alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Banyupinaruh, Pantai di Badung Dijaga Ketat

MANGUPURA, BALI EXPRESS- Perayaan Banyupinaruh, umat Hindu biasanya menyambangi pantai untuk melakukan malukat. Namun berbeda dengan saat ini.  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mengakibatkan umat Hindu di Badung diimbau tidak ke pantai, Minggu (29/8).

Selain pelaksanaan pengelukatan Banyupinaruh, pelaksanaan upacara Saraswati sehari sebelumnya dilaksanakan di rumah masing-masing. Itu sesuai dengan surat edaran bersama PHDI Bali dan MDA Bali nomor 076/PHDI- Bali/VIII/2021 dan Nomer 008/SE/MDA-Prov Bali/VIII/2021 tanggal 8 Agustus 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya Dalam Masa Gering Agung Covid-19 di Provinsi Bali. 

Bendesa Madya MDA Kabupaten Badung Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, selaku MDA Badung wajib menindaklanjuti imbauan tersebut. Masyarakat diharapkan ikut berperan aktif dalam melakukan pencegahan, sehingga tidak terjadi kluster penularan Covid-19. “Terkait larangan ke pantai pada saat Banyupinaruh agar tidak terjadi kerumunan, sehingga tidak lagi muncul kluster baru,” ujar Sutarja Minggu.

Selaku Bendesa Adat Kerobokan, Sutarja menjelaskan, pihaknya juga telah melakukan penjagaan dan pengawasan di Pantai Petitenget, bekerja sama dengan TNI dan Polri. “Penjagaan kami dari pecalang adat Kerobokan yang dimulai sejak Hari Saraswati sampai Hari Raya Pangerwesi. Dari penjagaan tersebut dibagi menjadi 3 sif,” jelasnya sembari mengatakan dari penjagaan yang dilakukan di Pantai Petitenget, tidak ada masyarakat yang mendatangi pantai untuk melakukan pengelukatan. 

Secara terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung I Gusti Agung Ketut Suryanegara mengatakan, bertepatan Banyupinaruh pihaknya melakukan penjagaan di 9 pantai yang ada di Kabupten Badung. Kegiatan ini untuk memperketat akses ke pantai agar tidak ada acara malukat ke pantai atau pancoran. “Kami juga bersinergi bersama Polisi dan TNI. Menjadi atensi bersama untuk mengawasi pantai atau tempat-tempat pancoran agar tidak terjadi kerumunan,” ungkap Suryanegara. 

Penjagaan yang dilakukan, jelas Suryanegara, mulai dari pantai Samuh Nusa Dua, Pantai Labuhan Sait, Pantai Jimbaran, Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Seminyak, Pantai Petienget, Pantau Berawa, Pantai Perancak, Pantai Batu Bolong, Pantai Pererenan, Pantai Cemagi, dan Pantai Munggu. Kegiatan ini juga bersinergi bersama Pecalang, Jagabaya, penjaga pantai, dan Linmas. “Kani menempatkan minimal 2 sampai dengan 4 orang per tempat tersebut. Jadi melibatkan sampai 62 orang,” beber birokrat asal Denpasar tersebut. 

Kendati sudah dilarang untuk memasuki pantai, sejumlah masyarakat juga mencoba untuk menerobos masuk. Namun setelah mendapatkan penjelasan, kata Suryanegara, masyarakat sudah memahami dan membatalkan niatnya ke pantai. (esa)

 


MANGUPURA, BALI EXPRESS- Perayaan Banyupinaruh, umat Hindu biasanya menyambangi pantai untuk melakukan malukat. Namun berbeda dengan saat ini.  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mengakibatkan umat Hindu di Badung diimbau tidak ke pantai, Minggu (29/8).

Selain pelaksanaan pengelukatan Banyupinaruh, pelaksanaan upacara Saraswati sehari sebelumnya dilaksanakan di rumah masing-masing. Itu sesuai dengan surat edaran bersama PHDI Bali dan MDA Bali nomor 076/PHDI- Bali/VIII/2021 dan Nomer 008/SE/MDA-Prov Bali/VIII/2021 tanggal 8 Agustus 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya Dalam Masa Gering Agung Covid-19 di Provinsi Bali. 

Bendesa Madya MDA Kabupaten Badung Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, selaku MDA Badung wajib menindaklanjuti imbauan tersebut. Masyarakat diharapkan ikut berperan aktif dalam melakukan pencegahan, sehingga tidak terjadi kluster penularan Covid-19. “Terkait larangan ke pantai pada saat Banyupinaruh agar tidak terjadi kerumunan, sehingga tidak lagi muncul kluster baru,” ujar Sutarja Minggu.

Selaku Bendesa Adat Kerobokan, Sutarja menjelaskan, pihaknya juga telah melakukan penjagaan dan pengawasan di Pantai Petitenget, bekerja sama dengan TNI dan Polri. “Penjagaan kami dari pecalang adat Kerobokan yang dimulai sejak Hari Saraswati sampai Hari Raya Pangerwesi. Dari penjagaan tersebut dibagi menjadi 3 sif,” jelasnya sembari mengatakan dari penjagaan yang dilakukan di Pantai Petitenget, tidak ada masyarakat yang mendatangi pantai untuk melakukan pengelukatan. 

Secara terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung I Gusti Agung Ketut Suryanegara mengatakan, bertepatan Banyupinaruh pihaknya melakukan penjagaan di 9 pantai yang ada di Kabupten Badung. Kegiatan ini untuk memperketat akses ke pantai agar tidak ada acara malukat ke pantai atau pancoran. “Kami juga bersinergi bersama Polisi dan TNI. Menjadi atensi bersama untuk mengawasi pantai atau tempat-tempat pancoran agar tidak terjadi kerumunan,” ungkap Suryanegara. 

Penjagaan yang dilakukan, jelas Suryanegara, mulai dari pantai Samuh Nusa Dua, Pantai Labuhan Sait, Pantai Jimbaran, Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Seminyak, Pantai Petienget, Pantau Berawa, Pantai Perancak, Pantai Batu Bolong, Pantai Pererenan, Pantai Cemagi, dan Pantai Munggu. Kegiatan ini juga bersinergi bersama Pecalang, Jagabaya, penjaga pantai, dan Linmas. “Kani menempatkan minimal 2 sampai dengan 4 orang per tempat tersebut. Jadi melibatkan sampai 62 orang,” beber birokrat asal Denpasar tersebut. 

Kendati sudah dilarang untuk memasuki pantai, sejumlah masyarakat juga mencoba untuk menerobos masuk. Namun setelah mendapatkan penjelasan, kata Suryanegara, masyarakat sudah memahami dan membatalkan niatnya ke pantai. (esa)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/