BALIEXPRESS.ID- Kematian seorang turis perempuan asal Tiongkok bernama Deqingzhouga di dalam kamar Clandestino Hostel, Jalan Kayu Tulang, Desa Canggu, Kuta Utara Badung, tengah heboh diberitakan oleh media asing. Lantaran, korban disebut tewas karena keracunan usai mengikuti acara makan malam komunal/Comunnal Dinner.
Terlebih lagi, media asing juga menyebut ada sembilan turis lain yang menginap di hostel tersebut diduga dirawat akibat masalah yang sama. Dikonfirmasi mengenai kasus tersebut, PS Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti menerangkan bahwa kematian turis ini tengah diselidiki oleh Polsek Kuta Utara dan Polres Badung.
Baca Juga: Nelayan Diduga Terjatuh di Perairan Sanur, Jukung Ditemukan Mengapung Tanpa Awak
Kronologi kejadian ini bermula ketika karyawan hostel bernama Ni Putu Eka Ayu Pusparini bertugas mengecek tamu yang check out pada Selasa, 2 September 2025 lalu, pukul 11.00 WITA. "Saksi mengecek karena tamu yang menginap di kamar 8 belum melakukan check out," ujar Aiptu Ayu, saat dikonfirmasi Jumat (21/11).
Saksi pun data ke kamar korban dan menggedor pintunya. Saat pintu dibuka, terlihat Deqingzhouga dalam keadaan tengkurap. Lalu, karyawan tersebut memanggil manajer hostel untuk mengecek denyut nadi.
Ternyata, nafas dan denyut nadi turis muda itu sudah tidak ada. Maka, saksi menelpon medis dari Ambulance Nusa Medical. Tak berselang lama, tim medis datang untuk mengecek kondisi perempuan asal Negeri Tirai Bambu ini.
Dari pemeriksaan EKG FLAT, memang benar sudah tidak ada denyut nadi, sehingga perempuan itu dinyatakan sudah meninggal. Diperkirakan ia sudah meninggal sekitar 2 sampai dengan 12 jam lamanya.
"Diperkirakan korban dehidrasi, Cek tanda - tanda kematian korban terdapat lebam mayat pada seluruh tangan dan kaki dan juga ditemukan lebam mayat pada bagian wajah dan punggung korban," tuturnya. Masalah ini lantas dilaporkan ke polisi. Lalu, kepolisian datang untuk proses penyelidikan.
Berdasarkan pengecekan luar tubuh oleh anggota Ident Polres Badung, diketahui korban ditemukan pertama kali dengan posisi telungkup di lantai dengan posisi kepala meghadap ke utara dan kaki mengadap ke selatanm Tidak ditemukan adanya tanda - tanda kekerasan pada tubuh Deqingzhouga, namun sudah muncul lebam mayat.
Diperkirakan korban sudah meninggal dunia antara 2 sampai 12 Jam. Terdapat muntahan di tempat sampah yang ada di dekat kasur. Ditemukan obat - obatan di dalam kamar, berupa Lorano Akut, ibuhexal akut, Paracetamol, Amoxicillin 500, Siderm Lotion, Predmisolon 5 mg di dalam tas pinggang warna biru.
Selain itu, Vicee 500, Fenbid capsul, 2 bungkus obat dari klip yang ditemukan di dalam Tas Ransel Warna Hitam. Dari pemeriksaan keterangan saksi lebih lanjut, Staf Resepsionis Hostel Maria Yasinta Gores mengatakan korban sempat datang ke resepsionis dsn mengeluh sakit, sehari sebelum kejadian pukul 20.00 WITA.
15 menit kemudian, ia kembali menelpon resepsionis dan menyampaikan bahwa dirinya merasa sakit. Maria lantas mendatangi kamar korban nomor 8. Di sana korban mengeluh sakit di bagian kepala dan punggung, serta merasa lemas.
"Saat berbincang dengan saksi, korban sempat muntah satu kali di tempat sampah depan tempat tidurnya," tambahnya. Saksi sempat menawarkan makanan, namun ditolak korban. Deqingzhouga hanya meminta air dan pisang.
Saksi juga menawarkan untuk memanggil dokter atau klinik terdekat, tapi ia menanyakan biaya pengobatan dan belum ada kepastian dari pihak klinik mengenai biaya tersebut. Sepulang kerja, Maria kembali mengecek kondisi korban. Saksi kemudian mengajak korban berobat ke klinik menggunakan transportasi online sekitar pukul 00.30 Wita.
Baca Juga: Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Perairan Pengambengan Jembrana
Sesampainya di klinik,Deqingzhouga sempat mendapat penanganan awal dari dokter, namun karena tidak memiliki biaya, ia hanya diberi resep obat. Korban kemudian membeli obat di apotek sebelah klinik. Selanjutnya, saksi mengantarnya kembali ke hostel.
Sesampainya di kamar, korban langsung mengonsumsi obat tersebut dan beristirahat sekitar pukul 01.00 Wita. Saksi pun meninggalkannya untuk pulang. Tak disangka, pada siang harinya saksi mendapatkan kabar bahwa korban telah meninggal.
Ternyata, selain Deqingzhouga, kepolisian memperoleh informasi bahwa tiga orang yang menjadi teman sekamarnya yaitu, WNA Tiongkok bernama Lei Mingmin dan dua WNA Jerman Melanie Irene, serta Alisa Kokonozi juga mengalami gejala mual muntah. Bahkan, Lei sampai menggigil di kamar. Ketiganya lantas dibawa ke rumah sakit yang berbeda.
Lei di RS BIMC, sementara dua lainnya di RS Siloam Kuta. Tak hanya itu, tiga orang yang tinggal di kamar nomor 5 juga mengalami sakit dengan gejala muntah - muntah dan sudah di bawa ke Clinic Nusa Medical. Mereka adalah Alahmadi Yousef Mohammed asal Arab Saudi.
Berikutnya, Cana Clifford Jay asal Filipina dan Zhou Shanshan asal Tiongkok. Sementara, tiga orang lain di kamar Nomor 5 dalam keadaan sehat dan sudah checkout, yakni dua WNA Jerman Kalkan Poyraz Talhan, Vincent Levina Maria, serta satu WNA Spanyol Granes Valles Juli. Sehingga, hanya enam yang dirawat, bukan sembilan.
Kesimpulan sementara, kematian korban diduga kuat disebabkan oleh kondisi kesehatan/penyakit yang dideritanya, bukan karena tindak pidana. Namun demikian, penyelidikan tetap berlanjut untuk memastikan penyebab pasti.
Dengan adanya kondisi sakit yang sama di lingkungan penginapan korban yang juga dialami oleh beberapa tamu, maka sangat diperlukan dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap tempat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan para tamu, untuk dapat mengetahui penyebab timbulnya gejala penyakit tersebut dan mempercepat pencegahan terhadap meluasnya penyakit tersebut.
Baca Juga: Pesta Arak Berujung Maut, Begini Kronologi Lengkap Pembunuhan di Bedeng Proyek Tabanan
Sebagai perkembangan, telah dilakukan pemeriksaan oleh Lab Forensik Denpasar terhadap muntahan korban. Hasilnya, tidak ditemukan atau tidak terdeteksi senyawa pestisida, narkoba, sianida, logam berat arsen, bahan kimia berbahaya dan methanol.
Pemeriksaan terkait dengan obat-obatan dan makanan yang berada di dalam tas korban, namun hasil belum keluar. Selain itu, juga telah dilakukan Otopsi terhadap Deqingzhouga di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar dengan hasil tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Pada pemeriksaan dalam, ditemukan adanya bercak-bercak perdarahan dan pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir lambung, cairan berwana hitam kehijuan pada rongga lambung, bercak-bercak kemerahan di beberapa tempat pada usus halus serta dalam rongga usus besar kosong yang merupakan tanda-tanda penyakit diare (penyakit saluran pencernaan).
Sebab pasti kematian korban tidak dapat ditentukan, akan tetapi sebab mati karena iritasi saluran pencernaan yang menimbulkan diare yang mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit tidak dapat disingkirkan. (ges)
Editor : Wiwin Meliana