alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

“Penghuni” Eks RSU Bangli Tidak Berkenan Bangunan Dibongkar

Hampir 10 tahun, gedung eks Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli ditelantarkan. Menurut kepercayaan warga, apabila bangunan dibiarkan kosong bertahun-tahun, tidak menutup kemungkinan akan menjadi bangunan angker. Apa yang mesti dilakukan?

 

AGUS EKA PURNA NEGARA, Bangli

 

TIDAK siang, tidak juga malam. Bangunan tua yang dulunya jadi rumah sakit, kini nampak makin seram saja. Gedung yang bersebelahan dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali itu, belakangan jadi buah bibir karena dianggap angker.

Meski begitu, pernyataan warga kontradiktif. Satu sisi percaya dengan keberadaan makhluk astral, sebagian lagi tidak percaya. Alasan tidak percaya karena warga tak pernah merasakan apa-apa, meski sudah bertahun-tahun berdampingan dengan gedung itu.

“Saya pernah tidur di dalam. Gak ada apa. Saya puluhan tahun di sini. Biasa sampai petang jualan, tapi tetap aja biasa rasanya,” kata penjual bakso yang mangkal di depan bangunan tersebut.

Warga Banjar Kawan, Kelurahan Kawan juga menyayangkan kondisi gedung yang menyeramkan. Tidak itu saja, apabila gedung dibiarkan lama kosong, warga khawatir orang-orang memanfaatkannya untuk berbuat buruk, misalnya berbuat mesum.

“Saya tegaskan, ya. Kemungkinan orang berbuat mesum, belum bisa dipercaya. Itu baru perkataan sebagian orang ke saya. Saya sendiri juga belum pernah melihat. Kalau saya lihat, mungkin saya giring. Itu pun kalau warga tahu, bisa dilempari batu,” kata Nengah Sujena, Kepala Lingkungan Banjar Kawan.

Sujena mengungkapkan keinginannya supaya bangunan itu cepat difungsikan. “Saya berharap biar gak dijadikan tempat yang aneh-aneh nanti. Kan bagus kalau ada taman, mana mungkin ada yang berani berbuat aneh,” kata Sujena menegaskan.

Terlepas dari itu, penelusuran gaib beberapa kali pernah dilakukan. Banyak pihak yang melakukan ekspedisi alam gaib di bangunan yang dibangun di era pemerintahan kolonial Belanda tersebut. Jawaban tentang keberadaan dimensi lain memang muncul dari kegiatan itu. 

“Mungkin ada beberapa alasan, pemerintah lama menanggapi. Itu juga saya rasakan. Ada seperti ketakutan, kekhawatiran untuk bangunan dibongkar. Saya susah menjelaskannya,” ucap Fino Akbar, salah seorang penekun spiritual dari Denpasar. Fino sudah dua kali meninjau bangunan itu. “Makanya jawaban mereka (makhluk) tetap sama. Gak berkenan bangunan ini dibongkar,” kata Fino, menyampaikan hasil kontak batin.

Satu-satunya cara agar bangunan itu tidak tampak seram adalah dengan memanfaatkannya. Kata Fino, gedung ini ditata dan dijadikan gedung perkantoran. Atau bahkan museum. “Warga kan keberatan bangunannya tidak terawat begini. Warga kan tidak mau ada bangunan kumal di tengah kota, ya kan? Kalau tidak bisa dibongkar, lebih baik difungsikan lagi,” saran pria yang beberapa kali melakukan ekspedisi alam gaib hingga luar Bali ini.

Peryataan itu bukan tanpa alasan. Ketika koran ini ikut bersama tim penelusuran alam gaib, beberapa mediator sempat kerasukan sosok astral. Usianya diperkirakan berabad-abad. Kata mediator, rata-rata sosok mereka besar, hitam, dan berbulu. Mereka menyampaikan agar bangunan tidak dibongkar. “Ba luung dini. Ngudiang buin nagih nguwugin? (Sudah bagus di sini, kenapa ingin dibongkar?),” kata makhluk astral ketika bersemayam di tubuh Nita, salah seorang mediator.

Para ahli metafisika itu kemudian berkeliling menelusuri semua lorong. Suasana yang paling mencekam ada di ruang cempaka. Begitu juga bekas gudang obat, ruang cuci, dan ruang gizi. Anehnya, ketika tim memasuki ruang jenazah, energi yang ditimbulkan justru tak seberapa.

“Ya aneh memang. Malah energi yang kuat di sini ada di lorong dekat ruang gizi. Ada sosok hitam, ada anak kecil, ada pria berwajah rusak. Tadi saya juga sempat ada wajah menempel di dinding. Kemudian masuk lagi,” kata Fino.

Di lorong dekat kamar jenazah, bau-bau anyir mulai tercium. Kadang-kadang bau bunga. Beberapa di antara kami juga mencium aroma seperti singkong bakar, hingga bau terasi. Tidak itu saja, ketika kami hendak pulang, kami disambut lemparan kerikil di ujung lorong. Entah dari mana asalnya. Yang jelas bukan dari warga karena lokasi pemukiman dengan lorong sangat jauh juga berkelok.

Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur itu, ingin meyakinkan, bahwa memang benar banyak makhluk astral yang menempati bekas gedung rumah sakit Bangli. Fino juga tak menampik, memang ada perilaku menyimpang anak muda yang dilakukan di tempat itu. “Saya tidak tahu warga sana atau bukan. Tapi penerawangan saya memamg demikian. Kita ambil hikmahnya saja, supaya bangunan ini tidak dijadikan tempat aneh. Semoga pemerintah bisa memikirkan hal ini,” pungkas Fino.


Hampir 10 tahun, gedung eks Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli ditelantarkan. Menurut kepercayaan warga, apabila bangunan dibiarkan kosong bertahun-tahun, tidak menutup kemungkinan akan menjadi bangunan angker. Apa yang mesti dilakukan?

 

AGUS EKA PURNA NEGARA, Bangli

 

TIDAK siang, tidak juga malam. Bangunan tua yang dulunya jadi rumah sakit, kini nampak makin seram saja. Gedung yang bersebelahan dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali itu, belakangan jadi buah bibir karena dianggap angker.

Meski begitu, pernyataan warga kontradiktif. Satu sisi percaya dengan keberadaan makhluk astral, sebagian lagi tidak percaya. Alasan tidak percaya karena warga tak pernah merasakan apa-apa, meski sudah bertahun-tahun berdampingan dengan gedung itu.

“Saya pernah tidur di dalam. Gak ada apa. Saya puluhan tahun di sini. Biasa sampai petang jualan, tapi tetap aja biasa rasanya,” kata penjual bakso yang mangkal di depan bangunan tersebut.

Warga Banjar Kawan, Kelurahan Kawan juga menyayangkan kondisi gedung yang menyeramkan. Tidak itu saja, apabila gedung dibiarkan lama kosong, warga khawatir orang-orang memanfaatkannya untuk berbuat buruk, misalnya berbuat mesum.

“Saya tegaskan, ya. Kemungkinan orang berbuat mesum, belum bisa dipercaya. Itu baru perkataan sebagian orang ke saya. Saya sendiri juga belum pernah melihat. Kalau saya lihat, mungkin saya giring. Itu pun kalau warga tahu, bisa dilempari batu,” kata Nengah Sujena, Kepala Lingkungan Banjar Kawan.

Sujena mengungkapkan keinginannya supaya bangunan itu cepat difungsikan. “Saya berharap biar gak dijadikan tempat yang aneh-aneh nanti. Kan bagus kalau ada taman, mana mungkin ada yang berani berbuat aneh,” kata Sujena menegaskan.

Terlepas dari itu, penelusuran gaib beberapa kali pernah dilakukan. Banyak pihak yang melakukan ekspedisi alam gaib di bangunan yang dibangun di era pemerintahan kolonial Belanda tersebut. Jawaban tentang keberadaan dimensi lain memang muncul dari kegiatan itu. 

“Mungkin ada beberapa alasan, pemerintah lama menanggapi. Itu juga saya rasakan. Ada seperti ketakutan, kekhawatiran untuk bangunan dibongkar. Saya susah menjelaskannya,” ucap Fino Akbar, salah seorang penekun spiritual dari Denpasar. Fino sudah dua kali meninjau bangunan itu. “Makanya jawaban mereka (makhluk) tetap sama. Gak berkenan bangunan ini dibongkar,” kata Fino, menyampaikan hasil kontak batin.

Satu-satunya cara agar bangunan itu tidak tampak seram adalah dengan memanfaatkannya. Kata Fino, gedung ini ditata dan dijadikan gedung perkantoran. Atau bahkan museum. “Warga kan keberatan bangunannya tidak terawat begini. Warga kan tidak mau ada bangunan kumal di tengah kota, ya kan? Kalau tidak bisa dibongkar, lebih baik difungsikan lagi,” saran pria yang beberapa kali melakukan ekspedisi alam gaib hingga luar Bali ini.

Peryataan itu bukan tanpa alasan. Ketika koran ini ikut bersama tim penelusuran alam gaib, beberapa mediator sempat kerasukan sosok astral. Usianya diperkirakan berabad-abad. Kata mediator, rata-rata sosok mereka besar, hitam, dan berbulu. Mereka menyampaikan agar bangunan tidak dibongkar. “Ba luung dini. Ngudiang buin nagih nguwugin? (Sudah bagus di sini, kenapa ingin dibongkar?),” kata makhluk astral ketika bersemayam di tubuh Nita, salah seorang mediator.

Para ahli metafisika itu kemudian berkeliling menelusuri semua lorong. Suasana yang paling mencekam ada di ruang cempaka. Begitu juga bekas gudang obat, ruang cuci, dan ruang gizi. Anehnya, ketika tim memasuki ruang jenazah, energi yang ditimbulkan justru tak seberapa.

“Ya aneh memang. Malah energi yang kuat di sini ada di lorong dekat ruang gizi. Ada sosok hitam, ada anak kecil, ada pria berwajah rusak. Tadi saya juga sempat ada wajah menempel di dinding. Kemudian masuk lagi,” kata Fino.

Di lorong dekat kamar jenazah, bau-bau anyir mulai tercium. Kadang-kadang bau bunga. Beberapa di antara kami juga mencium aroma seperti singkong bakar, hingga bau terasi. Tidak itu saja, ketika kami hendak pulang, kami disambut lemparan kerikil di ujung lorong. Entah dari mana asalnya. Yang jelas bukan dari warga karena lokasi pemukiman dengan lorong sangat jauh juga berkelok.

Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur itu, ingin meyakinkan, bahwa memang benar banyak makhluk astral yang menempati bekas gedung rumah sakit Bangli. Fino juga tak menampik, memang ada perilaku menyimpang anak muda yang dilakukan di tempat itu. “Saya tidak tahu warga sana atau bukan. Tapi penerawangan saya memamg demikian. Kita ambil hikmahnya saja, supaya bangunan ini tidak dijadikan tempat aneh. Semoga pemerintah bisa memikirkan hal ini,” pungkas Fino.


Most Read

Artikel Terbaru

/