alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Luncurkan Buku, Ipung Harap Tak Ada Lagi Penindasan Pada Perempuan dan Anak

DENPASAR, BALI EXPRESS-Nama Siti Sapurah atau akrab dipanggil Ipung sudah terkenal luas. Aktivis perempuan dan anak Bali itu selalu menghiasi meda massa atau kini medsos setiap terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Apalagi sewaktu terjadi kasus pembunuhan Angeline di Denpasar bebeapa tahun silam, Nama Ipung tiada henti menjadi buah bibir. Dia keras menyuarakan penegakan hukum, keadilan  dalam kasus itu. Tentu, pilihan menjadi aktivis perempuan bukan tanpa risiko. Ipung mengaku kenyang diancam atau diteror setiap kali melakukan pendampingan kasus kekerasan pada perempuan.

Sepenggal kisa Ipung itu, terangkum dalam bukunya “True Sory, Mbak Ipung” yang diluncurkan di kantornya, Denpasar, Selasa (28/3). Dalam buku setebal 186 halaman tersebut, perempuan berdarah Bugis ini mengisahkan  kerasnya perjalanan hidupnya. Semasa kecil , ia pernah menjadi korban penganiayaan, penindasan dan kekerasan fisik dan mental lainnya.  Pengalaman pahit itulah yang mendorong Ipung bercita-cita menjadi pembela kaum tertindas. Cita-cita yang terinspirasi dari film di layar kaca itu akhirnya berhasil terwujud sebagai advokat spesialis kaum perempuan dan anak. “Lewat buku ini saya ingin keluarga besar saya di Celukan Bawang dan dimana saja bisa mencari saya, karena saya tidak bisa menemui kalian..mohon cari saya Daeng Ipung,”tutur Ipung saat peluncuran bukunya.

Ipung  dilahirkan di Serangan 1971 silam. Pulau kecil yang masuk wilayah administrasi Pemkot Denpasar. Ayahnya  Daeng Abdul Kadir, saudagar dari Bugis, Sulsel. Kendati putri saudagar, Ipung bukanlah anak manja. Ia terbiasa dengan hidup yang serba keras. Semasa kecil, Ipung setiap hari harus mencari anak bandeng (nener) dilaut. Itu dijalani sehari tiga kali selama bertahun-tahun. Panasnya matahari Pulau Serangan menjadi teman akrab keseharian. Persoalan kian berat semenjak ayahnya Daeng Abdul Kadir wafat. Ayahnya meninggalkan setumpuk persoalan bagi Ipung. Sampai-sampai ia nyaris tak kuat menahan cobaan hidup. Jalan pintas pun ia pilih. Suatu hari ia nekat meminta ijin pada Tuhan untuk pulang (meninggal) dengan cara meminum cairan pembasmi serangga. “Tapi saya kenapa tidak meninggal, padahal saya sudah minta ijin pada Tuhan,”kenang Ipung.

Sejak peristiwa itu,Ipung bangkit dan kerja keras mewujudkan cita-cita menjadi seorang advokat. Dia ingin menjadin pembela bagi perempuan dan anak-anak di Indonesia. Cita-cita itu akhirnya tercapai hingga namanya menasional . Banyak prestasi yang diraih Ipung, namun ia merasa masih belum cukup. Dia ingin mewujudkan mimpinya, adanya keadilan bagi perempuan dan anak. Tidak ada lagi kaum tertindas, teraniaya, termarjinalkan  di negeri ini.

Buku terbitan CLK Publishing, Denpasar digarap oleh Vivi  Suryanitta, jurnalis di Denpasar. Menurut istri dari jurnasil senior Kantor Berita Antara itu, proses penggarapan buku ini cukup lama. Wawancara dengan Ipung harus diulang beberapa kali. “Awalnya saya ketemu mbak Ipung  di unjukrasa di Renon, cerita-cerita akhirnya terwujudlah buku ini melalui proses panjang,”tutur Vivi saat mendampingi Ipung di peluncuran bukunya.






Reporter: Suharnanto

DENPASAR, BALI EXPRESS-Nama Siti Sapurah atau akrab dipanggil Ipung sudah terkenal luas. Aktivis perempuan dan anak Bali itu selalu menghiasi meda massa atau kini medsos setiap terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Apalagi sewaktu terjadi kasus pembunuhan Angeline di Denpasar bebeapa tahun silam, Nama Ipung tiada henti menjadi buah bibir. Dia keras menyuarakan penegakan hukum, keadilan  dalam kasus itu. Tentu, pilihan menjadi aktivis perempuan bukan tanpa risiko. Ipung mengaku kenyang diancam atau diteror setiap kali melakukan pendampingan kasus kekerasan pada perempuan.

Sepenggal kisa Ipung itu, terangkum dalam bukunya “True Sory, Mbak Ipung” yang diluncurkan di kantornya, Denpasar, Selasa (28/3). Dalam buku setebal 186 halaman tersebut, perempuan berdarah Bugis ini mengisahkan  kerasnya perjalanan hidupnya. Semasa kecil , ia pernah menjadi korban penganiayaan, penindasan dan kekerasan fisik dan mental lainnya.  Pengalaman pahit itulah yang mendorong Ipung bercita-cita menjadi pembela kaum tertindas. Cita-cita yang terinspirasi dari film di layar kaca itu akhirnya berhasil terwujud sebagai advokat spesialis kaum perempuan dan anak. “Lewat buku ini saya ingin keluarga besar saya di Celukan Bawang dan dimana saja bisa mencari saya, karena saya tidak bisa menemui kalian..mohon cari saya Daeng Ipung,”tutur Ipung saat peluncuran bukunya.

Ipung  dilahirkan di Serangan 1971 silam. Pulau kecil yang masuk wilayah administrasi Pemkot Denpasar. Ayahnya  Daeng Abdul Kadir, saudagar dari Bugis, Sulsel. Kendati putri saudagar, Ipung bukanlah anak manja. Ia terbiasa dengan hidup yang serba keras. Semasa kecil, Ipung setiap hari harus mencari anak bandeng (nener) dilaut. Itu dijalani sehari tiga kali selama bertahun-tahun. Panasnya matahari Pulau Serangan menjadi teman akrab keseharian. Persoalan kian berat semenjak ayahnya Daeng Abdul Kadir wafat. Ayahnya meninggalkan setumpuk persoalan bagi Ipung. Sampai-sampai ia nyaris tak kuat menahan cobaan hidup. Jalan pintas pun ia pilih. Suatu hari ia nekat meminta ijin pada Tuhan untuk pulang (meninggal) dengan cara meminum cairan pembasmi serangga. “Tapi saya kenapa tidak meninggal, padahal saya sudah minta ijin pada Tuhan,”kenang Ipung.

Sejak peristiwa itu,Ipung bangkit dan kerja keras mewujudkan cita-cita menjadi seorang advokat. Dia ingin menjadin pembela bagi perempuan dan anak-anak di Indonesia. Cita-cita itu akhirnya tercapai hingga namanya menasional . Banyak prestasi yang diraih Ipung, namun ia merasa masih belum cukup. Dia ingin mewujudkan mimpinya, adanya keadilan bagi perempuan dan anak. Tidak ada lagi kaum tertindas, teraniaya, termarjinalkan  di negeri ini.

Buku terbitan CLK Publishing, Denpasar digarap oleh Vivi  Suryanitta, jurnalis di Denpasar. Menurut istri dari jurnasil senior Kantor Berita Antara itu, proses penggarapan buku ini cukup lama. Wawancara dengan Ipung harus diulang beberapa kali. “Awalnya saya ketemu mbak Ipung  di unjukrasa di Renon, cerita-cerita akhirnya terwujudlah buku ini melalui proses panjang,”tutur Vivi saat mendampingi Ipung di peluncuran bukunya.






Reporter: Suharnanto

Most Read

Artikel Terbaru

/