alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Persoalan Krematorium di Tuka, Giri Prasta akan Turun Langsung

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Pro kontra krematorium di Desa Adat Tuka, Kecamatan Kuta Utara, masih bergulir. Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menegaskan akan turun langsung menyelesaikan masalah tersebut.

“Segala sesuatu urusan Tuka ini saya akan turun langsung. Saya ingin tidak ada lagi persoalan, perdebatan di bawah,” tegas Bupati Giri Prasta didampingi Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa saat menerima Anggota Komite I DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dalam acara dengar pendapat dengan Perbekel Dalung, Bendesa Adat Tuka dan perwakilan masyarakat Tuka di Ruang Kertha Gosana, Puspem Badung, Kamis (30/7).

Acara ini juga dihadiri oleh Kadis Kebudayaan I Gede Eka Sudarwita dan Camat Kuta Utara I Putu Eka Permana.

Lebih lanjut Bupati Giri Prasta menyampaikan apresiasi kepada senator Arya Wedakarna, telah ikut memfasilitasi, terlebih telah turun melihat kondisi di lapangan yang tujuannya guna mencari penyelesaian yang terbaik terhadap masalah ini.

Selain itu, kepada Camat Kuta Utara dan Perbekel Dalung juga diminta selalu bergandengan tangan menyelesaikan masalah ini. “Semua masalah tidak bisa diselesaikan sendiri, tapi semua masalah ada solusinya kalau kita bersatu dan bergandengan tangan terlebih untuk kebaikan bersama,” jelas Bupati.

Sementara itu Anggota Komite I DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bupati Badung sudah memfasilitasi acara dengar pendapat antara DPD RI dengan masyarakat Tuka. Kehadirannya guna mengetahui aspirasi masyarakat, khususnya permasalahan di Tuka ini agar diselesaikan dengan baik. “Tujuan pertemuan ini untuk mendengar informasi dua arah terkait dengan penolakan dan sudah terjadi penutupan krematorium di Desa Adat Tuka, sehingga dapat diselesaikan dengan baik,” jelasnya.

Sebelumnya, pembukaan operasional krematorium Maha Yasa Taman Prajapati, Desa Adat Tuka Dalung ditunda sementara oleh Pemkab Badung. Penundaan secara resmi melalui surat yang ditandatangani Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa tertanggal 27 Juli 2020.

Kepala Dinas Kebudayaan Badung I Gde Eka Sudarwitha, Selasa (28/7), membenarkan pemerintah telah mengeluarkan surat resmi mengenai penundaan pembukaan krematorium Maha Yasa Taman Prajapati, Desa Adat Tuka. Surat bernomor 454/3592/Disbud/Sekret, diterbitkan berdasarkan pertimbangan hasil kajian tim di Pemkab Badung. Sebab ditemukan bahwa krematorium tersebut belum mendapat izin secara lengkap. “Sebelumnya kan operasional krematorium sempat ditutup sementara oleh perbekel dan pak camat, karena ada penolakan. Kemudian ada proses komunikasi. Lalu karena ingin membuka kembali, dalam hal ini dari pihak desa adat bersama yayasan, kami minta agar izinnya dilengkapi dulu,” ungkapnya.

Adapun dalam surat yang ditujukan kepada Bendesa Adat Tuka tersebut, ada tiga poin yang ditekankan. Pertama, krematorium Maha Yasa Taman Prajapati belum memiliki kajian upaya pengelolaan lingkungan dan izin mendirikan bangunan (IMB), sebagai syarat usaha yang sifatnya ekonomis dapat dijalankan. Poin kedua, Bendesa Adat Tuka mengupayakan agar terdapat kekompakan dan satu bahasa (gilik saguluk) diantara seluruh krama,  dalam merencanakan program kerja dan kegiatan Desa Adat, termasuk upaya penataan palemahan Desa Adat. 

Poin ketiga, untuk menciptakan situasi kondusif di lingkungan Desa Adat Tuka, maka diharapkan kepada Bendesa Adat Tuka dan seluruh jajarannya, agar menunda pembukaan kembali kegiatan pada krematorium Maha Yasa Taman Prajapati, sampai dipenuhi kelengkapan perizinan dan adanya kesepahaman/mufakat seluruh krama Desa Adat Tuka. “Jadi perlu kami tegaskan, tidak ada penutupan kremasi tersebut. Hanya penundaan untuk membuka kembali operasionalnya hingga perizinan dilengkapi,” tandasnya.


MANGUPURA, BALI EXPRESS – Pro kontra krematorium di Desa Adat Tuka, Kecamatan Kuta Utara, masih bergulir. Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menegaskan akan turun langsung menyelesaikan masalah tersebut.

“Segala sesuatu urusan Tuka ini saya akan turun langsung. Saya ingin tidak ada lagi persoalan, perdebatan di bawah,” tegas Bupati Giri Prasta didampingi Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa saat menerima Anggota Komite I DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dalam acara dengar pendapat dengan Perbekel Dalung, Bendesa Adat Tuka dan perwakilan masyarakat Tuka di Ruang Kertha Gosana, Puspem Badung, Kamis (30/7).

Acara ini juga dihadiri oleh Kadis Kebudayaan I Gede Eka Sudarwita dan Camat Kuta Utara I Putu Eka Permana.

Lebih lanjut Bupati Giri Prasta menyampaikan apresiasi kepada senator Arya Wedakarna, telah ikut memfasilitasi, terlebih telah turun melihat kondisi di lapangan yang tujuannya guna mencari penyelesaian yang terbaik terhadap masalah ini.

Selain itu, kepada Camat Kuta Utara dan Perbekel Dalung juga diminta selalu bergandengan tangan menyelesaikan masalah ini. “Semua masalah tidak bisa diselesaikan sendiri, tapi semua masalah ada solusinya kalau kita bersatu dan bergandengan tangan terlebih untuk kebaikan bersama,” jelas Bupati.

Sementara itu Anggota Komite I DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bupati Badung sudah memfasilitasi acara dengar pendapat antara DPD RI dengan masyarakat Tuka. Kehadirannya guna mengetahui aspirasi masyarakat, khususnya permasalahan di Tuka ini agar diselesaikan dengan baik. “Tujuan pertemuan ini untuk mendengar informasi dua arah terkait dengan penolakan dan sudah terjadi penutupan krematorium di Desa Adat Tuka, sehingga dapat diselesaikan dengan baik,” jelasnya.

Sebelumnya, pembukaan operasional krematorium Maha Yasa Taman Prajapati, Desa Adat Tuka Dalung ditunda sementara oleh Pemkab Badung. Penundaan secara resmi melalui surat yang ditandatangani Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa tertanggal 27 Juli 2020.

Kepala Dinas Kebudayaan Badung I Gde Eka Sudarwitha, Selasa (28/7), membenarkan pemerintah telah mengeluarkan surat resmi mengenai penundaan pembukaan krematorium Maha Yasa Taman Prajapati, Desa Adat Tuka. Surat bernomor 454/3592/Disbud/Sekret, diterbitkan berdasarkan pertimbangan hasil kajian tim di Pemkab Badung. Sebab ditemukan bahwa krematorium tersebut belum mendapat izin secara lengkap. “Sebelumnya kan operasional krematorium sempat ditutup sementara oleh perbekel dan pak camat, karena ada penolakan. Kemudian ada proses komunikasi. Lalu karena ingin membuka kembali, dalam hal ini dari pihak desa adat bersama yayasan, kami minta agar izinnya dilengkapi dulu,” ungkapnya.

Adapun dalam surat yang ditujukan kepada Bendesa Adat Tuka tersebut, ada tiga poin yang ditekankan. Pertama, krematorium Maha Yasa Taman Prajapati belum memiliki kajian upaya pengelolaan lingkungan dan izin mendirikan bangunan (IMB), sebagai syarat usaha yang sifatnya ekonomis dapat dijalankan. Poin kedua, Bendesa Adat Tuka mengupayakan agar terdapat kekompakan dan satu bahasa (gilik saguluk) diantara seluruh krama,  dalam merencanakan program kerja dan kegiatan Desa Adat, termasuk upaya penataan palemahan Desa Adat. 

Poin ketiga, untuk menciptakan situasi kondusif di lingkungan Desa Adat Tuka, maka diharapkan kepada Bendesa Adat Tuka dan seluruh jajarannya, agar menunda pembukaan kembali kegiatan pada krematorium Maha Yasa Taman Prajapati, sampai dipenuhi kelengkapan perizinan dan adanya kesepahaman/mufakat seluruh krama Desa Adat Tuka. “Jadi perlu kami tegaskan, tidak ada penutupan kremasi tersebut. Hanya penundaan untuk membuka kembali operasionalnya hingga perizinan dilengkapi,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/