alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Pembunuh Dokter Hewan di Tabanan Divonis 15 Tahun

BALI EXPRESS, TABANAN – Perkara pembunuhan dokter hewan pemilik toko bangunan di Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, dengan terdakwa Ida Bagus Surya Ambara alias Surya Braco, agaknya akan berlanjut ke Pengadilan Tinggi.

 

Ini menyusul sikap tim jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan yang memutuskan untuk menempuh upaya banding.

 

Upaya hukum lanjutan tersebut dikarenakan jaksa belum puas dengan putusan yang ditetapkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tabanan.

 

Dalam amar putusannya, majelis hakim PN Tabanan menetapkan Surya Braco terbukti melakukan pembunuhan sebagaimana dakwaan subsider, yakni sesuai ketentuan Pasal 338 KUHP.

 

Masih dalam putusannya, hakim juga mengganjar terdakwa dengan hukuman maksimal dari ketentuan pasal 338 KUHP yakni 15 tahun penjara.

 

Meski hukuman yang dijatuhkan terhitung maksimal, penuntut umum masih tetap pada pendiriannya seperti yang telah diajukan dalam surat tuntutannya.

 

Ditambah lagi putusan hukuman itu lebih ringan empat tahun meski masih diatas dua pertiga dari tuntutan.

 

Dalam surat tuntutan, penuntut umum meminta agar terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana sesuai ketentuan Pasal 340 KUHP.

 

Selain itu, penuntut umum juga meminta agar hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa selama 19 tahun.

 

Kepala Seksi Intel (Kasi Intel) pada Kejari Tabanan, Pande Putu Wena Mahaputra, membenarkan upaya hukum yang tengah dilakukan pihaknya tersebut.

 

“Kami ajukan banding,” jelas Pande, Senin (29/11).

 

Senada dengan itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum), I Dewa Gede Putra Awatara, yang mengawal perkara ini di persidangan menyebutkan, putusan terhadap terdakwa telah ditetapkan majelis hakim PN Tabanan.

 

“Sesuai pedoman tuntutan dari Kejaksaan Agung kami wajib mengajukan banding. Ya terkait pasal maupun putusannya juga,” sebut Awatara.

 

Dia menambahkan, proses pengajuan banding juga sudah diajukan pada Kamis lalu (25/11). Itupun setelah memperoleh kesempatan untuk pikir-pikir selama seminggu sejak putusan tersebut disampaikan.

 

“Sebelumnya, setelah surat tuntutan kami sampaikan, proses persidangan dilanjutkan dengan pledoi. Ya saling tanggap-menanggapilah,” pungkasnya.

 

Sebelumnya, dalam surat tuntutannya, jaksa mengharapkan terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap Drh I Made Kompyang Artawan alias Pak Dipa sebagai korbannya.

 

Tuntutan itu sebagaimana dakwaan primer yang diajukan penuntut umum. Ketentuan pidana yang dipakai dalam dakwaan primer adalah Pasal 340 KUHP.

 

Dalam surat tuntutannya, jaksa juga meminta majelis hakim mengganjar terdakwa dengan hukuman 19 tahun penjara.

 

Perkara pembunuhan itu sendiri terjadi pada 23 Maret 2021 lalu. Di pinggir jalan utama Desa Riang Gede.

 

Peristiwa itu berawal saat terdakwa melintasi rumah korban sembari menggeber bunyi motornya.

 

Korban yang tersinggung kemudian menyusul terdakwa yang saat itu hendak memarkir motor tidak jauh dari rumahnya.

 

Dalam peristiwa yang terjadi menjelang petang itu, korban akhirnya mengalami beberapa luka tusukan.

 

Usai ditusuk, korban sempat berlari beberapa meter meminta pertolongan. Namun nyawanya tidak terselamatkan. 


BALI EXPRESS, TABANAN – Perkara pembunuhan dokter hewan pemilik toko bangunan di Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, dengan terdakwa Ida Bagus Surya Ambara alias Surya Braco, agaknya akan berlanjut ke Pengadilan Tinggi.

 

Ini menyusul sikap tim jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan yang memutuskan untuk menempuh upaya banding.

 

Upaya hukum lanjutan tersebut dikarenakan jaksa belum puas dengan putusan yang ditetapkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tabanan.

 

Dalam amar putusannya, majelis hakim PN Tabanan menetapkan Surya Braco terbukti melakukan pembunuhan sebagaimana dakwaan subsider, yakni sesuai ketentuan Pasal 338 KUHP.

 

Masih dalam putusannya, hakim juga mengganjar terdakwa dengan hukuman maksimal dari ketentuan pasal 338 KUHP yakni 15 tahun penjara.

 

Meski hukuman yang dijatuhkan terhitung maksimal, penuntut umum masih tetap pada pendiriannya seperti yang telah diajukan dalam surat tuntutannya.

 

Ditambah lagi putusan hukuman itu lebih ringan empat tahun meski masih diatas dua pertiga dari tuntutan.

 

Dalam surat tuntutan, penuntut umum meminta agar terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana sesuai ketentuan Pasal 340 KUHP.

 

Selain itu, penuntut umum juga meminta agar hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa selama 19 tahun.

 

Kepala Seksi Intel (Kasi Intel) pada Kejari Tabanan, Pande Putu Wena Mahaputra, membenarkan upaya hukum yang tengah dilakukan pihaknya tersebut.

 

“Kami ajukan banding,” jelas Pande, Senin (29/11).

 

Senada dengan itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum), I Dewa Gede Putra Awatara, yang mengawal perkara ini di persidangan menyebutkan, putusan terhadap terdakwa telah ditetapkan majelis hakim PN Tabanan.

 

“Sesuai pedoman tuntutan dari Kejaksaan Agung kami wajib mengajukan banding. Ya terkait pasal maupun putusannya juga,” sebut Awatara.

 

Dia menambahkan, proses pengajuan banding juga sudah diajukan pada Kamis lalu (25/11). Itupun setelah memperoleh kesempatan untuk pikir-pikir selama seminggu sejak putusan tersebut disampaikan.

 

“Sebelumnya, setelah surat tuntutan kami sampaikan, proses persidangan dilanjutkan dengan pledoi. Ya saling tanggap-menanggapilah,” pungkasnya.

 

Sebelumnya, dalam surat tuntutannya, jaksa mengharapkan terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap Drh I Made Kompyang Artawan alias Pak Dipa sebagai korbannya.

 

Tuntutan itu sebagaimana dakwaan primer yang diajukan penuntut umum. Ketentuan pidana yang dipakai dalam dakwaan primer adalah Pasal 340 KUHP.

 

Dalam surat tuntutannya, jaksa juga meminta majelis hakim mengganjar terdakwa dengan hukuman 19 tahun penjara.

 

Perkara pembunuhan itu sendiri terjadi pada 23 Maret 2021 lalu. Di pinggir jalan utama Desa Riang Gede.

 

Peristiwa itu berawal saat terdakwa melintasi rumah korban sembari menggeber bunyi motornya.

 

Korban yang tersinggung kemudian menyusul terdakwa yang saat itu hendak memarkir motor tidak jauh dari rumahnya.

 

Dalam peristiwa yang terjadi menjelang petang itu, korban akhirnya mengalami beberapa luka tusukan.

 

Usai ditusuk, korban sempat berlari beberapa meter meminta pertolongan. Namun nyawanya tidak terselamatkan. 


Most Read

Artikel Terbaru

/