Jumat, 20 Jul 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Tim Smansa Singaraja Wakili Indonesia ke Thailand Berkat Ini

Selasa, 17 Apr 2018 12:01 | editor : I Putu Suyatra

Tim Smansa Singaraja Wakili Indonesia ke Thailand Berkat Ini

WAKILI INDONESIA: Tim Karya Ilmiah Remaja Smansa Singaraja yang diperkuat Gde Parama Artha Dharma bersama Made Sabda Dharma Primadika berpose bersama Kepala SMAN 1 Singaraja Putu Eka Wilantara. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA-Dua orang siswa SMAN 1 Singaraja (Smansa) akan terbang ke Thailand pada 21-28 Juli mendatang. Mereka akan mewakili Indonesia di ajang The 4th ASEAN Student Science Project Competition selama tujuh hari.

Kepastian ini diterima setelah Tim Smansa berhasil menyabet juara III Tingkat Nasional yang digelar LIPI, 22 Oktober 2017 lalu. Tim Karya Ilmiah Remaja yang diperkuat Gde Parama Artha Dharma bersama rekannya Made Sabda Dharma Primadika sukses berkat mengupas alat pendeteksi dini rabies pada anjing.

Keduanya sukses menyisihkan 16 tim dari berbagai sekolah SMA di seluruh penjuru Negeri kategori Lomba Ilmu Pengetahuan Hayati. Setelah berhasil menembus juara III Nasional, anak asuh Made Sudana ini kemudian diseleksi lagi menjadi 7 besar agar bisa bertarung di ajang Karya Ilmiah Remaja Tingkat Internasional di Amerika Serikat.

Setelah mengikuti seleksi ketat, duo Smansa ini tidak tembus ke Amerika Serikat. Namun kegigihannya membuat mereka tetap mewakili Indonesia di ajang The 4th ASEAN Student Science Project Competition di Thailand. Ajang ini akan menampilkan penelitian yang menghasilkan  science project.

“Kami tidak masuk 7 besar untuk ke Amerika Serikat. Tapi kami ke Thailand untuk mewakili Indonesia di ajang The 4th ASEAN Student Science Project Competition. Disana ada expo juga presentasi terkait KIR yang kami angkat tentang rabies ini. Kenapa kami lolos karena kami menghasilkan science project,” terang Gde Parama Artha Dharma saat dijumpai Senin (16/4) siang.

Dijelaskan Gde Parama Artha Dharma jika Karya Ilmiah yang ia buat berjudul “Biosensor yang Berbasiskan Antibodi dan Antigen yang Menggunakan Darah Anjing Kintamani Bali Sebagai Pendeteksi Virus Rabies” didasari atas kekhawatiran merebaknya virus rabies pada anjing. Menurutnya, saat ini masyarakat dibuat phobia akan penyakit rabies yang sering menjadi momok tersebut. Sehingga korban gigitan terlalu dini menyuntikkan vaksin VAR usai digigit anjing.

“Kami mengangkat tentang deteksi dini rabies pada anjing. Karena selama ini kan setiap digigit anjing, orang buru-buru minta disuntik VAR. Nah biar tidak mubazir, harus dicek dulu apakah anjingnya postif rabies atau tidak. Disinilah peran alat yang kami rancang dengan mendeteksi air liur dari anjing yang sempat menggit tersebut,” kata Gede Parama Artha Dharma beberapa waktu lalu. 

Cara kerjanya, sambung Parama dengan menguji sampel air liur pada anjing yang menggigit dengan menggunakan alat pendeteksi. Artinya jika air liur yang ditetesi serum dan dialiri arus listrik, terjadi perubahan hambatan, maka bisa dikatakan anjing tersebut positif rabies.

“Penelitian ini menggabungkan prinsip kerja ilmu Fisika dan Biologi. Jika air liur terdeteksi rabies, maka besar arus hambatan listrik berupa elektrolit akan meningkat. Sebaliknya jika tidak terdeteksi, maka hambatan arus listriknya tetap, tidak mengalami perubahan (konstan, Red),” imbuhnya.

Guru pembina KIR Smansa Singaraja, Made Sudana menjelaskan jika anak asuhnya mengangkat masalah rabies karena memang tengah menjadi persoalan di masyarakat. Sudana menyebut, jika ide tersebut memang murni dari anak asuhnya saat melihat fenomena yang terjadi di masyarakat.

“Ini kan penerapan fisika dalam dunia kesehatan. Apalagi dengan memanfaatkan indikator arus listrik. Virus itu dianggap mampu membuat hambatan. Karena mengalirkan arus dengan hambatan tertentu. Itu kan memang prinsip fisika dasar. Jika mereka bisa menjuarai nanti berarti bisa mewakili Indonesia di ajang Internasional dalam penulisan Karya Imiah Remaja,” paparnya.

Sementara itu Kepala SMAN 1 Singaraja Putu Eka Wilantara tak menampik jika Senin (16/4) kedua siswa ini (Gde Parama Artha Dharma dan Made Sabda Dharma Primadika, Red) sudah dilepas (graduation, Red) sebagai siswa Smansa Singaraja lantaran mereka akan tamat. Namun karena masih berproses sembari menunggu hasil Ujian Nasional, sehingga mereka tetap berlaga mewakili Smansa Singaraja di ajang internasional tersebut.

“Memang statusnya sudah dilepas. Tapi mereka berproses, karena nilai UN belum keluar. Apalagi lombanya kan bertahap. Harapan kami meskipun kompetisinya setelah lulus, tapi setidakanya ikut mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional,” terangnya.

Eka Wilantara pun akan tetap memberikan pendampingan terhadap kedua anak berprestasi ini di ajang internasional di Thailand. “Kami akan tetap dampingi, selain juga ada pendampingan dari pihak LIPI, yang akan menuntun dari sisi penguatan materi maupun presentasi dengan menggunakan bahasa asing,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia