alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Penggunaan Plastik Sekali Pakai Masih Tinggi, Plastic Exchange Terima Makin Banyak Sampah Plastik

GIANYAR, BALI EXPRESS – Meskipun pemerintah telah mengeluarkan Pergub Bali nomor 97 tahun 2018 tentang pembatasan timbunan sampah plastik, namun ternyata penggunaan plastik sekali pakai di kalangan masyarakat masih cukup tinggi. Hal itu tercermin dari hasil kegiatan Plastik Exchange atau penukaran sampah plastik dengan beras atau sembako dan bank sampah khususnya wilayah Gianyar yang jumlah sampah plastiknya semakin meningkat.

Diantaranya terpantau di Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Minggu (30/1). Dimana kegiatan plastik exchange yang berlangsung menunjukan sampah plastik sekali pakai yang berhasil dikumpulkan mencapai 2,206 kilogram. Dari 151 peserta, total material keseluruhan 3,803 kilogram. Dimana sampah plastik jenis kresek sekali pakai mendominasi perolehan material. Rinciannya plastik kresek 2,206 kg, botol plastik 613 kg, rongsokan campura 327 kg, Kardus 357 kg, kertas 30 kg, logam 126 kg, botol 62 kg, lain-lain 42 kg, menghabiskan 700 kg beras.

Menurut salah satu volunteer kegiatan, Ketut Yogi Sansuadi, peningkatan jumlah sampah plastik yang ditukar kemungkinan terjadi karena dua faktor. “Ada dua kemungkinan, pertama masyarakat Banjar Banda lebih menjaga kebersihan atau yang kedua memanfaatkan program Plastic Exchange dengan impor sampah dari luar, dan warga luar yang ikut bawa sampah kesini,” ungkapnya.

Sementara, anggota DPR RI dapil Bali, I Nyoman Parta, mengaku telah melihat fenomena yang sama, bahkan menurutnya tidak hanya dalam program plastik exchange, namun juga dalam kegiatan bank sampah. “Tidak hanya di Plastic Exchange, tapi di semua kegiatan bank sampah yang sudah mengambil semua sampah plastik, plastik sekali pakai makin banyak,” tegasnya.

Menurutnya hal itu menunjukkan jika sosialisasi dan edukasi mengenai pengurangan penggunaan plastik sekali pakai belum berjalan maksimal. Selain itu Pemerintah juga harus membuat kebijakan untuk membawa tumbler (botol air isi ulang), baik dalam acara di pemerintahan, kantor perusahaan, sekolah, pura harus menggunakan galon isi ulang. “Memang harus terus menerus dilakukan edukasi. Kurangi mengambil plastik warung, toko dan swalayan dengan bawa tote bag,” tandasnya.

 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Meskipun pemerintah telah mengeluarkan Pergub Bali nomor 97 tahun 2018 tentang pembatasan timbunan sampah plastik, namun ternyata penggunaan plastik sekali pakai di kalangan masyarakat masih cukup tinggi. Hal itu tercermin dari hasil kegiatan Plastik Exchange atau penukaran sampah plastik dengan beras atau sembako dan bank sampah khususnya wilayah Gianyar yang jumlah sampah plastiknya semakin meningkat.

Diantaranya terpantau di Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Minggu (30/1). Dimana kegiatan plastik exchange yang berlangsung menunjukan sampah plastik sekali pakai yang berhasil dikumpulkan mencapai 2,206 kilogram. Dari 151 peserta, total material keseluruhan 3,803 kilogram. Dimana sampah plastik jenis kresek sekali pakai mendominasi perolehan material. Rinciannya plastik kresek 2,206 kg, botol plastik 613 kg, rongsokan campura 327 kg, Kardus 357 kg, kertas 30 kg, logam 126 kg, botol 62 kg, lain-lain 42 kg, menghabiskan 700 kg beras.

Menurut salah satu volunteer kegiatan, Ketut Yogi Sansuadi, peningkatan jumlah sampah plastik yang ditukar kemungkinan terjadi karena dua faktor. “Ada dua kemungkinan, pertama masyarakat Banjar Banda lebih menjaga kebersihan atau yang kedua memanfaatkan program Plastic Exchange dengan impor sampah dari luar, dan warga luar yang ikut bawa sampah kesini,” ungkapnya.

Sementara, anggota DPR RI dapil Bali, I Nyoman Parta, mengaku telah melihat fenomena yang sama, bahkan menurutnya tidak hanya dalam program plastik exchange, namun juga dalam kegiatan bank sampah. “Tidak hanya di Plastic Exchange, tapi di semua kegiatan bank sampah yang sudah mengambil semua sampah plastik, plastik sekali pakai makin banyak,” tegasnya.

Menurutnya hal itu menunjukkan jika sosialisasi dan edukasi mengenai pengurangan penggunaan plastik sekali pakai belum berjalan maksimal. Selain itu Pemerintah juga harus membuat kebijakan untuk membawa tumbler (botol air isi ulang), baik dalam acara di pemerintahan, kantor perusahaan, sekolah, pura harus menggunakan galon isi ulang. “Memang harus terus menerus dilakukan edukasi. Kurangi mengambil plastik warung, toko dan swalayan dengan bawa tote bag,” tandasnya.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/