Sabtu, 21 Jul 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Palukatan Sad Ripu Dukuh Penaban, Kayehan Dedari Paling Diminati Pria

Minggu, 14 Jan 2018 12:33 | editor : I Putu Suyatra

Palukatan Sad Ripu Dukuh Penaban, Kayehan Dedari Paling Diminati Pria

WANITA : Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya, menunjukkan kayehan lua atau khusus untuk wanita . (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Mencari tempat malukat di Bali tidaklah sulit. Masing-masing tempat melukat mempunyai taksu , vibrasi tersendiri. Untuk di Karangasem, salah satu tempat malukat  yang mulai dikembangkan lagi adalah Palukatan Sad Ripu di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem.  Seperti apa?

Nama tempat Palukatan Sad Ripu dan keberadaannya sudah sejak zaman dulu. Begitu pula dengan namanya, juga bukan hal baru. Cuma baru mulai terurus. Ini karena Desa Adat Dukuh Penaban akan mengembangkan desa wisata. Salah satu yang dijual adalah palukatan yang berada di pinggir sungai desa setempat. Kata Sad Ripu sebenarnya tak asing lagi bagi umat Hindu di Bali.


Dalam ajaran agama Hindu, Sad berarti enam, sedangkan Ripu berarti musuh. Secara harafiah, Sad Ribu ini mengandung arti enam musuh. Kata musuh ini  maksudnya adalah musuh dalam diri manusia itu sendiri. Bagian-bagian Sad Ripu dalam ajaran agama ada enam, yakni Kama (keinginan atau hawa nafsu), Lobha (tamak atau rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk), Matsarya (iri hati), dan Moha (bingung).



Palukatan Sad Ripu di Dukuh Penaban ini, jumlahnya ada enam tempat, dengan jaraknya tak begitu jauh. Medannya juga tak begitu sulit. Bahkan, mengasyikan karena pemandangan alam begitu indah. Enam tempat palukatan, yang dibuatkan pancoran ini mempunyai sebutan masing-masing. Tapi tidak sama namanya dengan enam bagian Sad Ripu dalam ajaran agama Hindu. 

Pertama atau paling pertama ditemui adalah tempat pasucian sasuhunan atau Ida Bhatara di Dukuh Penaban.  Agar tempat malukatnya tidak menjadi satu dengan pasucian itu, dibuatkan aliran lain yang sumber airnya dari pasucian tersebut. Ada juga tempat masiram pitara atau kaitan dengan upacara pitra yadnya, berupa pancoran juga. Tapi bisa juga untuk melukat.

Bergeser lagi ke bawah, ada namanya Kayehan Rijasa. Warga setempat sering menyebutnya Kayehan Dedari atau bidadari.  Tempat malukat ini terbilang unik. Paling diminati para laki-laki.

“Ini adalah kepercayaan, laki-laki yang mandi di sana tidak pernah sebentar. Tak terasa sudah berjam-jam,” jelas Bendesa Ada Dukuh Penaban, I Nengah Suarya saat mengantar Bali Express (Jawa Pos Group) melihat dari dekat Palukatan Sad Ripu.

Sayang Suarya tidak bisa menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi.

Ada juga Kayehan Lua (wanita). Ini khusus untuk wanita. Namanya juga disucikan.  Wanita datang bulan (menstruasi) dilarang malukat di sana. Selanjutnya, ada namanya Kayehan Lanang (Laki-laki). Tempat ini biasa tempat malukat kaum adam. Dan, terakhir ada namanya Palukatan Biu, atau bisa diartikan sebagai pisang. Biasa juga disebutnya wisa, bisa (racun). Di sini dipercaya bisa mentralisasi racun dalam diri manusia.


Secara umum, Suarya mengungkapkan,  Pelukatan Sad Ripu itu dipercaya bisa menetralisasi unsur Sad Ripu dalam diri manusia  yang malukat di sana.  “Kalau saya menceritakan bisa begini, bisa begitu, mungkin dikira promosi. Silakan buktikan. Tergantung niatnya akan seperti apa,” jelas Suarya.  


Tak jauh beda dengan pengakuan Suarya, salah seorang pemangku di Dukuh Penaban, Jro Mangku Made Sriata, juga menegaskan bahwa taksu Palukatan Sad Ripu itu hanya bisa dirasakan atau diungkapkan oleh mereka yang sudah pernah merasakannya.

“Saya saja, kalau bingung, ada masalah, ya ke sini. Nanti pulangnya bisa lebih tenang,” kata Sriata yang cukup sering ke sana, lantaran lahan Palukatan Sad Ripu adalah milik keluarganya.

Meski tak tahu pasti dari mana saja orang-orang yang malukat di sana, Jro Mangku ini menyebutkan bahwa terkadang ada orang malam-malam datang malukat ke sana. “Mungkin karena mereka percaya, ada yang nunas tamba juga ke sini biar sembuh. Tidak tahu sakit apa,” sebut dia. 

(bx/wan/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia