alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Gelar Workshop Cetak Cukil, Walhi Bali Angkat Tema Pesisir

DENPASAR, BALI EXPRESS – Melihat daerah pesisir Bali yang kritis dalam beberapa tahun terakhir, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali berinisiatif menggelar workshop dengan mengambil tema tersebut, Rabu (30/9) di kantor Walhi Bali, Jl. Dewi Madri, Denpasar. Uniknya, workshop dikemas menarik, dimana peserta diajak praktek langsung untuk menghasilkan karya dengan menggunakan teknik cetak cukil yang di dalamnya berisi tentang seruan atau kampanye terkait isu lingkungan hidup.

Gilang Pratama selaku Divisi Kreatif Walhi Bali di sela-sela kegiatan menuturkan, peserta yang terlibat dalam workshop sebanyak 10 orang dari kalangan umum. Peserta dibatasi karena dalam masa pandemic. Namun tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Kenapa cetak cukil yang kami ambil, karena sesuai dengan tema itu sendiri. Karya visual dari teknik cukil ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, bahkan pada zaman kemerdekaan. Istilahnya, cetak cukil sudah identik untuk menyuarakan isu-isu yang ada di sekitarnya,” ujar Gilang Pratama kepada Bali Express (Jawa Pos Grup).

Soal tema yang diambil, Walhi Bali melihat, dalam 10 tahun terakhir, daerah pesisir terlalu banyak mendapat tantangan, terutama kaitannya dengan perkembangan industri pariwisata yang sangat massif di Bali Selatan.

“Pesisir Bali ini rentan, maka kami suarakan isu tersebut. Perlu adanya dukungan publik yang lebih luas untuk aktif suarakan isu-isu pesisir ini, karena tantangan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Diharapkan, workshop ini sebagai ruang belajar bersama. Selain untuk belajar isu lingkungan hidup di pesisir, juga sebagai media kampanye, dimana yang terlibat bisa suarakan lingkungan hidup di lingkungannya masing-masing,” bebernya lantang.

Nah, soal media yang dipergunakan dalam teknik cetak cukil ini, beber Gilang, ada banyak yang bisa dipergunakan seperti lino (sejenis karet), kayu jenis MDF, kain, kertas, alat cukil, pensil serta tinta khusus. “Hasil akhirnya tergantung desain, ada yang 3-4 jam selesai, ada juga lebih dari satu hari. Tergantung pemakaian warna juga. Ada yang memakai dua warna, tapi relatif sih lebih banyak ke satu warna dengan dominan warna hitam. Dan bisa kami katakan, cetak cukil ini memiliki ciri khas tersendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Arya, salah satu peserta workshop yang tinggal di Kayumas, Denpasar mengatakan, teknik cukil ini baru pertama kali ia jalani. “Sangat menarik. Awalnya penasaran setelah mendapat informasi dari teman di instagram. Saya ikuti saja. Positifnya, saya mendapat tambahan ilmu serta pengalaman, khususnya soal isu-isu lingkungan,” tutup Arya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Melihat daerah pesisir Bali yang kritis dalam beberapa tahun terakhir, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali berinisiatif menggelar workshop dengan mengambil tema tersebut, Rabu (30/9) di kantor Walhi Bali, Jl. Dewi Madri, Denpasar. Uniknya, workshop dikemas menarik, dimana peserta diajak praktek langsung untuk menghasilkan karya dengan menggunakan teknik cetak cukil yang di dalamnya berisi tentang seruan atau kampanye terkait isu lingkungan hidup.

Gilang Pratama selaku Divisi Kreatif Walhi Bali di sela-sela kegiatan menuturkan, peserta yang terlibat dalam workshop sebanyak 10 orang dari kalangan umum. Peserta dibatasi karena dalam masa pandemic. Namun tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Kenapa cetak cukil yang kami ambil, karena sesuai dengan tema itu sendiri. Karya visual dari teknik cukil ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, bahkan pada zaman kemerdekaan. Istilahnya, cetak cukil sudah identik untuk menyuarakan isu-isu yang ada di sekitarnya,” ujar Gilang Pratama kepada Bali Express (Jawa Pos Grup).

Soal tema yang diambil, Walhi Bali melihat, dalam 10 tahun terakhir, daerah pesisir terlalu banyak mendapat tantangan, terutama kaitannya dengan perkembangan industri pariwisata yang sangat massif di Bali Selatan.

“Pesisir Bali ini rentan, maka kami suarakan isu tersebut. Perlu adanya dukungan publik yang lebih luas untuk aktif suarakan isu-isu pesisir ini, karena tantangan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Diharapkan, workshop ini sebagai ruang belajar bersama. Selain untuk belajar isu lingkungan hidup di pesisir, juga sebagai media kampanye, dimana yang terlibat bisa suarakan lingkungan hidup di lingkungannya masing-masing,” bebernya lantang.

Nah, soal media yang dipergunakan dalam teknik cetak cukil ini, beber Gilang, ada banyak yang bisa dipergunakan seperti lino (sejenis karet), kayu jenis MDF, kain, kertas, alat cukil, pensil serta tinta khusus. “Hasil akhirnya tergantung desain, ada yang 3-4 jam selesai, ada juga lebih dari satu hari. Tergantung pemakaian warna juga. Ada yang memakai dua warna, tapi relatif sih lebih banyak ke satu warna dengan dominan warna hitam. Dan bisa kami katakan, cetak cukil ini memiliki ciri khas tersendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Arya, salah satu peserta workshop yang tinggal di Kayumas, Denpasar mengatakan, teknik cukil ini baru pertama kali ia jalani. “Sangat menarik. Awalnya penasaran setelah mendapat informasi dari teman di instagram. Saya ikuti saja. Positifnya, saya mendapat tambahan ilmu serta pengalaman, khususnya soal isu-isu lingkungan,” tutup Arya.


Most Read

Artikel Terbaru

/