alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Ikuti SE Kemenkes, Harga Tes PCR di RSD Mangusada Turun

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menurunkan biaya Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menjadi Rp 275 ribu. Sebagai salah satu rumah sakit milik pemerintah RSD Mangusada pun telah menurunkan biaya RT-PCR sesuai dengan kebijakan pemerintah. Namun penurunan biaya terebut, dianggap tidak merugikan rumah sakit.

 

Plt, Direktur RSD Mangusada dr. Ketut Japa, saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya selaku rumah sakit milik daerah mengikuti kebijakan yang telah dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Bahkan setelah ketentuan kebijakan tersebut diterbitkan pihaknya telah menurunkan biaya RT-PCR.

 

“Setelah keluar Surat Edaran dari Kemenkes, saya langsung instruksikan agar di RSD Mangusada menerapkan biaya PCR Rp 275 ribu. Hari ini sudah diterapkan,” ujar dr. Japa, Kamis (28/10).

 

Selain harga yang telah diturunkan, dr. Japa membeberkan, waktu pengecekan sampel dilakukan selama satu kali 24 jam. Sedangkan untuk masa berlakunya hasil PCR selama 3×24 jam setelah hasil tes keluar.

 

“Kalau kami di rumah sakit pemerintah, berapapun yang ditentukan pemerintah kami tidak berani melanggar. Kalau dulunya maksimal Rp 500 ribu kini turun menjadi Rp 275 ribu kami harus ikuti,” ungkapnya.

 

Menurutnya, kebijakan tersebut tidak merugikan rumah sakit. Pasalnya RSD Mangusada telah menerima bantuan mesin dan reagen yang digunakan untuk tes PCR. Selain itu perhitungan pengeluaran dalam sekali tes PCR juga sudah diberikan oleh Kemenkes.

 

“Jadi karena kami banyak menerima subsidi dari Pemerintah biaya yang turun tidak menyebabkan kerugian. Kecuali umpamanya rumah sakit Swasta, mereka membeli sendiri mesin, reagen dan barang habis pakai untuk tes PCR mungkin lain lagi masalahnya,” jelasnya.

 

Lebih lanjut dr. Japa menambahkan, bahwa subsidi yang diberikan oleh pemerintah sudah diterima semenjak awal tahun 2021. Namun selama tiga bulan terakhir pihaknya mengaku, harus membeli reagen dan alat habis pakai untuk tes PCR. Seperti diantaranya, alat untuk pengambilan sampel, sarung tangan medis, masker, dan APD lainnya. “Kalau dulu memang semuanya diberikan, tapi walaupun tidak diberikan lagi kami akan berusaha untuk melengkapi,” pungkasnya.


MANGUPURA, BALI EXPRESS – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menurunkan biaya Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menjadi Rp 275 ribu. Sebagai salah satu rumah sakit milik pemerintah RSD Mangusada pun telah menurunkan biaya RT-PCR sesuai dengan kebijakan pemerintah. Namun penurunan biaya terebut, dianggap tidak merugikan rumah sakit.

 

Plt, Direktur RSD Mangusada dr. Ketut Japa, saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya selaku rumah sakit milik daerah mengikuti kebijakan yang telah dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Bahkan setelah ketentuan kebijakan tersebut diterbitkan pihaknya telah menurunkan biaya RT-PCR.

 

“Setelah keluar Surat Edaran dari Kemenkes, saya langsung instruksikan agar di RSD Mangusada menerapkan biaya PCR Rp 275 ribu. Hari ini sudah diterapkan,” ujar dr. Japa, Kamis (28/10).

 

Selain harga yang telah diturunkan, dr. Japa membeberkan, waktu pengecekan sampel dilakukan selama satu kali 24 jam. Sedangkan untuk masa berlakunya hasil PCR selama 3×24 jam setelah hasil tes keluar.

 

“Kalau kami di rumah sakit pemerintah, berapapun yang ditentukan pemerintah kami tidak berani melanggar. Kalau dulunya maksimal Rp 500 ribu kini turun menjadi Rp 275 ribu kami harus ikuti,” ungkapnya.

 

Menurutnya, kebijakan tersebut tidak merugikan rumah sakit. Pasalnya RSD Mangusada telah menerima bantuan mesin dan reagen yang digunakan untuk tes PCR. Selain itu perhitungan pengeluaran dalam sekali tes PCR juga sudah diberikan oleh Kemenkes.

 

“Jadi karena kami banyak menerima subsidi dari Pemerintah biaya yang turun tidak menyebabkan kerugian. Kecuali umpamanya rumah sakit Swasta, mereka membeli sendiri mesin, reagen dan barang habis pakai untuk tes PCR mungkin lain lagi masalahnya,” jelasnya.

 

Lebih lanjut dr. Japa menambahkan, bahwa subsidi yang diberikan oleh pemerintah sudah diterima semenjak awal tahun 2021. Namun selama tiga bulan terakhir pihaknya mengaku, harus membeli reagen dan alat habis pakai untuk tes PCR. Seperti diantaranya, alat untuk pengambilan sampel, sarung tangan medis, masker, dan APD lainnya. “Kalau dulu memang semuanya diberikan, tapi walaupun tidak diberikan lagi kami akan berusaha untuk melengkapi,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/