Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengulik Sejarah Desa Abiantuwung Tabanan, Berawal dari Hutan Bambu yang Terkenal Angker

Y. Raharyo • Kamis, 22 Agustus 2024 | 21:18 WIB
Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali memiliki kisah sejarah yang unik
Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali memiliki kisah sejarah yang unik

BALIEXPRESS.ID - Desa Abiantuwung, yang terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, merupakan salah satu desa kuno yang sarat dengan nilai sejarah dan budaya.

Saat ini, Abiantuwung menjadi salah satu desa dengan jumlah pendudukan terbanyak di Tabanan. Jumlah penduduknya dikutip dari website Desa Abiantuwung per 21 Agustus 2024 mencapai 11.471 jiwa. Menurut BPS per 2022, jumlah penduduknya 11.782 jiwa.

Dikutip dari laman desa, Desa Abiantuwung dikenal sebagai salah satu desa Bali Kuno, sebagaimana dibuktikan dengan adanya peninggalan arkeologi berupa Arca Ganapati atau Ganesa yang terletak di Pura Gede, yang kini dikenal sebagai Pura Puseh Abiantuwung.

Arca Ganesa ini merupakan simbol penting dalam agama Hindu, khususnya dalam tradisi Siwa, di mana Ganesa dikenal sebagai dewa penghalang segala rintangan dan gangguan.

Penempatan arca ini pada tempat-tempat yang dianggap angker menunjukkan bahwa wilayah Abiantuwung pada masa lalu merupakan area yang penuh misteri dan tantangan.

Namun, tidak ada angka tahun kapa desa ini berdiri. Namun, diduga berkaitan dengan setelah adanya Kerajaan Marga yang ada setelah invasi Kerajaan Majapahit ke Bali.

Seiring dengan berjalannya waktu, Desa Abiantuwung berkembang menjadi desa yang memiliki tatanan sosial dan budaya yang kompleks.

Saat ini, desa ini terdiri dari 13 banjar atau wilayah administratif, yang tersebar dari perbatasan Mengwi di timur hingga Tabanan di barat.

Desa ini juga memiliki lima desa adat, yang mencerminkan keberagaman dan kekayaan tradisi yang dimiliki oleh masyarakatnya.

Tidak hanya itu, Abiantuwung juga dikenal dengan keberadaan Wantilan, tempat sabung ayam yang menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat.

Pada tahun 1912, Wantilan di Abiantuwung menjadi saksi bisu dari dinamika kehidupan masyarakat desa yang erat kaitannya dengan tradisi dan ritual keagamaan.

Sebagai desa yang memiliki nilai budaya luhur, Abiantuwung juga dikenal dengan banyaknya pura-pura kuno yang tersebar di seluruh wilayah desa. Pura-pura ini tidak hanya menjadi tempat pemujaan, tetapi juga simbol kekayaan spiritual dan kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur desa.

Di antaranya, terdapat Pura Tri Kahyangan (Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem) yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual masyarakat Abiantuwung.

Desa Abiantuwung juga memiliki dua lembaga pertanian yang terdiri dari Subak Sungi II dan Subak Tungkub I, yang berperan penting dalam mengatur tatanan pertanian di desa ini.

Nama Abiantuwung

Asal-usul nama desa ini sendiri memiliki makna mendalam yang terkait dengan kondisi geografis dan sejarah awal terbentuknya.

Pada masa awal, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Abiantuwung adalah sebuah hutan bambu (alas tiying) yang lebat dan angker, terletak di ujung wilayah Marga.

Hutan ini kemudian dipersembahkan oleh Raja Marga kepada para leluhur desa yang datang ke wilayah tersebut untuk membuka lahan dan membangun peradaban baru.

Alas ini dalam perkembangannya juga disebut dengan abian atau kebun, sedangkan tiying ini mengalami evolusi menajdi tuwung.

Sehingga, Abiantuwung berasal dari kata "Abian" yang berarti kebun atau ladang, dan "Tuwung," yang merujuk pada tiying atau bambu.

Proses ini melibatkan pembukaan lahan dan pembangunan tatanan masyarakat, serta menciptakan kebudayaan yang terus berlanjut hingga kini.

Oleh karena itu, nama Abiantuwung memiliki makna simbolis sebagai "hutan bambu yang dipersembahkan," mencerminkan asal-usul desa ini. ***

 

Editor : Y. Raharyo
#bali #desa abiantuwung #sejarah #kecamatan kediri #tabanan