alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Narkoba Jangkiti 2 Juta Pelajar, BNNP Bali Masuk Kampus

DENPASAR, BALI EXPRESS – Narkoba menjadi momok yang merusak generasi muda. Bahkan berdasarkan data secara nasional setahun terakhir, lebih dari 2 juta pelajar dan mahasiswa menggunakan benda terlarang itu. Sehingga Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali terus berupaya untuk menjaga generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba. 

Upaya tersebut dengan memberikan edukasi dan informasi yang benar tentang bahaya narkoba. Salah satunya dengan Kepala BNNP Bali Brigjenpol Gde Sugianyar Dwi Putra hadir sebagai narasumber dalam acara Gema Penerimaan Eksekutif Muda Universitas Mahasaraswati Denpasar Tahun 2021/2022, Selasa (31/8) pagi.

Di hadapan 2.376 mahasiswa baru yang hadir secara daring, mantan Kabid Humas Polda Bali itu menyampaikan, tingginya penyalahgunaan narkoba oleh anak muda disebabkan beberapa faktor. “Seperti rasa keingintahuan di kalangan generasi muda yang cukup tinggi, serta pengaruh lingkungan yang mendukung penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.

Ditambahkan olehnya, sampai saat ini belum ada obat yang ampuh membuat pecandu bisa berhenti menggunakan narkoba. “Narkoba bisa mengancam siapa saja, sekali terjerat akan sulit untuk lepas dari pengaruh buruk narkoba karena pecandu narkoba tidak bisa disembuhkan hanya bisa dipulihkan,” kata dia.

Sehingga BNN sebagai salah satu instansi yang ditugaskan negara untuk mengatasi masalah ini masif melakukan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Pihaknya mengharapkan para mahasiswa bisa memahani bahaya narkoba serta memiliki ketahanan diri terhadap ancaman narkoba di lingkungannya.

Lanjut dikatakan olehnya, jika untuk sembuh dari narkoba belum ada obat ampuhnya, maka satu langkah terbaik yang dilakukan saat ini adalah rehabilitasi. Walaupun begitu, tetap saja tak menjamin para pecandu bisa sembuh. “Berdasarkan data, 90 persen pecandu yang telah direhabilitasi kembali menggunakan narkotika,” tandasnya.

Hal itu juga diperburuk dengan masalah yaitu pengetahuan masyarakat untuk rehabilitasi masih rendah, yang terhitung secara nasional hanya 4,6 persen penyalahguna yang pernah ikut rehabilitasi, dan itu termasuk Bali. Untuk itu pihaknya getol melakukan pendekatan soft power dengan sosialisasi program layanan rehabilitasi gratis. Agar para pecandu atau keluarga yang mengetahui anggotanya sebagai pengguna bersedia secara sukarela melapor diri untuk ikut rehabilitasi sebelum ditangkap polisi. “Privasi dijamin dan tidak dituntut pidana,” serunya.

Sementara Rektor UNMAS Denpasar, Dr. Drs. I Made Sukamerta, MPd menyampaikan bahwa Universitas Mahasaraswati Denpasar sangat mendukung program P4GN yang dilakukan BNN. “Salah satu wujudnya yaitu adanya mata kuliah wajib anti narkoba bagi mahasiswa baru sebanyak 2 SKS,” tutupnya. (ges)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Narkoba menjadi momok yang merusak generasi muda. Bahkan berdasarkan data secara nasional setahun terakhir, lebih dari 2 juta pelajar dan mahasiswa menggunakan benda terlarang itu. Sehingga Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali terus berupaya untuk menjaga generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba. 

Upaya tersebut dengan memberikan edukasi dan informasi yang benar tentang bahaya narkoba. Salah satunya dengan Kepala BNNP Bali Brigjenpol Gde Sugianyar Dwi Putra hadir sebagai narasumber dalam acara Gema Penerimaan Eksekutif Muda Universitas Mahasaraswati Denpasar Tahun 2021/2022, Selasa (31/8) pagi.

Di hadapan 2.376 mahasiswa baru yang hadir secara daring, mantan Kabid Humas Polda Bali itu menyampaikan, tingginya penyalahgunaan narkoba oleh anak muda disebabkan beberapa faktor. “Seperti rasa keingintahuan di kalangan generasi muda yang cukup tinggi, serta pengaruh lingkungan yang mendukung penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.

Ditambahkan olehnya, sampai saat ini belum ada obat yang ampuh membuat pecandu bisa berhenti menggunakan narkoba. “Narkoba bisa mengancam siapa saja, sekali terjerat akan sulit untuk lepas dari pengaruh buruk narkoba karena pecandu narkoba tidak bisa disembuhkan hanya bisa dipulihkan,” kata dia.

Sehingga BNN sebagai salah satu instansi yang ditugaskan negara untuk mengatasi masalah ini masif melakukan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Pihaknya mengharapkan para mahasiswa bisa memahani bahaya narkoba serta memiliki ketahanan diri terhadap ancaman narkoba di lingkungannya.

Lanjut dikatakan olehnya, jika untuk sembuh dari narkoba belum ada obat ampuhnya, maka satu langkah terbaik yang dilakukan saat ini adalah rehabilitasi. Walaupun begitu, tetap saja tak menjamin para pecandu bisa sembuh. “Berdasarkan data, 90 persen pecandu yang telah direhabilitasi kembali menggunakan narkotika,” tandasnya.

Hal itu juga diperburuk dengan masalah yaitu pengetahuan masyarakat untuk rehabilitasi masih rendah, yang terhitung secara nasional hanya 4,6 persen penyalahguna yang pernah ikut rehabilitasi, dan itu termasuk Bali. Untuk itu pihaknya getol melakukan pendekatan soft power dengan sosialisasi program layanan rehabilitasi gratis. Agar para pecandu atau keluarga yang mengetahui anggotanya sebagai pengguna bersedia secara sukarela melapor diri untuk ikut rehabilitasi sebelum ditangkap polisi. “Privasi dijamin dan tidak dituntut pidana,” serunya.

Sementara Rektor UNMAS Denpasar, Dr. Drs. I Made Sukamerta, MPd menyampaikan bahwa Universitas Mahasaraswati Denpasar sangat mendukung program P4GN yang dilakukan BNN. “Salah satu wujudnya yaitu adanya mata kuliah wajib anti narkoba bagi mahasiswa baru sebanyak 2 SKS,” tutupnya. (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/