Sabtu, 21 Jul 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Tradisi Megibung, Belajar Etika dan Estetika di Karangasem

Minggu, 14 Jan 2018 11:36 | editor : I Putu Suyatra

Tradisi Megibung, Belajar Etika dan Estetika di Karangasem

KEBERSAMAAN : Magibung bukan sekadar makan bersama, namun ada Aturan khusus yang harus dipatuhi. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Karangasem merupakan salah satu kabupaten di Bali yang melestarikan tradisi magibung atau bisa diartikan makan bersama. Dalam magibung ini ada aturan yang mesti diperhatikan. Bukan sekadar makan bersama.

Masyarakat Karangasem tidak asing dengan istilah magibung. Mengingat tradisi ini masih terjaga di daerah paling ujung timur Pulau Bali itu, dalam berbagai kegiatan, ada magibungnya. Baik kegiatan upacara panca yadnya, maupun kegiatan lainnya. Seiring berkembangnya zaman, tak sedikit warga Karangasem syukurannya juga dirayakan dengan magibung.


Tak heran, jika usaha gibungan juga bermunculan di kabupaten yang dikenal dengan Bumi Lahar itu. Mau magibung tinggal pesan saja.   Secara umum, lauk pauknya daging babi. Namun biasa juga daging lainnya.

Tradisi Megibung, Belajar Etika dan Estetika di Karangasem

GIBUNG : Nasi dan lauk (Gibung) ditempatkan dalam satu wadah, dan biasanya dikitari oleh minimal lima orang. (ISTIMEWA)

Dalam tradisi magibung, nasi ditaruh di atas nampan atau wadah lain dengan alas daun atau sekarang bisa pakai kertas pembungkus nasi. Gundukan nasi ditaruh di atas nampan dengan lauk pauk ditempatkan khusus, terpisah dengan nasi. Satu porsi gibungan lengkap dengan lauk pauknya disebut sela. Satu sela ini, biasanya disantap bersama 5-8 orang. Posisi duduk dibentuk melingkar dengan gibungan berada di tengah-tengah.


Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem I Putu Arnawa menceritakan, konon tradisi magibung itu berawal ketika Kerajaan Karangasem di bawah kendali Raja I Gusti Anglurah Ketut Karangasem berhasil menguasai kerajaan di Lombok. Magibung ini, menurutnya berasal dari kata mabagi buung (maunya dibagi tapi dibatalkan). Menyambut kegembiraan kemenangan kala itu, sang raja merayakannya dengan makan bersama yang disebut magibung. Makna magibung ini  adalah kebersamaan, meningkatkan persatuan dan kesatuan.

Selain menunjukkan kebersamaan, ada tata cara yang mesti diperhatikan saat magibung. Secara umum tata cara ini lebih pada mengajarkan etika, estetika, dan logika. Misalnya, posisi duduk harus bersila, lesehan dengan posisi miring. Biasanya miring ke kanan. Logikanya, akan sangat kesulitan makan, apabila semua duduknya berhadap-hadapan. Mengingat, zaman dulu dalam satu sela bisa sampai 8 orang.  Sekarang sudah mengalami perubahan menjadi 5-8 orang. Dengan posisi miring itu, sikap tangan bisa bagus, duduk pun lebih nyaman. Tidak ngangkang


Begitu juga posisi tempat duduk juga diatur. Misalnya, mereka yang usianya paling tua, dituakan atau tokoh, duduknya di sebelah utara atau paling timur. “Dengan melihat posisi duduk, warga sudah tahu bahwa itu tokoh atau dituakan,” terang Arnawa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (21/4).

Tradisi Megibung, Belajar Etika dan Estetika di Karangasem

RAMAI : Tradisi Magibung seperti biasa akan ramai diikuti warga. Lantaran itu pula, aturan baku kadang diabaikan, termasuk memberikan posisi duduk yang paling tua. (ISTIMEWA)

Mereka yang dituakan ini, lanjut Ketua Paruman Walaka PHDI Karangasem ini, juga biasa sebagai pepara, menuangkan  lauk pauk.  Zaman dulu, magibung ini ada komandonya.  Tidak  boleh begitu duduk langsung makan. Harus menunggu aba-aba dulu. Ketika semua sela sudah siap, warga juga siap baru bisa dimulai. Begitu juga dengan lauk pauk yang disajikan, tidak boleh mengambil seenaknya. Sudah ditentukan mana yang harus dimakan duluan. Biasanya paling awal itu adalah lawar don blimbing yang rasanya pahit. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ini harus dimakan duluan, maknanya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. “Yang enak-enak belakangan dimakan,” jelas Arnawa.


Namun ada juga sumber menyebutkan bahwa makan yang pahit dulu supaya  lidah terbiasa dari yang pahit hingga yang enak-enak. Karena kalau yang enak-enak dimakan terlebih dulu, tidak menutup kemungkinan makanan lain akan dibiarkan begitu saja. Setelah semua selesai, baru bisa bangun bersama-sama. “Kalau sudah semua selesai, baru boleh bangun. Secara etika tidak baik, yang lain masih makan kita sudah bangun, Kalau pun sudah selesai diam dulu,” tegas Arnawa.


Ketua Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Karangasem I Wayan Artha Dipa diwawancarai terpisah, menambahkan, satu sela disantap delapan orang ini juga ada maknanya. Yakni simbol Dewata Nawa Sanga atau penguasa sembilan penjuru arah mata angin. Termasuk satu di tengah-tengah, yakni  gibungan.  Namun saat ini jumlahnya tidak   sembilan. Namun menyesuaikan dengan gibungan.   Biasanya 5-8 orang dalam satu sela gibungan.


Wakil Bupati (Wabup) Karangasem ini juga mengakui, sisa makanan dari mulut tidak boleh berceceran di atas nampan, harus dibuang di atas sebidang kecil daun pisang atau sekarang menggunakan kertas yang telah disediakan di masing-masing orang. 


Ketua Majelis Madya Desa Pakaraman (MMDP) Karangasem I Wayan Artha Dipa, menegaskan bahwa akan sangat bagus apabila tradisi magibung ini bisa dipertahankan di Karangasem. Mengingat, selain mengandung makna kebersamaan, tradisi ini juga mengajarakan etika dan estetika. Sayangnya, diakuinya tradisi magibung ini tak bisa dilestarikan secara utuh. Hal ini tak terlepas dari perkembangan zaman yang semakin modern. Tak sedikit tata cara yang sebenanya mengandung etika malah diabaikan. Misalnya saja soal makanan yang harus disantap duluan. 

Tak jarang peserta magibung mengambil lauk pauk seenakya. Mana yang pingin dimakan duluan, itu lah yang diambil. Berbeda dengan zaman dulu, makan dari yang terasa pahit seperti don blimbing dulu. Begitu juga dengan komando juga hampir tak pernah ada saat magibung.  Padahal itu sangat penting bagi orang yang tidak terbiasa magibung.


Dalam beberapa kali koran ini mengikuti tradisi megibung di Karangasem,  posisi duduk juga tak serapi sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Karangasem I Putu Arnawa. Di mana, mereka yang tua atau dituakan posisi berada di utara atau timur. Peserta magibung cenderung duduk sesuai keinginan. Meski begitu, Artha Dipa mensyukuri tradisi makan bersama yang diturunkan zaman kerajaan ini masih tetap dilestarikan.  


Dalam tradisi magibung itu, diakuinya juga tak ada kekhawatiran warga akan hal negatif. Misalnya dijahili hal aneh-aneh dengan ilmu hitam. Mengingat, makanan yang disantap disajikan dalam satu wadah. “Saya rasa tidak akan ada  jahil. Karena biasanya, mereka yang diajak satu grup magibung tu adalah orang-orang yang sudah dikenal,” ujar Arnawa. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia