SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kabupaten Buleleng kembali menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali. Kegiatan ini dilaksanakan dalam sehari penuh dengan 71 peserta dalam 6 kategori lomba. Diantaranya, Nyurat Aksara Bali untuk siswa SD, Nyurat Lontar bagi siswa SMP, Debat (Wiwada) Mebasa Bali untuk jenjang SMA/SMK, Ngwacen Lontar tingkat SMA/SMK, Mesatua Krama Istri antar Pakis, serta Sambrama Wacana antar Prajuru Adat.
Lomba ini tidak sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menunjukkan kepiawaian mereka dalam bidang bahasa dan sastra Bali.
Melalui kegiatan ini, harapannya adalah munculnya kesadaran lebih dalam mengenai pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Salah satu hal yang menonjol dalam penyelenggaraan tahun ini adalah ditiadakannya lomba mengetik aksara Bali menggunakan keyboard. Lomba ini sebelumnya menjadi bagian dari upaya pelestarian aksara Bali, namun tahun ini ditiadakan sesuai instruksi dari Pemerintah Provinsi.
Keputusan ini menimbulkan reaksi beragam, mengingat lomba tersebut menjadi salah satu ajang bagi generasi muda dalam mengasah keterampilan menulis aksara Bali secara digital. Meskipun demikian, terdapat kemungkinan bahwa lomba ini akan kembali digelar pada tahun mendatang dengan sistem rotasi atau selang-seling.
“Selalu kami berupaya untuk melibatkan seluruh kategori. Namun tahun ini lomba tersebut memang absen dan serentak di seluruh kabupaten/kota di Bali,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, Rabu (4/2) siang.
Baca Juga: Penyuluh Bahasa Bali Indentifikasi 15 Cakep Lontar di Panji Buleleng, Diklasifikasi Jadi 17 Judul
Lomba debat Bahasa Bali yang juga diselenggarakan dalam kegiatan ini. Lomba debat ini mempertemukan peserta dalam format grup yang terdiri dari tiga orang per tim. Penyelenggaraan ini sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 80 Tahun 2018.
“Diharapkan, seiring berjalannya waktu, baik kualitas maupun kuantitas peserta dapat terus meningkat,” kata dia.
Selain lomba debat, Kabupaten Buleleng juga telah menyiapkan berbagai kegiatan lainnya, seperti lomba reguler yang akan berlangsung pada bulan Agustus hingga September. Menjelang akhir tahun, juga akan digelar pameran yang mengangkat intisari dari lontar Gedong Kirtya, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Bali.
Seluruh kecamatan di Kabupaten Buleleng berperan aktif dalam mengirimkan peserta yang telah ditunjuk melalui seleksi di tingkat kecamatan masing-masing.
“Evaluasi terhadap pelaksanaan lomba akan dilakukan setiap tahun guna memastikan kegiatan ini semakin baik dari waktu ke waktu,” kata dia. ***
Editor : Dian Suryantini