alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Bermodal Dupa dan Rerajahan Palsu, Ketut Hipnotis Korbannya

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pria berperawakan kecil dengan jubah oranye turun dari mobil tahanan. Dengan digiring oleh dua orang anggota polisi, Ketut Samiada alias Ketut, 55 hanya bisa tertunduk. Samiada diamankan Satreskrim Polres Buleleng lantaran terjerap kasus penipuan dengan hipnotis. Mulut manis dengan tutur kata yang lembut kini mengantarkan Samiada harus rela meringkuk dibalik sel tahanan. Pria dari Desa Busungbiu itu pun setiap harinya harus menikmati dinginnya lantai tahanan. 

 

Saat kasusnya dirilis, Selasa (30/11) pagi, Samiada mengaku terpaksa melakukan hal itu lantaran sudah tidak punya pekerjaan. Dari hasil hipnotis bodong dengan dupa dan aksara yang ia ciptakan sendiri, ia berhasil mendapatkan pundi-pundi rupiah. Ia melakukan hipnotis dengan dalih untuk melakukan penyembuhan. Ia mendatangi korbannya ke rumah-rumah dan menawarkan jasa penyembuhan secara niskala. Segala bujuk rayu dengan diperkuat tutur lembut, dupa dan aksara akhirnya para korbannya pun percaya dan memberikan sejumlah harta yang diminta oleh Samiada. Pria mungil yang ternyata adalah residivis penggelapan cengkeh itu beraksi layaknya paranormal sakti. “Saya tidak pernah belajar. Itu cuma buat mengelabui saja. Saya tidak pakai alat hipnotis. Saya lakukan itu sudah 4 bulan ini kalau tidak salah dari Agustus. Saya untuk biaya hidup. Saya tidak bisa menjamin biaya hidup, dan saya butuh makan. Uangnya ya saya pakai untuk memenuhi kebutuhan. Saya sudah 3 kali melakukan itu,” kata dia.

 

Selain melakukannya dengan dalih penyembuhan, ia juga menjanjikan para korbannya sejumlah nomor togel. Ia pun berani menjamin nomor togel itu akan membawa rejeki dan mendatangkan banyak uang. “Yang menjanjikan nomor togel itu juga tidak ada. Saya cuma janji saja, terus agar dipercayai. Lalu saya menjanjikan hadiah yang cukup besar agar dipercayai. Setelah saya diberi uang sesuai dengan permintaan saya, saya pergi dan tidak datang-datang. Saya pakai aksara dan dupa yang saya buat sendiri,” tambahnya.

Baca Juga :  Bahas Nasib Penerapan PTM, Sanjaya Ingatkan Prinsip Kehati-hatian

 

Para korbannya pun saat itu tidak sadar bahwa dirinya telah terperdaya. Setelah dua hari kemudian mereka baru sadar mereka tertipu. Samiada pun dilaporkan ke polisi oleh Putu Eka Kariasa, 41 warga Banjar Dinas Dauh Margi, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng. Korban Kariasa mengaku didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal dan menjanjikan kesembuhan dengan cara mengikuti kegiatan di pedepokan, serta syarat menyerahkan uang tunai untuk pendaftaran dan membeli tempat persembahyangan berupa pelangkiran.

 

Karena korban ingin sembuh kemudian korban menuruti permintaan terduga pelaku dengan menyerahkan uang sesuai permintaan sebesar Rp 1.750.000,- untuk pendaftaran di pedopokan yang diserahkan pada Rabu (24/11) pukul 13.00 wita di rumah korban. “Keesokan harinya pada hari Kamis tanggal 25 Nopember 2021 uang tunai sebesar Rp 700 ribu untuk membeli tempat persembahyangan juga diberikan oleh korban kepada pelaku,” ungkap Kapolsek Singaraja Kompol Dewa Ketut Darma Ariawan. 

 

Dari laporan itu polisi bergerak melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan Samiada di Gang Samudra Indah, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, pada Sabtu (27/11) pukul 18.00 wita. Dari hasil interogasi terhadap pelaku, ternyata pria mungil itu tidak saja melakukan hipnotis terhadap Kariasa, namun juga terdapat korban lainnya dari desa Pedawa dan Desa Panji. Dari korban di desa Pedawa, Samiada mengeruk uang tunai sejumlah Rp 10 juta dan dari korban di desa Panji sebesar Rp 2 juta. “Uang hasil kejahatannya itu digunakan untuk membeli barang-barang elektronik, perhiasan hingga pakaian,” tambah Kompol Darma. 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pria berperawakan kecil dengan jubah oranye turun dari mobil tahanan. Dengan digiring oleh dua orang anggota polisi, Ketut Samiada alias Ketut, 55 hanya bisa tertunduk. Samiada diamankan Satreskrim Polres Buleleng lantaran terjerap kasus penipuan dengan hipnotis. Mulut manis dengan tutur kata yang lembut kini mengantarkan Samiada harus rela meringkuk dibalik sel tahanan. Pria dari Desa Busungbiu itu pun setiap harinya harus menikmati dinginnya lantai tahanan. 

 

Saat kasusnya dirilis, Selasa (30/11) pagi, Samiada mengaku terpaksa melakukan hal itu lantaran sudah tidak punya pekerjaan. Dari hasil hipnotis bodong dengan dupa dan aksara yang ia ciptakan sendiri, ia berhasil mendapatkan pundi-pundi rupiah. Ia melakukan hipnotis dengan dalih untuk melakukan penyembuhan. Ia mendatangi korbannya ke rumah-rumah dan menawarkan jasa penyembuhan secara niskala. Segala bujuk rayu dengan diperkuat tutur lembut, dupa dan aksara akhirnya para korbannya pun percaya dan memberikan sejumlah harta yang diminta oleh Samiada. Pria mungil yang ternyata adalah residivis penggelapan cengkeh itu beraksi layaknya paranormal sakti. “Saya tidak pernah belajar. Itu cuma buat mengelabui saja. Saya tidak pakai alat hipnotis. Saya lakukan itu sudah 4 bulan ini kalau tidak salah dari Agustus. Saya untuk biaya hidup. Saya tidak bisa menjamin biaya hidup, dan saya butuh makan. Uangnya ya saya pakai untuk memenuhi kebutuhan. Saya sudah 3 kali melakukan itu,” kata dia.

 

Selain melakukannya dengan dalih penyembuhan, ia juga menjanjikan para korbannya sejumlah nomor togel. Ia pun berani menjamin nomor togel itu akan membawa rejeki dan mendatangkan banyak uang. “Yang menjanjikan nomor togel itu juga tidak ada. Saya cuma janji saja, terus agar dipercayai. Lalu saya menjanjikan hadiah yang cukup besar agar dipercayai. Setelah saya diberi uang sesuai dengan permintaan saya, saya pergi dan tidak datang-datang. Saya pakai aksara dan dupa yang saya buat sendiri,” tambahnya.

Baca Juga :  Ketok Palu, Perda Atraksi Budaya Tak Mengatur Tajen sebagai Judi

 

Para korbannya pun saat itu tidak sadar bahwa dirinya telah terperdaya. Setelah dua hari kemudian mereka baru sadar mereka tertipu. Samiada pun dilaporkan ke polisi oleh Putu Eka Kariasa, 41 warga Banjar Dinas Dauh Margi, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng. Korban Kariasa mengaku didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal dan menjanjikan kesembuhan dengan cara mengikuti kegiatan di pedepokan, serta syarat menyerahkan uang tunai untuk pendaftaran dan membeli tempat persembahyangan berupa pelangkiran.

 

Karena korban ingin sembuh kemudian korban menuruti permintaan terduga pelaku dengan menyerahkan uang sesuai permintaan sebesar Rp 1.750.000,- untuk pendaftaran di pedopokan yang diserahkan pada Rabu (24/11) pukul 13.00 wita di rumah korban. “Keesokan harinya pada hari Kamis tanggal 25 Nopember 2021 uang tunai sebesar Rp 700 ribu untuk membeli tempat persembahyangan juga diberikan oleh korban kepada pelaku,” ungkap Kapolsek Singaraja Kompol Dewa Ketut Darma Ariawan. 

 

Dari laporan itu polisi bergerak melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan Samiada di Gang Samudra Indah, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, pada Sabtu (27/11) pukul 18.00 wita. Dari hasil interogasi terhadap pelaku, ternyata pria mungil itu tidak saja melakukan hipnotis terhadap Kariasa, namun juga terdapat korban lainnya dari desa Pedawa dan Desa Panji. Dari korban di desa Pedawa, Samiada mengeruk uang tunai sejumlah Rp 10 juta dan dari korban di desa Panji sebesar Rp 2 juta. “Uang hasil kejahatannya itu digunakan untuk membeli barang-barang elektronik, perhiasan hingga pakaian,” tambah Kompol Darma. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru