alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Tak Miliki Rumah Aman, Korban Pencabulan Dititipkan di Panti Asuhan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kasus pencabulan yang menimpa seorang anak 15 tahun di Buleleng membuat psikis korban sangat terguncang. Kondisi trauma yang dialami korban membuatnya ketakutan dan merasa dihantui oleh peristiwa terset. Terkadang korban menangis saat sekilas mengingat peristiwa yang menimpanya.

 

Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, DP2KBP3A Kabupaten Buleleng, Putu Agustini menjelaskan, tim Pusat Perlindungan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak telah melakukan pendampingan terhadap korban. Namun tim masih belum dapat mengorek informasi lebih lanjut lantaran korban masih trauma. Kini korban dititipkan di salah satu panti asuhan di Buleleng. “Kalau pulang dia kan takut karena peristiwa kemarin itu. Jadi kami mencari jalan menitipkan di panti asuhan tapi dengan pengawasan kami. Karena terpaksa, kami tidak punya rumah aman,” terangnya, Kamis (31/3) siang.

 

Agustini berharap Buleleng segera memiliki rumah aman mengingat kasus yang melibatkan perempuan dan anak tergolong tinggi. “Ketika ada kasus-kasus seperti ini kami juga susah. Karena kami tidak memiliki tempat yang tepat. Yang memudahkan kami melakukan pendampingan dan lainnya. Jadi ini kami sangat perlukan,” kata dia.

 

Dari keterangan yang diperoleh tim P2TP2A korban tinggal bersama ayahnya. Sementara ibu korban yang saat ini mendampingi korban adalah ibu tirinya. “Untuk sementara kami tidak bisa berkomentar lebih, karena korban kondisinya masih labil,” ujarnya.

 

Di sisi lain, Unit PPA Polres Buleleng telah memeriksa 4 orang saksi terkait kasus tersebut. Empat saksi yang sudah dimintai keterangan diantaranya korban, pelapor, dan saksi fakta. Kepada penyidik, saksi fakta mengaku ada di TKP, atau di rumah antara pelaku dan korban, saat dugaan persetubuhan itu terjadi. “Saksi fakta itu saudara korban yang dari keterangannya ada di rumah,” ungkap Kasi Humas Polres Buleleng AKP I Gede Sumarjaya.

 

Diberitakan sebelumnya, pada Sabtu (26/3) lalu seorang ayah tega menggagahi anaknya yang sedang berada dalam kamar. Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 00.00 wita. Nahas, kondisi rumah saat itu sepi lantaran sang ibu masih berada di Kabupaten Bangli. Alhasil aksi yang dilakukan sang ayah terhadap putrinya yang masih berusia 15 tahun itu berjalan mulus.

 

Korban merupakan anak kandung dari pelaku. Saat melakukan aksinya terdapat unsur paksaan. Sebab korban yang saat itu berada dalam kamar didatangi oleh ayahnya. Karena tak cukup kuat untuk melawan, sang ayah berhasil mencabuli korban. “Korban sempat melawan saat mala itu, tapi karena kedua tangannya dipegang oleh ayahnya, jadinya tidak bisa melawan lagi. Kondisi rumah konon sepi. Ibunya di Bangli,” kata Sumarjaya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kasus pencabulan yang menimpa seorang anak 15 tahun di Buleleng membuat psikis korban sangat terguncang. Kondisi trauma yang dialami korban membuatnya ketakutan dan merasa dihantui oleh peristiwa terset. Terkadang korban menangis saat sekilas mengingat peristiwa yang menimpanya.

 

Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, DP2KBP3A Kabupaten Buleleng, Putu Agustini menjelaskan, tim Pusat Perlindungan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak telah melakukan pendampingan terhadap korban. Namun tim masih belum dapat mengorek informasi lebih lanjut lantaran korban masih trauma. Kini korban dititipkan di salah satu panti asuhan di Buleleng. “Kalau pulang dia kan takut karena peristiwa kemarin itu. Jadi kami mencari jalan menitipkan di panti asuhan tapi dengan pengawasan kami. Karena terpaksa, kami tidak punya rumah aman,” terangnya, Kamis (31/3) siang.

 

Agustini berharap Buleleng segera memiliki rumah aman mengingat kasus yang melibatkan perempuan dan anak tergolong tinggi. “Ketika ada kasus-kasus seperti ini kami juga susah. Karena kami tidak memiliki tempat yang tepat. Yang memudahkan kami melakukan pendampingan dan lainnya. Jadi ini kami sangat perlukan,” kata dia.

 

Dari keterangan yang diperoleh tim P2TP2A korban tinggal bersama ayahnya. Sementara ibu korban yang saat ini mendampingi korban adalah ibu tirinya. “Untuk sementara kami tidak bisa berkomentar lebih, karena korban kondisinya masih labil,” ujarnya.

 

Di sisi lain, Unit PPA Polres Buleleng telah memeriksa 4 orang saksi terkait kasus tersebut. Empat saksi yang sudah dimintai keterangan diantaranya korban, pelapor, dan saksi fakta. Kepada penyidik, saksi fakta mengaku ada di TKP, atau di rumah antara pelaku dan korban, saat dugaan persetubuhan itu terjadi. “Saksi fakta itu saudara korban yang dari keterangannya ada di rumah,” ungkap Kasi Humas Polres Buleleng AKP I Gede Sumarjaya.

 

Diberitakan sebelumnya, pada Sabtu (26/3) lalu seorang ayah tega menggagahi anaknya yang sedang berada dalam kamar. Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 00.00 wita. Nahas, kondisi rumah saat itu sepi lantaran sang ibu masih berada di Kabupaten Bangli. Alhasil aksi yang dilakukan sang ayah terhadap putrinya yang masih berusia 15 tahun itu berjalan mulus.

 

Korban merupakan anak kandung dari pelaku. Saat melakukan aksinya terdapat unsur paksaan. Sebab korban yang saat itu berada dalam kamar didatangi oleh ayahnya. Karena tak cukup kuat untuk melawan, sang ayah berhasil mencabuli korban. “Korban sempat melawan saat mala itu, tapi karena kedua tangannya dipegang oleh ayahnya, jadinya tidak bisa melawan lagi. Kondisi rumah konon sepi. Ibunya di Bangli,” kata Sumarjaya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/