Oleh: dr. Putu Rinawati Jayanti, M.Biomed, Sp.THT-BKL
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa
BALIEXPRESS.ID-Suasana pagi di SMAN 1 Payangan terlihat tenang seperti sekolah menengah lainnya di kawasan pedesaan Gianyar. Kabut tipis yang menyelimuti perbukitan, udara sejuk, dan aktivitas siswa yang mulai memenuhi ruang kelas menjadi pemandangan khas setiap hari.
Namun di balik ketenangan itu, banyak siswa kerap mengalami gangguan yang tampak sepele, tetapi berdampak besar: bersin berulang, hidung tersumbat, dan pilek berkepanjangan. Bagi sebagian siswa, keluhan tersebut dianggap sebagai “masuk angin” atau flu biasa.
Padahal, setelah dilakukan penelusuran awal, cukup banyak siswa ternyata mengalami rhinitis alergi— gangguan peradangan hidung akibat paparan alergen yang sering kali berulang dan kronis. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memengaruhi konsentrasi belajar dan kualitas hidup siswa.
Pilek yang Bukan Sekadar Pilek
Hasil survei sederhana yang dilakukan tim dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa menunjukkan sekitar 36 persen siswa melaporkan gejala rhinitis alergi yang muncul berulang, terutama pada pagi hari atau musim kemarau. Keluhan seperti bersin-bersin, hidung gatal, dan hidung tersumbat sering muncul saat proses belajar mengajar berlangsung.
Sayangnya, pemahaman siswa mengenai rhinitis alergi masih sangat terbatas. Banyak yang mengonsumsi obat bebas tanpa mengetahui penyebab alerginya, sementara sebagian lainnya membiarkan keluhan tersebut berlarut-larut. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan fokus belajar dan prestasi akademik.
Edukasi Kesehatan yang Menyentuh Kehidupan Sehari-hari
Berangkat dari kondisi tersebut, tim PKM Universitas Warmadewa melaksanakan kegiatan Edukasi Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Menanggulangi Rhinitis Alergi di SMAN 1 Payangan.
Kegiatan ini tidak hanya menekankan aspek medis, tetapi juga pendekatan edukatif yang dekat dengan keseharian siswa. Melalui penyuluhan interaktif, siswa diajak mengenal apa itu rhinitis alergi, faktor pencetusnya—seperti debu, udara dingin, dan kebersihan lingkungan—serta cara pencegahan sederhana yang bisa dilakukan di rumah dan di sekolah.
Materi disampaikan dengan bahasa ringan, diselingi diskusi dan tanya jawab, sehingga siswa lebih mudah memahami dan berani menyampaikan keluhan yang selama ini dianggap sepele. Antusiasme siswa terlihat jelas saat sesi praktik cuci hidung diperagakan.
Banyak siswa baru menyadari bahwa kebersihan hidung merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan saluran napas atas.
Dari Edukasi Kesehatan ke Pemberdayaan Ekonomi
Menariknya, program ini tidak berhenti pada edukasi kesehatan semata. Lingkungan sekitar sekolah yang kaya akan tanaman herbal lokal seperti sereh, daun mint, dan kenanga menjadi potensi yang selama ini terabaikan. Padahal, tanaman-tanaman tersebut memiliki khasiat membantu meredakan gejala alergi. Melalui pelatihan sederhana, siswa diperkenalkan cara mengolah tanaman herbal menjadi produk antialergi sederhana, seperti aromaterapi dan olahan herbal rumahan. Sesi ini dilanjutkan dengan pengenalan kewirausahaan dasar—mulai dari pengemasan, perhitungan biaya produksi, hingga simulasi pemasaran. Bagi siswa, pengalaman ini menjadi hal baru. Mereka tidak hanya belajar menjaga kesehatan, tetapi juga melihat peluang ekonomi dari potensi lingkungan sekitar.
Perubahan Kecil yang Mulai Terlihat
Evaluasi setelah kegiatan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Nilai pengetahuan siswa tentang rhinitis alergi meningkat setelah edukasi diberikan. Siswa juga lebih sadar pentingnya menjaga kebersihan kelas dan lingkungan untuk mengurangi paparan alergen. Beberapa siswa bahkan mulai mendiskusikan ide pengembangan produk herbal sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau bagian dari program UKS sekolah. Guru pendamping menyambut positif inisiatif ini sebagai upaya membangun budaya sekolah yang lebih sehat dan mandiri.
Sekolah sebagai Garda Terdepan Pencegahan
Rhinitis alergi sering kali luput dari perhatian karena tidak dianggap sebagai penyakit serius. Padahal, bila dibiarkan, dampaknya terhadap proses belajar tidak bisa diabaikan. Sekolah memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam upaya promotif dan preventif kesehatan remaja. Kegiatan PKM di SMAN 1 Payangan menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang komunikatif, dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, mampu menumbuhkan kesadaran dan keterampilan siswa secara bersamaan.
Menjaga Kesehatan, Membangun Kemandirian
Hidung yang sehat membantu siswa belajar lebih fokus, sementara keterampilan mengolah potensi lokal membuka peluang kemandirian sejak dini. Inisiatif seperti ini diharapkan dapat direplikasi di sekolah lain, khususnya di daerah dengan kondisi lingkungan serupa. Karena menjaga kesehatan remaja bukan hanya soal mengobati penyakit, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan yang lebih baik.
Editor : Wiwin Meliana