alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Dasaksara sebagai Prinsip Dunia

Dasa aksara atau dasaksara merupakan 10 aksara suci yang dikenal dalam Hindu, khususnya di Bali. Konsep ini sangat popular di kalangan sastrawan dan penekun spiritual. Tak hanya itu, dasa aksara juga menjadi bahan kajian di dunia akademis. Para peneliti berupaya mengungkap dan menjabarkannya dari sudut pandang ilmu pengetahuan masa kini.

Menurut I Wayan Putra Adi Subawa, dasa aksara mengandung prinsip dunia. Ia menyitir Manavadharmasastra I.9 yang menyatakan “Tad andam abhavad haiman, Sahasramsusamaprabham, tasmin jajna svayam brahma, sarva loka pita maha”. Terjemahannya, “Benih menjadi telur alam semesta yang maha suci, cemerlang laksana sejuta sinar, dari telur tersebut Ia menjadikan diri-Nya sendiri sebagai Brahma, pencipta seluruh isi jagat raya”. “Dalam teks tersebut Brahma disebut sebagai jiwa tertinggi perwujudan Brahman yang muncul dengan sendirinya,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (22/7).

Lebih lanjut, kata Magister Linguistik tamatan Universitas Warmadewa ini, dalam teks Satapatha Brahmana disebutkan Brahma adalah yang menciptakan dan memberi tugas dewa-dewa lainnya untuk menjaga pergerakan alam semesta. Dalam teks Mahabharata dikatakan Brahma muncul dari pusar Wisnu dan menjadi leluhur dunia yang dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati. Sedangkan dalam Tantra disebutkan bahwa Kundali Shakti atau Mahakundali sebagai energi murni alam semesta bergerak melingkar, berputar bagaikan ular (bhujangi) yang menggulung. “Perputaran energi inilah menurut Arthur Avalon dalam The Serpent Power, kemudian bermanifestasi dalam wujud gumpalan energi yang kemudian disebut ‘telur Brahma’ atau Brahmanda,” jelasnya.

Sebelum masuk pada pokok persoalan, menurut pria asal Tegallalang Gianyar ini, penting untuk mengetahui makna dari bahasa simbol yang digunakan dalam teks-teks suci tersebut agar lebih memperkuat landasan pikir ketika membahas topik utama. “Yang dimaksud ‘benih’ dalam teks Manavadharmasastra adalah Kundali dan Kundalini. Kundali adalah benih energi di alam raya sedangkan Kundalini adalah benih energi di tubuh manusia, di mana secara prinsip alam raya atau bhuana agung adalah bernilai sama dengan tubuh atau bhuana alit,” ujarnya.

Dari benih bernama Kundali yang selalu bergerak berputar menghasilkan  gumpalan energi yaitu Brahmanda (telur Brahma). Jika dikaitkan dengan teori kosmologi Big-Bang yang masih berlaku hingga saat ini, kata dia, maka gumpalan panas inilah yang kemudian meledak menjadi alam semesta beserta isinya sekitar 13 miliyar tahun lalu. “Sebelum Big-Bang terjadi, maka tidak ada apapun selain gumpalan itu tadi, termasuk ruang dan waktu. Begitu pula sebelum Brahmanda ada, yang terjadi hanyalah Kundali yang terus berputar, di mana Kundali dan Siwa adalah tunggal, berada di luar pengaruh ruang atau Bhuta dan waktu atau Kala, oleh karena itu Siwa dijuluki sebagai Mahakala, ayah dari Bhatara Kala, penguasa ruang-waktu,” paparnya.

Brahma, terang Putra, disebutkan dalam teks Mahabharata dan purana sebagai leluhur dunia, oleh karenanya digambarkan sebagai pria tua berjenggot. Ini menurutnya dapat diartikan sejak peristiwa Big-Bang terjadi, seluruh isi alam semesta mulai ada. Galaksi, bintang, planet dan satelitnya tercipta karena peristiwa tersebut. Dengan adanya alam semesta maka makhluk hidup dapat terbentuk. “Planet dan seluruh benda langit sebagai penunjang kehidupan pun akhirnya juga disebut sebagai Brahmanda, karena dari sanalah makhluk hidup muncul sebagai organisme sederhana pada awalnya,” katanya.

Namun demikian, tidak semua planet dapat menghasilkan makhluk hidup. Ada persyaratan yang harus terpenuhi agar suatu planet bisa layak huni, salah satunya adalah zona orbit planet yang memengaruhi suhu planet. Zona layak huni ini disebut dalam fisika sebagai zona Goldilocks, di mana Bumi adalah planet satu-satunya dalam tata surya yang memiliki kehidupan karena memenuhi persyaratan.

Semua bermula pada fenomena Big-Bang atau Brahmanda itu tadi, kemudian terus berkembang sehingga muncul planet dan makhluk hidup, oleh karenanya dalam Bahasa Sansekerta, kosakata Brahma juga berarti ‘tumbuh’, ‘berkembang’, ‘berevolusi’, ‘bertambah besar’, ‘meluap dari diri sendiri’. “Alam semesta juga terus meluas akibat pergerakan planet-planet, galaksi dan seluruh benda langit menjauh satu dengan lainnya. Bintang dan pusat galaksi pada akhirnya meledak oleh dirinya sendiri dan menyisakan gravitasi super kuat yang disebut lubang hitam atau Black Hole,” papar penerjemah buku ini.

Makhluk-makhluk di alam semesta juga terus berevolusi sampai batas yang tak berhingga. Dengan demikian Brahma dengan sifat-sifat dan perwujudan-Nya berada di segala penjuru alam semesta sebagai arsitek penciptaan. Brahma dalam sejumlah kitab, kata Putra, sering disamakan dengan Agni (api). Brahma juga digambarkan berwajah empat (Caturmukha Brahma) yang melambangkan kekuasaan terhadap empat Weda (Catur Weda)  dan empat siklus waktu (Catur Yuga). Inilah mengapa dalam teks lontar Purwaka Bhumi Brahma dan Agni sama-sama melengkapi.

Putra kemudian melanjutkan ke teks Purwaka Bhumi yang berisi penjelasan matriks awal terjadinya planet Bumi. “Kata ‘purwaka’ berarti permulaan atau awal, ‘bhumi’ berarti planet Bumi ini. Dalam teks tersebut disebutkan mengenai sepuluh aksara atau Dasaksara yang terbagi menjadi Panca Brahma dan Panca Aksara atau Panca Agni,” ujar pria yang juga mengajar di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini.

Panca Brahma, jelasnya, dikonsepsikan sebagai empat wajah Brahma di empat penjuru ditambah satu di tengah sebagai poros yang menghasilkan lima bija mantra yaitu Sa (Sadyojata), Ba (Bamadewa), Ta (Tatpurusha), A (Aghora), dan di tengah I (Isana). “Berdasarkan penjelasan Prof. Nala, apabila bija mantra atau benih ini dihidupkan dengan benar, maka akan terdengar bunyi sengau ‘-ng’ pada masing-masing benih, menjadi Sang, Bang, Tang, Ang, dan Ing. Bunyi sengau didapat dari penyatuan Ardha Candra sebagai bayu, Bindu sebagai sabda, Nada sebagai idep yang mana ketiganya disebut sebagai Ulu Candra, kristalisasi kehendak suci,” terangnya.

Seluruh aksara Panca Brahma adalah wajah Brahma sebagai penguasa empat penjuru arah atau dikpala (+). Brahma tidak hanya diartikan secara mitologi sebagai entitas dewa semata. Dalam Panca Brahma terdapat garis mistis imajiner yang disebut garis Siwa, yaitu Timur (Sang, Sadyojata, Sanghyang Iswara), tengah (Ing, Isana, Sanghyang Siwa), Barat (Tang, Tatpurusha, Sanghyang Mahadewa). Ketiganya ini adalah nama-nama Siwa, sebagai simbol pergerakan Bumi yang menyebabkan gerak semu matahari terbit dari Timur, bergerak ke tengah dan tenggelam di Barat.

Kemudian terdapat garis kehidupan, yaitu di Barat (Bang, Bamadewa) adalah Brahma sebagai api membumbung ke Utara. Di Utara (Ang, Aghora) adalah Wisnu sebagai air yang mengalir ke selatan. Energi api dan air bertemu di tengah-tengah sebagai prinsip keseimbangan hidup dan mati, Siwa selalu di tengah. “Itulah matriks Panca Brahma menjelaskan dengan adanya Bumi yang selalu berputar, maka kehidupan akan terus berjalan dalam siklus hidup dan mati atau samsara,” bebernya.


Dasa aksara atau dasaksara merupakan 10 aksara suci yang dikenal dalam Hindu, khususnya di Bali. Konsep ini sangat popular di kalangan sastrawan dan penekun spiritual. Tak hanya itu, dasa aksara juga menjadi bahan kajian di dunia akademis. Para peneliti berupaya mengungkap dan menjabarkannya dari sudut pandang ilmu pengetahuan masa kini.

Menurut I Wayan Putra Adi Subawa, dasa aksara mengandung prinsip dunia. Ia menyitir Manavadharmasastra I.9 yang menyatakan “Tad andam abhavad haiman, Sahasramsusamaprabham, tasmin jajna svayam brahma, sarva loka pita maha”. Terjemahannya, “Benih menjadi telur alam semesta yang maha suci, cemerlang laksana sejuta sinar, dari telur tersebut Ia menjadikan diri-Nya sendiri sebagai Brahma, pencipta seluruh isi jagat raya”. “Dalam teks tersebut Brahma disebut sebagai jiwa tertinggi perwujudan Brahman yang muncul dengan sendirinya,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (22/7).

Lebih lanjut, kata Magister Linguistik tamatan Universitas Warmadewa ini, dalam teks Satapatha Brahmana disebutkan Brahma adalah yang menciptakan dan memberi tugas dewa-dewa lainnya untuk menjaga pergerakan alam semesta. Dalam teks Mahabharata dikatakan Brahma muncul dari pusar Wisnu dan menjadi leluhur dunia yang dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati. Sedangkan dalam Tantra disebutkan bahwa Kundali Shakti atau Mahakundali sebagai energi murni alam semesta bergerak melingkar, berputar bagaikan ular (bhujangi) yang menggulung. “Perputaran energi inilah menurut Arthur Avalon dalam The Serpent Power, kemudian bermanifestasi dalam wujud gumpalan energi yang kemudian disebut ‘telur Brahma’ atau Brahmanda,” jelasnya.

Sebelum masuk pada pokok persoalan, menurut pria asal Tegallalang Gianyar ini, penting untuk mengetahui makna dari bahasa simbol yang digunakan dalam teks-teks suci tersebut agar lebih memperkuat landasan pikir ketika membahas topik utama. “Yang dimaksud ‘benih’ dalam teks Manavadharmasastra adalah Kundali dan Kundalini. Kundali adalah benih energi di alam raya sedangkan Kundalini adalah benih energi di tubuh manusia, di mana secara prinsip alam raya atau bhuana agung adalah bernilai sama dengan tubuh atau bhuana alit,” ujarnya.

Dari benih bernama Kundali yang selalu bergerak berputar menghasilkan  gumpalan energi yaitu Brahmanda (telur Brahma). Jika dikaitkan dengan teori kosmologi Big-Bang yang masih berlaku hingga saat ini, kata dia, maka gumpalan panas inilah yang kemudian meledak menjadi alam semesta beserta isinya sekitar 13 miliyar tahun lalu. “Sebelum Big-Bang terjadi, maka tidak ada apapun selain gumpalan itu tadi, termasuk ruang dan waktu. Begitu pula sebelum Brahmanda ada, yang terjadi hanyalah Kundali yang terus berputar, di mana Kundali dan Siwa adalah tunggal, berada di luar pengaruh ruang atau Bhuta dan waktu atau Kala, oleh karena itu Siwa dijuluki sebagai Mahakala, ayah dari Bhatara Kala, penguasa ruang-waktu,” paparnya.

Brahma, terang Putra, disebutkan dalam teks Mahabharata dan purana sebagai leluhur dunia, oleh karenanya digambarkan sebagai pria tua berjenggot. Ini menurutnya dapat diartikan sejak peristiwa Big-Bang terjadi, seluruh isi alam semesta mulai ada. Galaksi, bintang, planet dan satelitnya tercipta karena peristiwa tersebut. Dengan adanya alam semesta maka makhluk hidup dapat terbentuk. “Planet dan seluruh benda langit sebagai penunjang kehidupan pun akhirnya juga disebut sebagai Brahmanda, karena dari sanalah makhluk hidup muncul sebagai organisme sederhana pada awalnya,” katanya.

Namun demikian, tidak semua planet dapat menghasilkan makhluk hidup. Ada persyaratan yang harus terpenuhi agar suatu planet bisa layak huni, salah satunya adalah zona orbit planet yang memengaruhi suhu planet. Zona layak huni ini disebut dalam fisika sebagai zona Goldilocks, di mana Bumi adalah planet satu-satunya dalam tata surya yang memiliki kehidupan karena memenuhi persyaratan.

Semua bermula pada fenomena Big-Bang atau Brahmanda itu tadi, kemudian terus berkembang sehingga muncul planet dan makhluk hidup, oleh karenanya dalam Bahasa Sansekerta, kosakata Brahma juga berarti ‘tumbuh’, ‘berkembang’, ‘berevolusi’, ‘bertambah besar’, ‘meluap dari diri sendiri’. “Alam semesta juga terus meluas akibat pergerakan planet-planet, galaksi dan seluruh benda langit menjauh satu dengan lainnya. Bintang dan pusat galaksi pada akhirnya meledak oleh dirinya sendiri dan menyisakan gravitasi super kuat yang disebut lubang hitam atau Black Hole,” papar penerjemah buku ini.

Makhluk-makhluk di alam semesta juga terus berevolusi sampai batas yang tak berhingga. Dengan demikian Brahma dengan sifat-sifat dan perwujudan-Nya berada di segala penjuru alam semesta sebagai arsitek penciptaan. Brahma dalam sejumlah kitab, kata Putra, sering disamakan dengan Agni (api). Brahma juga digambarkan berwajah empat (Caturmukha Brahma) yang melambangkan kekuasaan terhadap empat Weda (Catur Weda)  dan empat siklus waktu (Catur Yuga). Inilah mengapa dalam teks lontar Purwaka Bhumi Brahma dan Agni sama-sama melengkapi.

Putra kemudian melanjutkan ke teks Purwaka Bhumi yang berisi penjelasan matriks awal terjadinya planet Bumi. “Kata ‘purwaka’ berarti permulaan atau awal, ‘bhumi’ berarti planet Bumi ini. Dalam teks tersebut disebutkan mengenai sepuluh aksara atau Dasaksara yang terbagi menjadi Panca Brahma dan Panca Aksara atau Panca Agni,” ujar pria yang juga mengajar di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini.

Panca Brahma, jelasnya, dikonsepsikan sebagai empat wajah Brahma di empat penjuru ditambah satu di tengah sebagai poros yang menghasilkan lima bija mantra yaitu Sa (Sadyojata), Ba (Bamadewa), Ta (Tatpurusha), A (Aghora), dan di tengah I (Isana). “Berdasarkan penjelasan Prof. Nala, apabila bija mantra atau benih ini dihidupkan dengan benar, maka akan terdengar bunyi sengau ‘-ng’ pada masing-masing benih, menjadi Sang, Bang, Tang, Ang, dan Ing. Bunyi sengau didapat dari penyatuan Ardha Candra sebagai bayu, Bindu sebagai sabda, Nada sebagai idep yang mana ketiganya disebut sebagai Ulu Candra, kristalisasi kehendak suci,” terangnya.

Seluruh aksara Panca Brahma adalah wajah Brahma sebagai penguasa empat penjuru arah atau dikpala (+). Brahma tidak hanya diartikan secara mitologi sebagai entitas dewa semata. Dalam Panca Brahma terdapat garis mistis imajiner yang disebut garis Siwa, yaitu Timur (Sang, Sadyojata, Sanghyang Iswara), tengah (Ing, Isana, Sanghyang Siwa), Barat (Tang, Tatpurusha, Sanghyang Mahadewa). Ketiganya ini adalah nama-nama Siwa, sebagai simbol pergerakan Bumi yang menyebabkan gerak semu matahari terbit dari Timur, bergerak ke tengah dan tenggelam di Barat.

Kemudian terdapat garis kehidupan, yaitu di Barat (Bang, Bamadewa) adalah Brahma sebagai api membumbung ke Utara. Di Utara (Ang, Aghora) adalah Wisnu sebagai air yang mengalir ke selatan. Energi api dan air bertemu di tengah-tengah sebagai prinsip keseimbangan hidup dan mati, Siwa selalu di tengah. “Itulah matriks Panca Brahma menjelaskan dengan adanya Bumi yang selalu berputar, maka kehidupan akan terus berjalan dalam siklus hidup dan mati atau samsara,” bebernya.


Most Read

Artikel Terbaru

/