alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Karantina Wisman Tujuh Hari, Kedatangan Wisman ke Bali Makin Jauh?

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ditemukannya varian baru Covid-19 di Afrika, Omicron, berujung pada putusan pemerintah pusat yang memperpanjang masa karantina untuk wisatawan mancanegara (wisman). Yang mana, karantina yang awalnya selama tiga hari, kini diperpanjang menjadi tujuh hari. Aturan ini berlaku bagi WNA maupun WNI dari luar negeri.

Aturan tersebut memberlakukan karantina tujuh hari bagi WNA dan WNI yang dari luar negeri di luar negara-negara yang masuk daftar pada poin A. Sementara untuk negara-negara yang masuk poin A, karantina dilakukan selama 14 hari. Negara-negara poin A tersebut yakni Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Malawi, Angola, Zambia, dan Hong Kong.

Menanggapi kebijakan tersebut, Wakil Ketua Bali Hotels Association (BHA), Fransiska Handoko menilai, kebijakan pemerintah tersebut bersifat pencegahan untuk menghindari masuknya varian baru ke Indonesia. Pihaknya sangat berharap agar kebijakan tersebut selalu ditinjau sesuai dengan perkembangan Covid-19 dunia. Menurutnya, saat ini mitigasi dan risiko manajemen yang paling penting.

“Permasalahan wisman datang ke Bali bukan hanya faktor karantina saja, akan tetapi masih ada faktor lain yaitu jenis visa dan penerbangan,” katanya saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (29/11).

Disinggung apakah dengan adanya kebijakan baru ini menyebabkan harapan masyarakat Bali akan kedatangan wisman semakin jauh, pihaknya pun tak menampik. “Sementara ini iya (harapan wisman datang masih jauh), sehingga harapannya dapat disesuaikan kembali berdasarkan risiko manajemen yang terukur. Tidak hanya implementasi tanpa ditinjau secara terus-menerus untuk dilakukan perubahan, tentunya dengan melihat juga apa yang dilakukan negara-negara lain destinasi pariwisata yang lebih dahulu membuka pintu internasional seperti Maldives dan Thailand,” paparnya.

Lebih lanjut, pihaknya berharap pemerintah dapat segera melakukan langkah kongkrit untuk Bali. Setidaknya dalam hal regulasi penerbangan, negara asal wisman yang diperkenankan ke Bali dan juga regulasi visa sambil menunggu perubahan regulasi karantina yang masih membutuhkan waktu untuk pengambilan sebuah keputusan.

Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra menyampaikan, dengan diberlakukannya kebijakan ini otomatis tak akan ada wisman yang berkunjung ke Bali. “Tiga hari karantina saja belum ada kunjungan, apalagi yang tujuh hari,” ujar pria yang kerap disapa Gusde Sidharta ini.

Terlebih kondisi ini ditambah dengan adanya penerapan PPKM level 3 di akhir tahun yang diperkirakan semakin menurunkan kunjungan orang berwisata ke Bali. Berlakunya kebijakan ini, pihaknya berharap pelaku dan pengusaha pariwisata mampu bertahan. “Apalagi ada PPKM di akhir tahun. (Saya berharap) Semoga teman-teman pengusaha pariwisata mampu bertahan,” tuturnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Ditemukannya varian baru Covid-19 di Afrika, Omicron, berujung pada putusan pemerintah pusat yang memperpanjang masa karantina untuk wisatawan mancanegara (wisman). Yang mana, karantina yang awalnya selama tiga hari, kini diperpanjang menjadi tujuh hari. Aturan ini berlaku bagi WNA maupun WNI dari luar negeri.

Aturan tersebut memberlakukan karantina tujuh hari bagi WNA dan WNI yang dari luar negeri di luar negara-negara yang masuk daftar pada poin A. Sementara untuk negara-negara yang masuk poin A, karantina dilakukan selama 14 hari. Negara-negara poin A tersebut yakni Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Malawi, Angola, Zambia, dan Hong Kong.

Menanggapi kebijakan tersebut, Wakil Ketua Bali Hotels Association (BHA), Fransiska Handoko menilai, kebijakan pemerintah tersebut bersifat pencegahan untuk menghindari masuknya varian baru ke Indonesia. Pihaknya sangat berharap agar kebijakan tersebut selalu ditinjau sesuai dengan perkembangan Covid-19 dunia. Menurutnya, saat ini mitigasi dan risiko manajemen yang paling penting.

“Permasalahan wisman datang ke Bali bukan hanya faktor karantina saja, akan tetapi masih ada faktor lain yaitu jenis visa dan penerbangan,” katanya saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (29/11).

Disinggung apakah dengan adanya kebijakan baru ini menyebabkan harapan masyarakat Bali akan kedatangan wisman semakin jauh, pihaknya pun tak menampik. “Sementara ini iya (harapan wisman datang masih jauh), sehingga harapannya dapat disesuaikan kembali berdasarkan risiko manajemen yang terukur. Tidak hanya implementasi tanpa ditinjau secara terus-menerus untuk dilakukan perubahan, tentunya dengan melihat juga apa yang dilakukan negara-negara lain destinasi pariwisata yang lebih dahulu membuka pintu internasional seperti Maldives dan Thailand,” paparnya.

Lebih lanjut, pihaknya berharap pemerintah dapat segera melakukan langkah kongkrit untuk Bali. Setidaknya dalam hal regulasi penerbangan, negara asal wisman yang diperkenankan ke Bali dan juga regulasi visa sambil menunggu perubahan regulasi karantina yang masih membutuhkan waktu untuk pengambilan sebuah keputusan.

Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra menyampaikan, dengan diberlakukannya kebijakan ini otomatis tak akan ada wisman yang berkunjung ke Bali. “Tiga hari karantina saja belum ada kunjungan, apalagi yang tujuh hari,” ujar pria yang kerap disapa Gusde Sidharta ini.

Terlebih kondisi ini ditambah dengan adanya penerapan PPKM level 3 di akhir tahun yang diperkirakan semakin menurunkan kunjungan orang berwisata ke Bali. Berlakunya kebijakan ini, pihaknya berharap pelaku dan pengusaha pariwisata mampu bertahan. “Apalagi ada PPKM di akhir tahun. (Saya berharap) Semoga teman-teman pengusaha pariwisata mampu bertahan,” tuturnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/