alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Hasil Negatif, Penyebab Ratusan Siswa SMP Keracunan Masih Misteri

BULELENG, BALI EXPRESS — Kejadian keracunan yang menimpa ratusan siswa di SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan, Buleleng, masih menyisakan tanda tanya. Pasalnya, hasil pemeriksaan laboratorium di Denpasar menunjukkan, tidak ditemukan ada zat berbahaya dalam sampel makanan maupun muntahan siswa yang dikirim. Begitu pula dengan peralatan masak yang digunakan vendor untuk menyajikan makanan berupa nasi bungkus.

Kasi Humas Polres Buleleng AKP Gede Sumarjaya saat ditemui Rabu (29/6) mengatakan, saat keracunan massal itu terjadi awal Juni lalu, pihaknya telah mengirim sampel nasi bungkus, muntahan siswa, kue, dan bahan-bahan masakan dari pemilik warung ke BPOM Denpasar untuk dicek kandungannya.

Hasil laboratorium kemudian telah diterima penyidik beberapa hari lalu. Namun hasil pemeriksaan yang diterima negatif. Sehingga penyebab keracunan massal yang menimpa siswa dan guru itu masih misterius.

Baca Juga :  Jaga Jarak Saat Kampanye Belum Optimal, Gugus Tugas Ingatkan Prokes

“Jadi dari hasil yang kami terima itu jadinya tidak menunjukkan warga sekolah keracunan makanan. Mual muntah yang dialami itu bukan dari keracunan,” jelasnya.

Namun ditanya penyebab pastinya, Sumarjaya tak memberikan jawaban. Meski dari hasil laboratorium tidak ditemukan adanya zat berbahaya yang terkandung dalam makanan tersebut.

Kasus keracunan ini ditegaskan AKP Sumarjaya tidak ditutup. Penyidik masih akan melakukan penyelidikan, untuk mengetahui secara pasti, apa penyebab keracunan. “Kami juga masih menyelidiki kenapa bisa demikian. Kalau misalnya percaya, apakah mungkin penyebabnya dari sisi niskala? Kan tidak ada yang tahu juga,” jelasnya.

Saat ini sudah ada tujuh saksi yang diperiksa polisi. Terdiri dari siswa dan guru SMPN Satap 2 Kubutambahan, pemilik warung, tukang masak dan penjual kue. “Jadi penyelidikan tidak ditutup. Kalau misalnya ada warga yang menemukan bukti baru tentang kasus keracunan ini, mohon disampaikan ke penyidik, untuk membantu proses penyelidikan,” jelasnya.

Baca Juga :  Polda Bali Gelar Simulasi Pengamanan Pilkada di Tengah Guyuran Hujan

Terpisah, Kepala SMPN Satap 2 Kubutambahan Komang Rupada belum dapat memberikan keterangan, terkait perkembangan dari kasus keracunan ini. “Ampura tiang kari sibuk niki. (Maaf saya sedang ada kesibukan),” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon.

Diberitakan sebelumnya, ratusan siswa di SMPN Satap 2 Kubutambahan, yang berlokasi di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, mengalami keracunan massal. Tidak saja siswa, beberapa guru juga turut mengalami muntah, mual dan pusing hingga dilarikan ke rumah sakit.

Parahnya dua orang siswa mengalami dehidrasi berat sehingga sempat menjalani perawatan intensif selama dua hari.Para siswa itu sebelumnya baru usai menyantap makanan yang disediakan sekolah saat pelaksanaan perpisahan pada 4 Juni.lalu.

 






Reporter: Dian Suryantini

BULELENG, BALI EXPRESS — Kejadian keracunan yang menimpa ratusan siswa di SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan, Buleleng, masih menyisakan tanda tanya. Pasalnya, hasil pemeriksaan laboratorium di Denpasar menunjukkan, tidak ditemukan ada zat berbahaya dalam sampel makanan maupun muntahan siswa yang dikirim. Begitu pula dengan peralatan masak yang digunakan vendor untuk menyajikan makanan berupa nasi bungkus.

Kasi Humas Polres Buleleng AKP Gede Sumarjaya saat ditemui Rabu (29/6) mengatakan, saat keracunan massal itu terjadi awal Juni lalu, pihaknya telah mengirim sampel nasi bungkus, muntahan siswa, kue, dan bahan-bahan masakan dari pemilik warung ke BPOM Denpasar untuk dicek kandungannya.

Hasil laboratorium kemudian telah diterima penyidik beberapa hari lalu. Namun hasil pemeriksaan yang diterima negatif. Sehingga penyebab keracunan massal yang menimpa siswa dan guru itu masih misterius.

Baca Juga :  Polda Bali Gelar Simulasi Pengamanan Pilkada di Tengah Guyuran Hujan

“Jadi dari hasil yang kami terima itu jadinya tidak menunjukkan warga sekolah keracunan makanan. Mual muntah yang dialami itu bukan dari keracunan,” jelasnya.

Namun ditanya penyebab pastinya, Sumarjaya tak memberikan jawaban. Meski dari hasil laboratorium tidak ditemukan adanya zat berbahaya yang terkandung dalam makanan tersebut.

Kasus keracunan ini ditegaskan AKP Sumarjaya tidak ditutup. Penyidik masih akan melakukan penyelidikan, untuk mengetahui secara pasti, apa penyebab keracunan. “Kami juga masih menyelidiki kenapa bisa demikian. Kalau misalnya percaya, apakah mungkin penyebabnya dari sisi niskala? Kan tidak ada yang tahu juga,” jelasnya.

Saat ini sudah ada tujuh saksi yang diperiksa polisi. Terdiri dari siswa dan guru SMPN Satap 2 Kubutambahan, pemilik warung, tukang masak dan penjual kue. “Jadi penyelidikan tidak ditutup. Kalau misalnya ada warga yang menemukan bukti baru tentang kasus keracunan ini, mohon disampaikan ke penyidik, untuk membantu proses penyelidikan,” jelasnya.

Baca Juga :  Terkait Perusakan Rumah, Kelian Adat dan Bendahara Julah Diperiksa

Terpisah, Kepala SMPN Satap 2 Kubutambahan Komang Rupada belum dapat memberikan keterangan, terkait perkembangan dari kasus keracunan ini. “Ampura tiang kari sibuk niki. (Maaf saya sedang ada kesibukan),” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon.

Diberitakan sebelumnya, ratusan siswa di SMPN Satap 2 Kubutambahan, yang berlokasi di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, mengalami keracunan massal. Tidak saja siswa, beberapa guru juga turut mengalami muntah, mual dan pusing hingga dilarikan ke rumah sakit.

Parahnya dua orang siswa mengalami dehidrasi berat sehingga sempat menjalani perawatan intensif selama dua hari.Para siswa itu sebelumnya baru usai menyantap makanan yang disediakan sekolah saat pelaksanaan perpisahan pada 4 Juni.lalu.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/