alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Tari Baris Tekok Jago Hanya Tampil Saat Ngaben dan Mendak Tirta

BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Kerobokan, Badung hingga kini masih melestarikan Tari Baris Tekok Jago. Tarian ini harus ditarikan oleh 12 orang dengan kostum serba poleng (hitam dan putih). Adanya tarian ini juga dinilai sebagai warisan yang sangat berharga.

Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Tari Baris Tekok Jago merupakan tarian yang cukup unik. Pementasannya hanya dilakukan saat upacara tertentu. Selain itu, tarian ini memiliki perbedaan dengan tari baris pada umumnya.

“Tarian itu minimal 12 orang dengan pakaian khas berwarna poleng. Selain itu juga membawa tombak saat dipentaskan, dengan ciri gerakan dan gambelan yang berbeda,” ujar Sutarja.

Menurutnya, Tari Baris Tekok Jago ini hanya dipentaskan pada saat upacara Ngaben Ngwangun atau utama. Tarian ini dipentaskan sebagai persembahan untuk mengantarkan atau membuka jalan kepada sang atma menuju surga.

Baca Juga :  Usada Kalimosada (2) : Mati Layu, Tenaga Lemah, Makan Kuat

“Tari tersebut dapat mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta dengan cepat. Tetapi juga tergantung pada subha dan asubha karma yang diperbuat semasa hidup,” ungkap Sutarja yang juga Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Badung.

Selain dipentaskan saat Ngaben, Sutarja menjelaskan, tarian ini juga dipentaskan saat upacara mendak tirta atau mohon hujan, terutama saat sasih katiga kangkang.

“Misalnya musim kering kita mulai istilahnya mendak tirta di segara, juga dipentaskan Tari Baris Tekok Jago. Sekarang sudah setiap tahun dilaksanakan saat Purnama Sasih Kapat,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, Tari Baris Tekok Jago adalah tarian yang sakral. Sehingga para penarinya tidak sembarangan orang dapat mementaskan. “Penari merupakan orang pilihan. Mereka harus sudah mawinten atau ekajati,” imbuhnya.

Baca Juga :  Cara Mengatur Energi Kehidupan Berdasarkan Ajaran Kanda Pat

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Kerobokan, Badung hingga kini masih melestarikan Tari Baris Tekok Jago. Tarian ini harus ditarikan oleh 12 orang dengan kostum serba poleng (hitam dan putih). Adanya tarian ini juga dinilai sebagai warisan yang sangat berharga.

Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Tari Baris Tekok Jago merupakan tarian yang cukup unik. Pementasannya hanya dilakukan saat upacara tertentu. Selain itu, tarian ini memiliki perbedaan dengan tari baris pada umumnya.

“Tarian itu minimal 12 orang dengan pakaian khas berwarna poleng. Selain itu juga membawa tombak saat dipentaskan, dengan ciri gerakan dan gambelan yang berbeda,” ujar Sutarja.

Menurutnya, Tari Baris Tekok Jago ini hanya dipentaskan pada saat upacara Ngaben Ngwangun atau utama. Tarian ini dipentaskan sebagai persembahan untuk mengantarkan atau membuka jalan kepada sang atma menuju surga.

Baca Juga :  Taksu Poleng Bantu Cari Anak yang Disembunyikan Gamang

“Tari tersebut dapat mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta dengan cepat. Tetapi juga tergantung pada subha dan asubha karma yang diperbuat semasa hidup,” ungkap Sutarja yang juga Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Badung.

Selain dipentaskan saat Ngaben, Sutarja menjelaskan, tarian ini juga dipentaskan saat upacara mendak tirta atau mohon hujan, terutama saat sasih katiga kangkang.

“Misalnya musim kering kita mulai istilahnya mendak tirta di segara, juga dipentaskan Tari Baris Tekok Jago. Sekarang sudah setiap tahun dilaksanakan saat Purnama Sasih Kapat,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, Tari Baris Tekok Jago adalah tarian yang sakral. Sehingga para penarinya tidak sembarangan orang dapat mementaskan. “Penari merupakan orang pilihan. Mereka harus sudah mawinten atau ekajati,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tari Baris Kupu-Kupu, Gunakan Daun Kelapa Simbol Kebijaksanaan

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/