Rabu, 01 Dec 2021
Bali Express
Home / Bali
icon featured
Bali

Terdampak Covid-19, Mega Jualan Canang di Tengah Keterbatasan Fisik

29 April 2020, 18: 41: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

Terdampak Covid-19, Mega Jualan Canang  di Tengah Keterbatasan Fisik

GIGIH : Mega Cahyani membuat canang untuk dijual demi memenuhi kebutuhan keluarganya di tengan pandemi Covid-19, Rabu (29/4). (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS – Perjuangan perempuan yang satu ini memang patut diacungi jempol. Di tengah pandemic Covid-19 yang membuat perekonomian terpuruk, ia tetap berjuang untuk bisa hidup bersama keluarga kecilnya. Apalagi sang suami yang menjadi tulang punggung keluarga kini hanya bisa diam di rumah lantaran terdampak Covid-19. Hebatnya lagi, perempuan ini tak putus asa untuk bisa menghasilkan pundi rupiah meskipun mengalami keterbatasan fisik yakni tangan kirinya yang diamputasi akibat kecelakaan 7 tahun lalu.

Ia adalah Luh De Mega Cahyani Dewi, 22, asal Banjar Sekar Gula, Desa Mekarsari, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Perempuan berparas ayu ini mendadak viral setelah diposting di beberapa akun media sosial. Dalam postingannya tersebut ia menjual canang buatannya lengkap dengan sebuah video saat dirinya membuat canang. Video tersebut tak pelak membuat siapapun yang menontonnya takjub, sebab dengan keterbatasan fisik, perempuan yang akrab disapa Mega ini begitu luwes ‘nues’ canang dari janur. Meskipun tangan kiri Mega diamputasi, namun ia tampak tak kesulitan menyelesaikan pembuatan canang tersebut.

Baca juga: Nekat Mencuri di Asrama TNI Banyuning, Pelaku Didor

Mega bertahan hidup, dengan menjual canang secara online (Istimewa)

Kepada Bali Express Jawa Pos Group, Mega menuturkan bahwa ia mulai berjualan canang sejak sang suami, I Kadek Agus Feryanto yang berprofesi sebagai sopir freelance, tidak lagi memiliki pemasukan akibat terdampak Covid-19. Sedangkan mereka harus tetap bertahan hidup, dan membeli susu serta popok untuk putri semata wayang mereka, Putu Dinar Ayu Azalea.“ Pemasukan suami sudah 0 persen, sehingga saya berinisiatif berjualan telur dan canang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan anak kami,” ungkapnya, Rabu (29/4).

Sebelumnya, Mega hanya bertugas menjaga sang anak sambil melanjutkan kuliah secara online dari kamar kos sederhana yang mereka huni di Perumahan Taman Sri Wedari, Tabanan. Di samping itu, memang tak banyak hal yang bisa dilakukan oleh Mega sejak tangan kirinya diamputasi karena kecelakaan tragis 7 tahun lalu. Ia masih ingat betul kala itu tanggal 25 Februari 2013, sebuah kecelakaan telah merubah hidupnya. Mega yang duduk di kelas 3 SMP bolos mengikuti pembelajaran tambahan untuk mempersiapkan Ujian Nasional dan pergi ke rumah temannya di kawasan Bedugul. Meskipun ia harus kehilangan tangan kirinya, namun ia tetap bersyukur karena nyawanya masih bisa diselamatkan.“Waktu itu jalanan macet, di depan saya ada bus pariwisata jadi pandangan ke arah berlawanan agak terhalang, sedangkan saya hendak menyalip, dan ternyata dari arah berlawanan ada mobil. Saya kaget dan terjatuh, tangan kiri saya terlindas ban bus dan harus diamputasi,” tuturnya.

Ia pun hampir kehilangan nyawanya jika saja bus pariwisata itu tetap melaju dan melindas kepala Mega yang kala itu tidak mengenakan helm. Padahal sebelum berangkat sekolah, ia sendiri sudah diperingatkan oleh sang ibu untuk bersembahyang karena ibunya memiliki firasat buruk. Namun hal itu tak dihiraukan Mega. Kini hanya tinggal sesal. Namun perempuan gigih ini tak mau terpuruk dalam kesedihan. Ia pun bangkit menjalani kehidupannya dengan penuh harapan.

Dengan penuh semangat ia menawarkan canang dan telur yang ia buat melalui media sosial miliknya. Kendatipun tangan kirinya diamputasi, Mega mengaku tak kesulitan saat membuat canang. Justru kendala yang ia alami saat membuat canang adalah menjaga sang anak. Terkadang ia bergantian dengan sang suami untuk menjaga putri mereka, atau menunggu sang anak tidur sebelum bisa membuat canang. “Ya harus nunggu anak tidur dulu atau gentian dengan suami, karena anak saya sekarang sedang aktif-aktifnya,” imbuhnya.

Dalam sehari rata-rata Mega bisa membuat 250 buah canang ceper atau tergantung orderan karena jika menyetok banyak canang, ia takut canang akan cepat busuk dan layu. “Sehari dapat pesanan 10 bungkus isian 25, harganya beda-beda. Kalau ceper sebakan Rp 12 ribu per 25 biji, kalau ceper bungkulan Rp 20 ribu per 25 biji," tandasnya.

(bx/ras/man/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia