Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Tri Mandala di Pura

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 20 Juli 2023 | 22:15 WIB
Struktur pura mengikuti konsep Tri Mandala.
Struktur pura mengikuti konsep Tri Mandala.

BALI EXPRESS - Pura sebagai tempat pemujaan dimulai pada zaman sebelum Dalem Kepakisan, Rsi Markandeya mendirikan Pura Besakih.  Pada abad XI Empu Kuturan memopulerkan pura dengan Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem) dan tempat memuja Sang Hyang Widhi yang disebut Meru.

Pada zaman Dang Hyang Dwi Jendra, tempat memuja Sang Hyang Widhi disebut Padmasana. Pura sebagai tempat suci Umat Hindu di Indonesia. Pura merupakan tempat pemujaan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-NYA (manifestasi-NYA) dan atau Atma Sidha Dewata (roh suci leluhur) dengan sarana upacara yadnya.

Dalam Buku Materi Pokok Acara Agama Hindu disebutkan bahwa pura sebagai tempat suci Umat Hindu memiliki arti dan fungsi yang sangat penting yakni ;

(1) Tempat untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya,

(2) Tempat umat mendekatkan diri dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan.

(3) Tempat dialog maupun komunikasi sosial masyarakat dan tempat persaksian atas suatu aktivitas.

(4) Tempat mengasah dan mendidik calon-calon pemimpin masyarakat.

Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Tri Mandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya, yakni:

Nista mandala (Jaba pisan): zona terluar yang merupakan pintu masuk pura dari lingkungan luar.

Pada zona ini biasanya berupa lapangan atau taman yang dapat digunakan untuk kegiatan pementasan tari atau tempat persiapan dalam melakukan berbagai upacara keagamaan.

Madya mandala (Jaba tengah): zona tengah tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, dan Perantenan.

Utama mandala (Jeroan): yang merupakan zona paling suci di dalam pura. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.

Meskipun demikian tata letak untuk zona nista mandala dan madya mandala kadang tidak mutlak seperti demikian, karena beberapa bangunan seperti Bale Kulkul, atau Perantenan atau dapur pura dapat pula terletak di nista mandala.

Pada aturan zona tata letak pura maupun puri (istana) di Bali, baik gerbang Candi bentar maupun Paduraksa merupakan satu kesatuan rancang arsitektur.

Candi bentar merupakan gerbang untuk lingkungan terluar yang membatasi kawasan luar pura dengan nista mandala zona terluar kompleks pura. Sedangkan gerbang Kori Agung atau Paduraksa digunakan sebagai gerbang di lingkungan dalam pura, dan digunakan untuk membatasi zona madya mandala dengan utama mandala sebagai kawasan tersuci pura Bali.

Pada umumnya pura merupakan tempat untuk pelaksanaan Dewa Yadnya dimana dimaksud dalam rangka pelaksanaan upacara yadnya sebagai rasa syukur umat manusia atas berkat limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Esa (Sri Kresna) beserta semua sinar suci Beliau.

Pada dasarnya masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu merupakan masyarakat yang religius, hal ini tercermin pada pelaksanaan kegiatan keagamaan sehari-hari yang berdasarkan atas pelaksanaan yadnya. (*)

Editor : I Made Mertawan
#Tri Mandala #hindu #Pura Besakih #Upacara yadnya