alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Cacat Hukum, Jerinx Minta Hakim Tolak Dakwaan Jaksa

DENPASAR BALI EXPRESS-Sidang kasus ujaran kebencian dengan terdakwa I Gede Ari Astina alias Jerinx dilanjutkan secara virtual, Selasa (29/9). Untuk terdakwa Jerinx didampingi tim penasihat hukumnya tetap di Polda Bali, sedangkan majelis hakim di PN Denpasar. Tim penuntut umum di Kejari Denpasar. 

Pada sidang lanjutan dengan agenda penyampaian nota keberatan atas dakwaan jaksa (eksepsi) itu, Jerinx melalui tim pembelanya berkesempatan ‘menguliti’ dakwaan jaksa yang dibacakan pada sidang minggu lalu.

Pada intinya, Jerinx melalui tim pembelanya menolak tuduhan jaksa bahwa ia telah melakukan tindak pidana pencemaran melalui postingan di akun medsosnya. 

Apa yang dilakukan Jerinx itu sebagai bentuk kritik atas penanganan wabah Corona yang dilakukan pemerintah. Kata Jerinx, yang juga drummer grup Superman Is Dead ini,  pemerintah telah gagal dalam menanggulangi penyebaran virus Covid-19. “Kebijakan pemerintah selalu berubah ubah, ” tuding Jerinx dalam eksepsinya. 

Adapun terkait delik perkaranya, Jerinx lebih tegas lagi. Ia mempersoalkan proses hukum yang dilakukan Dit Krimsus Polda Bali. Hanya berselang beberapa hari dari laporan dokter I Gede Putra mewakili Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat, Jerinx langsung disidik, Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dikirimkan ke Kejati Bali untuk dilanjutkan penyidikannya.

“Jerinx tidak diberikan kesempatan sedikitpun menyampaikan klarifikasi,” tegas tim pembela Jerinx yang dikoordinatori Wayan Gendo Suardana. 

Oleh karena proses hukum dari awal sudah cacat, tim pembela Jerinx menilai surat dakwaan jaksa kabur, cacat hukum (obscur libel). “Kami minta dakwaan dibatalkan atau ditolak,” harap pembela Jerinx pada majelis hakim yang diketuai IA Adnya Dewi beranggotakan Made Pasek dan Dewa Budiwatsara. 

Selain itu, sambung pembela Jerinx, antara dakwaan kesatu dan kedua tidak ada perbedaan. Menurutnya, bila dakwaan disusun alternatif antara kesatu dan kedua ada perbedaan.

Parahnya lagi, dalam dakwaan disebutkan pasal penghinaan, sementara korbannya sendiri tidak jelas. Sementara pasal yang dipakai menjerat Jerinx bukan untuk  penghinaan perorangan, sedangkan dalam dakwaan yang merasa korban  organisasi.

“Dakwaan tidak mengacu pasal 143 KUHAP, karenanya harus ditolak atau dibatalkan,” tegas pembela Jerinx. 


DENPASAR BALI EXPRESS-Sidang kasus ujaran kebencian dengan terdakwa I Gede Ari Astina alias Jerinx dilanjutkan secara virtual, Selasa (29/9). Untuk terdakwa Jerinx didampingi tim penasihat hukumnya tetap di Polda Bali, sedangkan majelis hakim di PN Denpasar. Tim penuntut umum di Kejari Denpasar. 

Pada sidang lanjutan dengan agenda penyampaian nota keberatan atas dakwaan jaksa (eksepsi) itu, Jerinx melalui tim pembelanya berkesempatan ‘menguliti’ dakwaan jaksa yang dibacakan pada sidang minggu lalu.

Pada intinya, Jerinx melalui tim pembelanya menolak tuduhan jaksa bahwa ia telah melakukan tindak pidana pencemaran melalui postingan di akun medsosnya. 

Apa yang dilakukan Jerinx itu sebagai bentuk kritik atas penanganan wabah Corona yang dilakukan pemerintah. Kata Jerinx, yang juga drummer grup Superman Is Dead ini,  pemerintah telah gagal dalam menanggulangi penyebaran virus Covid-19. “Kebijakan pemerintah selalu berubah ubah, ” tuding Jerinx dalam eksepsinya. 

Adapun terkait delik perkaranya, Jerinx lebih tegas lagi. Ia mempersoalkan proses hukum yang dilakukan Dit Krimsus Polda Bali. Hanya berselang beberapa hari dari laporan dokter I Gede Putra mewakili Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat, Jerinx langsung disidik, Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dikirimkan ke Kejati Bali untuk dilanjutkan penyidikannya.

“Jerinx tidak diberikan kesempatan sedikitpun menyampaikan klarifikasi,” tegas tim pembela Jerinx yang dikoordinatori Wayan Gendo Suardana. 

Oleh karena proses hukum dari awal sudah cacat, tim pembela Jerinx menilai surat dakwaan jaksa kabur, cacat hukum (obscur libel). “Kami minta dakwaan dibatalkan atau ditolak,” harap pembela Jerinx pada majelis hakim yang diketuai IA Adnya Dewi beranggotakan Made Pasek dan Dewa Budiwatsara. 

Selain itu, sambung pembela Jerinx, antara dakwaan kesatu dan kedua tidak ada perbedaan. Menurutnya, bila dakwaan disusun alternatif antara kesatu dan kedua ada perbedaan.

Parahnya lagi, dalam dakwaan disebutkan pasal penghinaan, sementara korbannya sendiri tidak jelas. Sementara pasal yang dipakai menjerat Jerinx bukan untuk  penghinaan perorangan, sedangkan dalam dakwaan yang merasa korban  organisasi.

“Dakwaan tidak mengacu pasal 143 KUHAP, karenanya harus ditolak atau dibatalkan,” tegas pembela Jerinx. 


Most Read

Artikel Terbaru

/