran tersebut. Akan tetapi hal tersebut telah menjadi keputusan bersama dari desa adat. “Kami harap keputusan ini dapat diterima. Kami melakukan ini agar tradisi adat Bali tetap pada jalurnya. Karena yang dilakukan oleh aliran tersebut sangat berbeda dengan tradisi kita di Bali,” tutupnya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Asrham Mahacandra di Dusun Bengkel, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng secara resmi dinyatakan ditutup. Penutupan dilakukan oleh pemilik lahan yang digunakan untuk membangun ashram Rada Mahacandra yang berada di dusun Bengkel, Desa Alasangker Kecamatan Buleleng. Terang saja penutupan itu disambut oleh krama desa adat yang notabene telah meminta penutupan ashram tersebut sejak tahun lalu.

 

Sebelumnya, pembangunan Ashram dilakukan pemilik lahan Made Joni Suprapta asal Tabanan yang meminang seorang perempuan dari Desa Alasangker. Made Joni sempat mengajukan izin secara formal ke pemerintah desa sekitar tahun 2013-2014 untuk mendirikan ashram dengan membawa surat-surat kelengkapan dari Kementerian Agama dan PHDI Pusat. Izin itu pun disetujui lantas dibangunlah Asrham tersebut.

 

Namun seiring waktu kegiatan-kegiatan ritual yang dilakukan oleh para penganut aliran Sampradaya itu berbeda dari tradisi adat Bali. Sehingga hal tersebut membuat krama desa adat setempat merasa resah.

 

Pada tahun 28 April 2021, asrham ini telah diminta untuk ditutup melalui surat yang disampaikan oleh desa adat. Pernyataan itu disepakati. Ashram pun ditutup. Namun secara visual ashram tersebut tetap melakukan kegiatan. Desa adat pun mulai terusik lantaran surat keputusan yang disampaikan untuk menutup ashram tidak diindahkan.

 

Seiring waktu pada Senin (28/3) desa adat kembali menegaskan untuk meminta untuk menutup tempat itu. Berhubungan dengan itu, pemilik lahan juga menyatakan mengundurkan diri dari ISKON. Keputusan itu pun dituangkan dalam berita acara dengan menghadirkan pengurus ashram, lembaga keagamaan, lembaga adat, dan krama Desa Alasangker.

 

Dalam paruman yang dilakukan, Krama desa juga menyampaikan dengan tegas menolak keberadaan aliran Sampradaya di desa Alasangker.

 

Perbekel Desa Alasangker Wayan Sitama saat dikonfirmasi via telepon Selasa (29/3) pagi menyebut, persembahyangan atau kegiatan keagamaan yang dilakukan aliran tersebut kerap meresahkan warga. Tidak saja hanya mengundang krama desa setempat tapi juga kerap mendatangkan krama dari luar desa. Sitama pun menganggap kegiatan keagamaan yang dilakukan kurang sesuai dengan tradisi adat Hindu di Bali. “Kegiatan dilakukan secara terselubung. Karena tahun lalu kami sudah minta untuk ditutup. Tapi kenyataannya masih beraktivitas. Memang warga kami ada yang mengikuti itu tapi hanya beberapa KK saja. Kebanyakan dari luar,” tegasnya.

 

Sutama pun mengakui kekecewaan atas warganya yang menganut aliran tersebut. Akan tetapi hal tersebut telah menjadi keputusan bersama dari desa adat. “Kami harap keputusan ini dapat diterima. Kami melakukan ini agar tradisi adat Bali tetap pada jalurnya. Karena yang dilakukan oleh aliran tersebut sangat berbeda dengan tradisi kita di Bali,” tutupnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/