alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

AMOR RING ACINTYA, Istri Pahlawan Kapten Mudita Berpulang

BALI EXPRESS, BANGLI – Bangli kehilangan sosok pahlawan pejuang kemerdekaan RI. Jro Pasek Jempiring, yang merupakan istri mendiang pahlawan Bangli Kapten Anak Agung Gede Anom Mudita, berpulang, Selasa (28/05), sekitar pukul 14.45. Mendiang Jro Pasek Jempiring meninggal dunia di usia 92 tahun.

 

Sebelum meninggal, mendiang sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Balimed, Denpasar. Beliau dirawat akibat mengeluh sakit kepala. Menurut pihak keluarga, di Puri Kilian, Puri Agung Bangli, almarhumah didiagnosa mengidap vertigo. Hal itu dikuatkan setelah mendiang sempat jatuh, tiga minggu lalu.

 

Menurut ananda almarhumah, Anak Agung Anom Suarcana, sang ibunda terjatuh tiga minggu lalu di puri. Akibatnya mendiang Jro Pasek mengalami benjol di kepala hingga membuatnya tak sadarkan diri. “Saat jatuh itu, ibu memang sempat pingsan sebentar. Setelah itu sempat sadar. Diantar ke rumah sakit bisa jalan sendiri,” tutur Anom Suarcana, Kamis (30/5) di Puri Kilian, Puri Agung Bangli.

 

Pascaterjatuh, kondisi Jro Pasek naik turun. Sempat membaik sebentar, kemudian kondisinya kian menurun dan akhirnya menghembuskan napas di RS Balimed, Denpasar. “Padahal belum pernah mengalami sakit keras. Bahkan mengeluhkan sakit tidak pernah. Baru kali ini pertama kalinya beliau sampai dirawat (di rumah sakit),” sesal Anom sembari meneteskan air mata.

 

Siang kemarin, raut kesedihan tak henti-hentinya muncul dari wajah para kerabat yang menunggu di Puri Kilian. Satu persatu kerabat tampak mulai berdatangan. Kepergian mendiang tentu saja meninggalkan duka mendalam bagi putra, menantu, tiga cucu, dan enam cicitnya.

 

Anom Suarcana menuturkan, mendiang ayahandanya, Kapten Anom Mudita dan ibundanya Jro Pasek Jempiring menikah pada 1942. Beberapa tahun menjalani bahtera rumah tangga, Jro Jempiring harus menelan pil pahit karena sang suami gugur di medan perang pada 1947. Jro Jempiring harus menghidupi anak semata wayangnya, AA Anom Suarcana, seorang diri.

“Saat masa itu, kami juga terpaksa mengungsi ke Banjar Kukuh, Desa Susut. Waktu itu rumah di Puri Kilian hendak dibakar penjajah,” tutur Anom Suarcana.

 

Selain menjadi pendamping hidup, mendiang Jro Pasek Jempiring tercatat turut membantu suami selama masa persiapan kemerdekaan Indonesia. Almarhumah bertugas membantu para pejuang menyediakan logistik perang. 

 

Guratan sejarah itu membentuk emosi masyarakat Bangli. Oleh karena itu, kepergian wanita asal Desa Nyanglan, Klungkung, itu tidak hanya mewariskan kesedihan bagi keluarga di Puri Agung Bangli. Tapi masyarakat Bangli juga merasa kehilangan atas kepergian almarhumah.

 

Saat ini jenazah Jro Pasek Jempiring disemayamkan di Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli. Jenazah baru bisa dipulangkan pada Kamis malam (20/6), setelah rangkaian upacara di Pura Penataran Agung Bangli usai. Berdasarkan hasil paruman atau rapat keluarga besar Puri Agung Bangli, upacara palebon akan digelar 22 Juni 2019.


BALI EXPRESS, BANGLI – Bangli kehilangan sosok pahlawan pejuang kemerdekaan RI. Jro Pasek Jempiring, yang merupakan istri mendiang pahlawan Bangli Kapten Anak Agung Gede Anom Mudita, berpulang, Selasa (28/05), sekitar pukul 14.45. Mendiang Jro Pasek Jempiring meninggal dunia di usia 92 tahun.

 

Sebelum meninggal, mendiang sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Balimed, Denpasar. Beliau dirawat akibat mengeluh sakit kepala. Menurut pihak keluarga, di Puri Kilian, Puri Agung Bangli, almarhumah didiagnosa mengidap vertigo. Hal itu dikuatkan setelah mendiang sempat jatuh, tiga minggu lalu.

 

Menurut ananda almarhumah, Anak Agung Anom Suarcana, sang ibunda terjatuh tiga minggu lalu di puri. Akibatnya mendiang Jro Pasek mengalami benjol di kepala hingga membuatnya tak sadarkan diri. “Saat jatuh itu, ibu memang sempat pingsan sebentar. Setelah itu sempat sadar. Diantar ke rumah sakit bisa jalan sendiri,” tutur Anom Suarcana, Kamis (30/5) di Puri Kilian, Puri Agung Bangli.

 

Pascaterjatuh, kondisi Jro Pasek naik turun. Sempat membaik sebentar, kemudian kondisinya kian menurun dan akhirnya menghembuskan napas di RS Balimed, Denpasar. “Padahal belum pernah mengalami sakit keras. Bahkan mengeluhkan sakit tidak pernah. Baru kali ini pertama kalinya beliau sampai dirawat (di rumah sakit),” sesal Anom sembari meneteskan air mata.

 

Siang kemarin, raut kesedihan tak henti-hentinya muncul dari wajah para kerabat yang menunggu di Puri Kilian. Satu persatu kerabat tampak mulai berdatangan. Kepergian mendiang tentu saja meninggalkan duka mendalam bagi putra, menantu, tiga cucu, dan enam cicitnya.

 

Anom Suarcana menuturkan, mendiang ayahandanya, Kapten Anom Mudita dan ibundanya Jro Pasek Jempiring menikah pada 1942. Beberapa tahun menjalani bahtera rumah tangga, Jro Jempiring harus menelan pil pahit karena sang suami gugur di medan perang pada 1947. Jro Jempiring harus menghidupi anak semata wayangnya, AA Anom Suarcana, seorang diri.

“Saat masa itu, kami juga terpaksa mengungsi ke Banjar Kukuh, Desa Susut. Waktu itu rumah di Puri Kilian hendak dibakar penjajah,” tutur Anom Suarcana.

 

Selain menjadi pendamping hidup, mendiang Jro Pasek Jempiring tercatat turut membantu suami selama masa persiapan kemerdekaan Indonesia. Almarhumah bertugas membantu para pejuang menyediakan logistik perang. 

 

Guratan sejarah itu membentuk emosi masyarakat Bangli. Oleh karena itu, kepergian wanita asal Desa Nyanglan, Klungkung, itu tidak hanya mewariskan kesedihan bagi keluarga di Puri Agung Bangli. Tapi masyarakat Bangli juga merasa kehilangan atas kepergian almarhumah.

 

Saat ini jenazah Jro Pasek Jempiring disemayamkan di Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli. Jenazah baru bisa dipulangkan pada Kamis malam (20/6), setelah rangkaian upacara di Pura Penataran Agung Bangli usai. Berdasarkan hasil paruman atau rapat keluarga besar Puri Agung Bangli, upacara palebon akan digelar 22 Juni 2019.


Most Read

Artikel Terbaru

/