alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Ini Makna Tapak Dara, Bagian dari Yantra, Simbol Keseimbangan

BULELENG, BALI EXPRESS-Tapak Dara atau tatorek menjadi salah satu simbol yang kerap digunakan saat ritual tertentu, seperti melaspas rumah, hingga pengobatan. Simbol sebuah garis vertikal dan horizontal ini dimaknai sebagai keseimbangan yang ditorehkan membentuk jejak kaki burung dara menggunakan pamor (kapur sirih).

Akademisi UNHI Denpasar Prof Ida Bagus Gde Yudha Triguna mengatakan, dalam Hindu mengenal konsep Tantra, Mantra dan Yantra.

Tantra yaitu mengolah atau menggunakan kekuatan sakti dalam tubuh untuk melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Mantra adalah kekuatan kata-kata suci yang diungkapkan untuk mendapatkan energi kosmik, dan Yantra adalah simbol atau nyasa yang disakralkan.

Yudha Triguna mengatakan, Tapak Dara serupa dengan simbol penjumlahan dalam matematika, visualnya juga seragam dengan tanda positif (+). Tapak Dara terbangun oleh dua unsur garis, yakni vertikal dan horizontal. Lambang hasil penggabungan dua garis itu mempunyai empat arah garis.

Garis vertikal menghasilkan dua arah meliputi arah atas dan bawah, sedangkan garis horizontal menunjuk dua arah lain yakni samping kiri dan kanan.

Baca Juga :  Dipercaya Dapat Usir Wabah, Tarian Sang Hyang Jaran Dipentaskan Lagi

Garis dari bawah ke atas atau sebaliknya dimaknai sebagai menjaga hubungan yang harmonis dengan pada bhuta kala termasuk alam semesta. Sedangkan garis horizontal, arah kanan dan kiri, dimaknai sebagai interaksi sesama manusia dengan sifat dualitasnya atau yang disebut rwabhineda. Dan, garis arah atas dimaksudkan kualitas hubungan manusia kepada Tuhan.

Empat bagian arah yang terdapat pada simbol tapak dara tersebut dipadatkan menjadi tiga hal dimensi, di antaranya adalah dimensi atas menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), dimensi bawah hubungan manusia dengan alam termasuk bhuta (palemahan), dan dimensi kanan-kiri yang terdapat pada garis horizontal hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan).

“Inilah yang dijaga sebagai bentuk keseimbangan, yakni konsep Tri Hita Karana. Keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia sesama manusia dan manusia dengan alam,” ungkap
mantan Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Periode 2006-2014.

Simbol Tapak Dara juga dilandasi konsep pangider bhuwana yang memandang empat arah, yaitu timur, selatan, barat, utara, dan tengah ke dalam tiga bagian. Dalam hal ini, terdapat garis yang ditarik dari arah timur, tengah, dan barat yang membagi utara dan selatan. Garis ini disebut dengan garis mistis-imajiner yang membentang di garis utara dan selatan.

Baca Juga :  Jegog Jembrana Bakal Dibuatkan Festival

“Garis itu adalah garis Siwa. Di timur (purwa) Dewa Iswara, di tengah (madhya) Dewa Siwa, dan di barat (pascima) Dewa Mahadewa. Iswara dan Mahadewa adalah nama lain dari Siwa,” paparnya. Oleh karena itu, garis arah timur dan barat inilah yang menjadi dasar untuk memandang dimensi empat dipadatkan menjadi 3 dimensi yang mengacu pada konsep keseimbangan tiga. Konsep ini kemudian dikaitkan dengan konsep tri bhuana (swarga, bhumi, dan patala).

“Surga adalah konsepsi tentang dunia atas, tempat kediaman para Dewa; bumi (bhumi) adalah dunia tempat kediaman manusia, dan patala adalah konsepsi tentang dunia bawah tempat kediaman para bhuta,” sebutnya.
 

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS-Tapak Dara atau tatorek menjadi salah satu simbol yang kerap digunakan saat ritual tertentu, seperti melaspas rumah, hingga pengobatan. Simbol sebuah garis vertikal dan horizontal ini dimaknai sebagai keseimbangan yang ditorehkan membentuk jejak kaki burung dara menggunakan pamor (kapur sirih).

Akademisi UNHI Denpasar Prof Ida Bagus Gde Yudha Triguna mengatakan, dalam Hindu mengenal konsep Tantra, Mantra dan Yantra.

Tantra yaitu mengolah atau menggunakan kekuatan sakti dalam tubuh untuk melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Mantra adalah kekuatan kata-kata suci yang diungkapkan untuk mendapatkan energi kosmik, dan Yantra adalah simbol atau nyasa yang disakralkan.

Yudha Triguna mengatakan, Tapak Dara serupa dengan simbol penjumlahan dalam matematika, visualnya juga seragam dengan tanda positif (+). Tapak Dara terbangun oleh dua unsur garis, yakni vertikal dan horizontal. Lambang hasil penggabungan dua garis itu mempunyai empat arah garis.

Garis vertikal menghasilkan dua arah meliputi arah atas dan bawah, sedangkan garis horizontal menunjuk dua arah lain yakni samping kiri dan kanan.

Baca Juga :  Indrani (1) : Membangkitkan Kemampuan Keremajaan

Garis dari bawah ke atas atau sebaliknya dimaknai sebagai menjaga hubungan yang harmonis dengan pada bhuta kala termasuk alam semesta. Sedangkan garis horizontal, arah kanan dan kiri, dimaknai sebagai interaksi sesama manusia dengan sifat dualitasnya atau yang disebut rwabhineda. Dan, garis arah atas dimaksudkan kualitas hubungan manusia kepada Tuhan.

Empat bagian arah yang terdapat pada simbol tapak dara tersebut dipadatkan menjadi tiga hal dimensi, di antaranya adalah dimensi atas menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), dimensi bawah hubungan manusia dengan alam termasuk bhuta (palemahan), dan dimensi kanan-kiri yang terdapat pada garis horizontal hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan).

“Inilah yang dijaga sebagai bentuk keseimbangan, yakni konsep Tri Hita Karana. Keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia sesama manusia dan manusia dengan alam,” ungkap
mantan Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Periode 2006-2014.

Simbol Tapak Dara juga dilandasi konsep pangider bhuwana yang memandang empat arah, yaitu timur, selatan, barat, utara, dan tengah ke dalam tiga bagian. Dalam hal ini, terdapat garis yang ditarik dari arah timur, tengah, dan barat yang membagi utara dan selatan. Garis ini disebut dengan garis mistis-imajiner yang membentang di garis utara dan selatan.

Baca Juga :  Kasus Narkoba di Bali Banyak Dikendalikan dari Lapas

“Garis itu adalah garis Siwa. Di timur (purwa) Dewa Iswara, di tengah (madhya) Dewa Siwa, dan di barat (pascima) Dewa Mahadewa. Iswara dan Mahadewa adalah nama lain dari Siwa,” paparnya. Oleh karena itu, garis arah timur dan barat inilah yang menjadi dasar untuk memandang dimensi empat dipadatkan menjadi 3 dimensi yang mengacu pada konsep keseimbangan tiga. Konsep ini kemudian dikaitkan dengan konsep tri bhuana (swarga, bhumi, dan patala).

“Surga adalah konsepsi tentang dunia atas, tempat kediaman para Dewa; bumi (bhumi) adalah dunia tempat kediaman manusia, dan patala adalah konsepsi tentang dunia bawah tempat kediaman para bhuta,” sebutnya.
 

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/