alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Tumpek Wayang Hari Peralihan dan Transisi yang Butuh Ruwatan

BULELENG, BALI EXPRESS – Mitologi ritual ruwatan mengharuskan masyarakat (umat Hindu) Bali percaya bahwa dilarang bepergian saat tengai tepet (siang hari), sore hari atau sandikala), dan tengah lemeng (tengah malam). Sebab, diyakini bahwa waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang mengancam keamanan seseorang yang melakukan perjalanan.

Dikatakan Jro Dalang Putu Ardiyasa, Tumpek Wayang salah satu hari yang merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu Kajeng Kliwon Wuku Wayang. Di mana hari Sabtu merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara. Kajeng merupakan hari terakhir dalam Triwara dan Kliwon menjadi hari terakhir dalam perhitungan Pancawara.

Sedangkan wuku Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender Bali. Yakni Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye (Kandang), dan Tumpek Wayang. “Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, sehingga perlu melakukan ruwatan Sapuh Leger,” sebutnya.

Baca Juga :  Pura Tirtha Harum, Serangan; Padukan Harmoni Magis Hindu Budha

Dalam naskah ruwatan Sapuh Leger mengandung filosofi sebagai isyarat suatu kelahiran, diikuti oleh empat cairan seperti ; yeh nyom (air ketuban), darah, lamas dan ari-ari.

Keempat unsur atau jasad tersebut dalam kepercayaan masyarakat Bali sering disebut Catur Sanak dengan menyerupai empat saudara.

Janin yang ada dalam kandungan mendapat pemeliharaan serta penjagaan dari empat unsur tersebut. Seperti yeh nyom, merupakan cairan yang melindungi si bayi terhadap sentuhan getaran dari luar, lamas adalah lemak yang membungkus jasmani si bayi. Getih adalah mengedarkan sari-sari makanan, air dan lain-lainnya. Selanjutnya, ari-ari adalah tempat melekatnya tali pusar, penyerap makanan dan lain sebagainya.

“Keempat unsur cairan tersebut sering disebut Kanda-Empat empat bagian yang terdiri dari Kanda Pat Rare, Kanda Pat Bhuta, Kanda Pat Dewa, dan Kanda Pat Sari,” pungkasnya.

Baca Juga :  Rahina Soma Ribek, Hari Pangan setelah Turunnya Ilmu Pengetahuan

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Mitologi ritual ruwatan mengharuskan masyarakat (umat Hindu) Bali percaya bahwa dilarang bepergian saat tengai tepet (siang hari), sore hari atau sandikala), dan tengah lemeng (tengah malam). Sebab, diyakini bahwa waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang mengancam keamanan seseorang yang melakukan perjalanan.

Dikatakan Jro Dalang Putu Ardiyasa, Tumpek Wayang salah satu hari yang merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu Kajeng Kliwon Wuku Wayang. Di mana hari Sabtu merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara. Kajeng merupakan hari terakhir dalam Triwara dan Kliwon menjadi hari terakhir dalam perhitungan Pancawara.

Sedangkan wuku Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender Bali. Yakni Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye (Kandang), dan Tumpek Wayang. “Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, sehingga perlu melakukan ruwatan Sapuh Leger,” sebutnya.

Baca Juga :  Sekda Adi Arnawa Ikut Ngastiti Bakti Pujawali Jaba Jero Pura Alas Harum

Dalam naskah ruwatan Sapuh Leger mengandung filosofi sebagai isyarat suatu kelahiran, diikuti oleh empat cairan seperti ; yeh nyom (air ketuban), darah, lamas dan ari-ari.

Keempat unsur atau jasad tersebut dalam kepercayaan masyarakat Bali sering disebut Catur Sanak dengan menyerupai empat saudara.

Janin yang ada dalam kandungan mendapat pemeliharaan serta penjagaan dari empat unsur tersebut. Seperti yeh nyom, merupakan cairan yang melindungi si bayi terhadap sentuhan getaran dari luar, lamas adalah lemak yang membungkus jasmani si bayi. Getih adalah mengedarkan sari-sari makanan, air dan lain-lainnya. Selanjutnya, ari-ari adalah tempat melekatnya tali pusar, penyerap makanan dan lain sebagainya.

“Keempat unsur cairan tersebut sering disebut Kanda-Empat empat bagian yang terdiri dari Kanda Pat Rare, Kanda Pat Bhuta, Kanda Pat Dewa, dan Kanda Pat Sari,” pungkasnya.

Baca Juga :  Rahina Soma Ribek, Hari Pangan setelah Turunnya Ilmu Pengetahuan

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/