BALIEXPRESS.ID - Uang kepeng sudah digunakan di Bali sejak ratusan tahun lalu dan kini masih eksis sebagai sarana upacara.
Uang kepeng yang disebut dengan nama pis bolong di Bali, tidak hanya sebagai salah satu hasil karya budaya manusia masa lampau dan kini, tetapi juga sebagai bukti dari interaksi manusia.
Dari temuan dan paparan tentang kenyataan masa lampau dan sampai pada masa kini memperlihatkan bahwa peranan uang kepeng dalam budaya dan agama Hindu di Bali tampak semakin eksis.
Meski tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah, uang kepeng masih memiliki nilai jual tinggi karena digunakan sebagai sarana upacara bagi umat Hindu di Bali serta diyakini memiliki kekuatan gaib.
Sejarah menyebutkan bahwa keberadaan uang kepeng di Bali tak lepas dari hubungan perekonomian pada masa lampau.
Ketika manusia belum mengenal uang sebagai alat tukar dan pembayaran, mereka menggunakan kerang laut atau taring binatang.
Kemudian pada awal abad Masehi yang dikenal dengan masa perundagian, kebudayaan Dongson memperkenalkan alat tukar perdagangan berupa cincin, gelang, anting dan benda-benda berbentuk lain yang terbuat dari perunggu.
Memasuki zaman kerajaan, termasuk masa Bali kuno, digunakan uang terbuat dari emas dan perak sebagai alat pembayaran yang ditentukan berdasarkan beratnya.
Misalnya Kati (ka) setara dengan 750 gram, suwarna (su) = 38 gram, dharana (dha) juga 38 gram, masa atau masaka (ma) = 2,4 gram, atak (ha) = 1,2 gram, kupang (ku) = 0,6 gram, dan saga (sa) atau piling (pi) = 0,1 gram.
Bukti arkeologi menyebutkan bahwa abad ke-9, pada masa Bali kuno, baru menggunakan uang sebagai alat pembayaran yang sah.
Sedangkan sebelumnya hanya digunakan sebagai alat tukar, termasuk juga uang kepeng.
Keberadaan uang kepeng di Nusantara diketahui sudah ada sejak abad sebelum masehi.
Kepingan logam dengan lubang di dalamnya ini sebenarnya merupakan mata uang logam Cina.
Menurut kolektor Dewa Putra Harthawan, uang kepeng pertama yang dimiliki Cina adalah mata uang Ban Liang yang dibuat pada masa Dinasti Qin (221 SM-206 SM).
Mata uang tersebut berasal dari sebuah konsep yang sudah dirumuskan pada masa Dinasti Zhou (1027 SM – 221 SM).
Konsep inilah yang menjadi ideologi Cina yang berpijak pada doktrin Tian Ming.
Menurut ideology tersebut, sumber otoritas pemerintahan tertinggi adalah penguasa langit, sehingga penguasa tertinggi di bumi adalah kaisar yang diyakini sebagai pengemban amanah dewa tertinggi yang bersemayam di langit.
Dialah manusia pilihan yang disebut putra langit atau son of heaven yang ditugaskan untuk memerintah di bumi.
Atas keyakinan itu, di bumi hanya ada satu penguasa, sedangkan raja-raja lainnya di luar wilayah Cina adalah bangsa barbar yang harus menyerahkan upeti ke kerajaan sentral di Cina.
Dari konsep ini pula terlahir mata uang kepeng berbentuk bulat dengan lubang segi empat di tengahnya. Bentuk bulat melambangkan langit dan sorga, sedangkan segi empat adalah lambang bumi.
Mata uang yang terlahir dari konsep Dinasti Zhou ini menyebar ke seluruh bagian Cina dan digunakan oleh dinasti selanjutnya yaitu Dinasti Han (206 SM -220 M).
Mata uang Ban Liang diganti dengan mata uang Wu Zhu yang dicetak tahun 118 SM.
Mata uang ini beredar selama 739 tahun, digunakan sebagai mata uang resmi oleh tiga generasi kerajaan, di antaranya Sam Kok (220 M – 265 M), Dinasti Sui (581 M – 618 M), dan akhirnya ditarik dari peredaran pada masa pemerintahan Dinasti Tang tahun 621 M.
Dinasti Tang mencetak uang baru dengan ciri empat huruf Cina di bidang muka.
Uang kepeng pada masa ini terbuat dari campuran lima logam yaitu emas, perak, tembaga, besi dan timah sehingga menguasai peredaran uang selama 300 tahun.
Mata uang yang lebih dikenal dengan Kai Yuan Tong Bao ini dicetak pada masa pemerintahan Kaisar Tang Gao Zu tahun 618-626 M.
Sejak itulah baru dilukis model uang yang memuat tahun, nama kaisar dan kata Tong Bao atau Yuan Bao yang berarti mata uang.
Tahun 960-976 M, ketika kekuasaan atas Cina dikendalikan oleh Dinasti Song, 16 kaisar dari 18 kaisar yang berkuasa mengeluarkan mata uang baru.
Pada masa itu dicetak 137 jenis mata uang logam dari 48 nama pemerintahan.
Setiap masa dari kaisar yang baru mencetak mata uang baru dengan gaya tulisan yang baru.
Ada kalanya pula satu mata uang logam ditulis dengan gaya tulisan berbeda sehingga jenis mata uang pada masa Dinasti Song paling banyak.
Dinasti Song digulingkan oleh suku bangsa Mongol dengan nama dinasti Yuan. Kaisar pertama dari dinasti ini adalah Kublai Khan dengan gelar Shi Zu.
Cucu Jengis Khan ini memerintah tahun 1279. Pada masa pemerintahan Dinasti Yuan, sedikitnya delapan kaisar yang mengeluarkan mata uang dari 10 kaisar keturunan Mongol.
Kublai Khan membatasi pencetakan mata uang karena keterbatasan persediaan logam sebagai bahan uang.
Selain itu uang kertas yang dipelopori Dinasti Tang dan Song digunakan lagi.
Setelah kekaisaran Dinasti Yuan di bawah kepemimpinan bangsa Mongol digulingkan oleh Dinasti Ming, dicetak mata uang logam bertuliskan Da Zhong dan Hong Wu.
Ketika kekaisaran digantikan oleh Zheng Zu (1403 M – 1424 M) dicetak mata uang logam bertuliskan Yong Le tahun 1408 M.
Namun pada masa ini pernah terjadi kelangkaan uang karena banyak uang diekspor ke luar negeri termasuk ke Nusantara.
Tahun 1644 M hingga tahun 1911 M kekaisaran Cina dikuasai oleh suku bangsa Manchu yang kemudian mendirikan dinasti baru bernama Dinasti Qing.
Pada masa ini perdagangan dengan bangsa Eropa makin berkembang sehingga kebutuhan uang makin meningkat.
Setiap kaisar baru membuat mata uang baru bertuliskan nama kaisar dalam huruf Cina, dan di bagian belakang ditulis nama daerah memakai huruf Manchu.
Jenis mata uang ini pula yang banyak ditemukan beredar di Bali.
Editor : Nyoman Suarna