alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Senator Agung Gde Agung Maknai Sekala Niskala Hari Jadi DPD RI

GIANYAR, BALI EXPRESS – Memaknai Hari Jadi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI ke-16 tahun, Senator Anak Agung Gde Agung sembahyang di Pura Alas Arum, Desa Adat Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Rabu (30/9). 

Selain sembahyang di pura yang ada di tengah hutan tersebut, mantan Bupati Badung ini juga membagikan sembako kepada krama desa adat setempat.  Dipilihnya lokasi itu sebagai pemaknaan HUT DPD RI, lantaran ada kaitan secara historis dengan Kerajaan Mengwi.

Ketika tiba di lokasi, Anak Agung Gde Agung langsung memasuki areal Pura Alas Arum untuk sembahyang. Selanjutnya ia menuju ke wantilan di jaba pura setempat bertemu dengan krama.

Disebutkannya bahwa Kerajaan Mengwi ada hubungan sejarah dengan Desa Adat Silungan, khususnya di pura tempat ia sembahyang tersebut. “Kami di Mengwi ada hubungan sejarah dengan Desa Adat Silungan, terutama di Pura Alas Arum ini,”  paparnya.

Kedatangannya kali ini, berkaitan dengan memeringati Hari Jadi DPD RI ke-16 tahun. Dipilihnya Ubud, Gianyar,  lanjutnya, disebabkan tidak sedang masa pemilihan kepala daerah. Sehingga kedatangannya memang murni memaknai Hari Jadi PDP RI, bukan mengarah ada unsur mendukung salah satu pasangan calon kepala daerah.

Dikatakannya, selaku DPD ia dapat memaknai perayaan tersebut di tengah masyarakat secara sekala, dan persembahyangan di pura tersebut secara niskala.

Agung Gde Agung sebagai anggota DPD komite tiga yang membidangi agama, pendidikan, sosial, kesehatan dan pariwisata, mengaku, saat ini sedang berjuang untuk mengeluarkan klaster pendidikan dari Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law. 

Menurutnya, RUU Omnibus Law itu memandang pendidikan adalah bisnis. Padahal, kata dia, pendidikan itu merupakan  kegiatan sosial. Terlepas  adanya pembayaran dalam pendidikan, namun bukan bisnis, melainkan demi keberlangsungan pendidikan itu sendiri. 

“Kami dari DPD menyampaikan bahwa supaya klaster pendidikan yang ada di Omnibus Law itu supaya dikeluarka, karena pendidikan itu bukan bisnis. Pendidikan itu adalah kegiatan sosial,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah rapat kerja dengan Menteri  Pendidikan, dan ada kesimpulan mengenai substansi kurikulum pendidikan, yakni mata pelajaran pendidikan moral dan Pancasila harus tetap diberikan.

Begitu juga budi pekerti dan sejarah harus tetap dipertahankan. Sebab, kadar Pancasila saat ini menurutnya menurun, sehingga perlu diberikan pendidikan moral.

“Terus terang di beberapa tempat, kita melihat dan berdasarkan aspirasi teman-teman juga, kayaknya kadar kepancasilaannya itu menurun. Makanya, pendidikan moral dan kepancasilaan  harus masuk dalam kurikulum,” sambungnya.

Pada tempat yang sama, Bendesa Adat Silungan, I Wayan Sami, menyampaikan terimakasih atas kedatangan anggota DPD RI ke desanya.  Dipaparkannya juga  sejarah singkat dari Pura Alas Arum, memang ada kaitannya dengan Kerajaan Mengwi pada zaman itu.

Wayan Sami menjelaskan, nama Alas Arum terdiri dari dua, yaitu alas berarti hutan, dan arum  berarti wangi. Wangi itu disebutkan dari pepohonan yang tumbuh di area pura, tercium sampai di Kerajaan Mengwi pada zaman dahulu. 

Disebutkan, Pura Alas Arum ini bukan termasuk Pura Kahyangan Tiga. Melainkan Pura Dang Kahyangan yang berkaitan dengan sejarah runtuhnya Kerajaan Singosari dan terkait berdirinya Kerajaan Mengwi. “Secara tertulis memang belum kami temukan, tapi dari babad yang dikisahkan oleh sejumlah dalang memang ada kaitan antara pura ini dengan Puri Mengwi,” tandasnya. 

 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Memaknai Hari Jadi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI ke-16 tahun, Senator Anak Agung Gde Agung sembahyang di Pura Alas Arum, Desa Adat Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Rabu (30/9). 

Selain sembahyang di pura yang ada di tengah hutan tersebut, mantan Bupati Badung ini juga membagikan sembako kepada krama desa adat setempat.  Dipilihnya lokasi itu sebagai pemaknaan HUT DPD RI, lantaran ada kaitan secara historis dengan Kerajaan Mengwi.

Ketika tiba di lokasi, Anak Agung Gde Agung langsung memasuki areal Pura Alas Arum untuk sembahyang. Selanjutnya ia menuju ke wantilan di jaba pura setempat bertemu dengan krama.

Disebutkannya bahwa Kerajaan Mengwi ada hubungan sejarah dengan Desa Adat Silungan, khususnya di pura tempat ia sembahyang tersebut. “Kami di Mengwi ada hubungan sejarah dengan Desa Adat Silungan, terutama di Pura Alas Arum ini,”  paparnya.

Kedatangannya kali ini, berkaitan dengan memeringati Hari Jadi DPD RI ke-16 tahun. Dipilihnya Ubud, Gianyar,  lanjutnya, disebabkan tidak sedang masa pemilihan kepala daerah. Sehingga kedatangannya memang murni memaknai Hari Jadi PDP RI, bukan mengarah ada unsur mendukung salah satu pasangan calon kepala daerah.

Dikatakannya, selaku DPD ia dapat memaknai perayaan tersebut di tengah masyarakat secara sekala, dan persembahyangan di pura tersebut secara niskala.

Agung Gde Agung sebagai anggota DPD komite tiga yang membidangi agama, pendidikan, sosial, kesehatan dan pariwisata, mengaku, saat ini sedang berjuang untuk mengeluarkan klaster pendidikan dari Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law. 

Menurutnya, RUU Omnibus Law itu memandang pendidikan adalah bisnis. Padahal, kata dia, pendidikan itu merupakan  kegiatan sosial. Terlepas  adanya pembayaran dalam pendidikan, namun bukan bisnis, melainkan demi keberlangsungan pendidikan itu sendiri. 

“Kami dari DPD menyampaikan bahwa supaya klaster pendidikan yang ada di Omnibus Law itu supaya dikeluarka, karena pendidikan itu bukan bisnis. Pendidikan itu adalah kegiatan sosial,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah rapat kerja dengan Menteri  Pendidikan, dan ada kesimpulan mengenai substansi kurikulum pendidikan, yakni mata pelajaran pendidikan moral dan Pancasila harus tetap diberikan.

Begitu juga budi pekerti dan sejarah harus tetap dipertahankan. Sebab, kadar Pancasila saat ini menurutnya menurun, sehingga perlu diberikan pendidikan moral.

“Terus terang di beberapa tempat, kita melihat dan berdasarkan aspirasi teman-teman juga, kayaknya kadar kepancasilaannya itu menurun. Makanya, pendidikan moral dan kepancasilaan  harus masuk dalam kurikulum,” sambungnya.

Pada tempat yang sama, Bendesa Adat Silungan, I Wayan Sami, menyampaikan terimakasih atas kedatangan anggota DPD RI ke desanya.  Dipaparkannya juga  sejarah singkat dari Pura Alas Arum, memang ada kaitannya dengan Kerajaan Mengwi pada zaman itu.

Wayan Sami menjelaskan, nama Alas Arum terdiri dari dua, yaitu alas berarti hutan, dan arum  berarti wangi. Wangi itu disebutkan dari pepohonan yang tumbuh di area pura, tercium sampai di Kerajaan Mengwi pada zaman dahulu. 

Disebutkan, Pura Alas Arum ini bukan termasuk Pura Kahyangan Tiga. Melainkan Pura Dang Kahyangan yang berkaitan dengan sejarah runtuhnya Kerajaan Singosari dan terkait berdirinya Kerajaan Mengwi. “Secara tertulis memang belum kami temukan, tapi dari babad yang dikisahkan oleh sejumlah dalang memang ada kaitan antara pura ini dengan Puri Mengwi,” tandasnya. 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/