BALIEXPRESS. ID– Tim Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar melaksanakan penilaian Lomba Desa Adat Peduli Lingkungan di Desa Adat Jero Kuta dan Desa Adat Panglan, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Selasa (10/2). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong desa adat berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan yang berlandaskan kearifan lokal Bali.
Penilaian Lomba Desa Adat Peduli Lingkungan tersebut dihadiri oleh Camat Tampaksiring, Perbekel setempat, Kelian Desa Adat, Bendesa Adat, serta seluruh pengurus desa adat. Kehadiran unsur pemerintahan dan tokoh adat ini menunjukkan sinergi yang solid dalam mendukung program pelestarian lingkungan hidup yang berpijak pada budaya dan tradisi setempat.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Wayan Seri Nuryanti, selaku penilai Lomba Desa Adat Peduli Lingkungan menyampaikan bahwa lomba ini tidak semata-mata bersifat kompetisi, tetapi lebih pada upaya pembinaan desa adat agar semakin sadar dan peduli terhadap lingkungan. "Desa adat memiliki peran strategis dalam menjaga keharmonisan alam melalui nilai-nilai agama dan adat, " paparnya.
Dalam proses penilaian, tim meninjau sejumlah indikator, salah satunya keberadaan dan pengelolaan Taman Gumi Banten. Taman ini dinilai sebagai simbol nyata kepedulian desa adat terhadap kelestarian alam sekaligus sebagai penunjang sarana upacara keagamaan umat Hindu.
“Taman Gumi Banten menjadi wujud implementasi ajaran Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tanaman upacara yang ditanam di sini sangat penting untuk mendukung keberlanjutan yadnya,” ujar Ni Wayan Seri Nuryanti di sela-sela kegiatan penilaian.
Berbagai jenis tanaman upacara tumbuh di taman tersebut, seperti kelapa, pinang, sirih, sentul, badung, juwet, mundeh, serta aneka bunga wangi-wangian dan pepohonan lainnya. Selain menjaga keseimbangan alam, taman ini juga memiliki nilai edukatif bagi krama desa, terutama generasi muda, agar memahami pentingnya pelestarian lingkungan sejak dini.
Melalui Lomba Desa Adat Peduli Lingkungan, Ni Wayan Seri Nuryanti berharap semakin banyak desa adat di Kabupaten Gianyar yang tergerak untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan nilai adat, budaya, dan agama. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menjaga kelestarian alam Bali secara berkelanjutan dan berkesinambungan. *
Editor : Putu Agus Adegrantika