27.6 C
Denpasar
Saturday, June 3, 2023

Tugu Kemenangan Sri Kesari Warmadewa

Raja pada jaman Bali Kuno rupanya punya cara tersendiri dalam merayakan kemenangan menakulkan musuh. Salah satunya dengan membuat tugu kemenangan yang disebut Prasasti.

Seperti yang dilakukan pada jaman Raja Sri Kesari Warmadewa. Tugu kemenangan dalam melawan musuh berhasil ditemukan di Desa Pukuh, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli pada 12 Februari 2020 lalu. Temuan inipun telah diidentifikasi oleh para epigraf beberapa waktu lalu.

Pamong Budaya Ahli Muda, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali, Gde Yadnya Tenaya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pada Minggu (31/10) mengatakan bahwa Sri Khesari adalah pendiri dinasti Warmadewa (vam┼Ťakara) di Bali.

Sebagai seorang tokoh penting, Sri Khesari adalah seorang pemimpin bersifat dwifungsi yakni sebagai seorang raja dalam fungsinya sebagai pemimpin jalannya roda pemerintahan, dan fungsi yang kedua sebagai pemimpin perang saat melakukan espansi kekuasaan yakni sebagai patih utama (adipatih).

Prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja Sri Khesari Warmadewa yang memerintah Bali pada tahun Saka 835 (903 Masehi) menggunakan media batu padas (tuff stone). Sampai saat ini belum ada ditemukan prasasti raja Sri Khesari Warmadewa menggunakan media logam.

Baca Juga :  Nginyahang Mayat, Pantang Dilanggar, Ada Batu Penyemuhan

Pada masa-masa berikutnya setelah pemerintahan raja Sri Khesari Warmadewa, sejak Sri Ugrasena sampai dengan Astasura Ratna Bumi Banten mulai digunakan logam sebagai media dalam mendokumenkan perintah sang raja.

Terlepas dari permasalahan material yang digunakan dalam menuliskan titah-titah kerajaan, jumlah prasasti yang terbit atas nama raja inipun tergolong sedikit. Sampai saat ini prasasti-prasasti yang terbit atas nama raja Sri Khesari Warmadewa berjumlah 4 buah prasasti antara lain prasasti Blanjong Sanur; Malet Gede (Malet Tengah) Desa Tiga, Bangli; Panempahan Manukaya; dan Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut Bangli.

“Di antara keempat prasasti tersebut, prasasti yang terdapat di Pura Puseh Desa Adat Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut Bangli merupakan prasasti temuan terkini atas nama Sri Khesari Warmadewa,” jelasnya.

Pria asal Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar mengatakan, penemuan tugu prasasti yang diduga berasal dari raja Bali Kuno Sri Kesari Warmadewa berasal dari bendesa adat Pukuh, I Putu Wisnem, 65.

Baca Juga :  Minyak Urut Dibuat dari Kelapa dan Bunga Pajati Surudan

Tugu prasasti ini ditemukan secara tidak sengaja dengan titik lokasi di sebelah barat Pura Puseh tidak jauh dari Pura Puseh Desa Adat Pukuh. Ketika itu masyarakat dan pemuda Desa Pakraman Pukuh sedang melakukan kegiatan gotong-royong untuk mengadakan sarana olahraga yakni membuat lapangan bola volley, dan sekaligus pengambilan tanah urug untuk keperluan membangun bale gong.

“Saat aktivitas sedang berlangsung, secara tidak sengaja salah seorang warga dengan cangkulnya membentur benda keras. Setelah diamati, ternyata sebuah material batu padas berbentuk silindris berisi tulisan pada bidang sisi samping. Berselang waktu tidak lama setelah penemuan tersebut, Balai arkeologi Bali melakukan peninjauan pada lokasi temuan,” jelasnya.

Setelah diidentifikasi temuan tersebut dipastikan merupakan prasasti yang dibuat dengan material batu padas (tuff stone) berbentuk silindris; tinggi 110 cm; dan diamater silinder 43 cm.  (bersambung)


Raja pada jaman Bali Kuno rupanya punya cara tersendiri dalam merayakan kemenangan menakulkan musuh. Salah satunya dengan membuat tugu kemenangan yang disebut Prasasti.

Seperti yang dilakukan pada jaman Raja Sri Kesari Warmadewa. Tugu kemenangan dalam melawan musuh berhasil ditemukan di Desa Pukuh, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli pada 12 Februari 2020 lalu. Temuan inipun telah diidentifikasi oleh para epigraf beberapa waktu lalu.

Pamong Budaya Ahli Muda, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali, Gde Yadnya Tenaya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pada Minggu (31/10) mengatakan bahwa Sri Khesari adalah pendiri dinasti Warmadewa (vam┼Ťakara) di Bali.

Sebagai seorang tokoh penting, Sri Khesari adalah seorang pemimpin bersifat dwifungsi yakni sebagai seorang raja dalam fungsinya sebagai pemimpin jalannya roda pemerintahan, dan fungsi yang kedua sebagai pemimpin perang saat melakukan espansi kekuasaan yakni sebagai patih utama (adipatih).

Prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja Sri Khesari Warmadewa yang memerintah Bali pada tahun Saka 835 (903 Masehi) menggunakan media batu padas (tuff stone). Sampai saat ini belum ada ditemukan prasasti raja Sri Khesari Warmadewa menggunakan media logam.

Baca Juga :  Pangayengan Ratu Niang di Jalan Kumbakarna, Solusi Jomblo dan Pedagang

Pada masa-masa berikutnya setelah pemerintahan raja Sri Khesari Warmadewa, sejak Sri Ugrasena sampai dengan Astasura Ratna Bumi Banten mulai digunakan logam sebagai media dalam mendokumenkan perintah sang raja.

Terlepas dari permasalahan material yang digunakan dalam menuliskan titah-titah kerajaan, jumlah prasasti yang terbit atas nama raja inipun tergolong sedikit. Sampai saat ini prasasti-prasasti yang terbit atas nama raja Sri Khesari Warmadewa berjumlah 4 buah prasasti antara lain prasasti Blanjong Sanur; Malet Gede (Malet Tengah) Desa Tiga, Bangli; Panempahan Manukaya; dan Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut Bangli.

“Di antara keempat prasasti tersebut, prasasti yang terdapat di Pura Puseh Desa Adat Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut Bangli merupakan prasasti temuan terkini atas nama Sri Khesari Warmadewa,” jelasnya.

Pria asal Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar mengatakan, penemuan tugu prasasti yang diduga berasal dari raja Bali Kuno Sri Kesari Warmadewa berasal dari bendesa adat Pukuh, I Putu Wisnem, 65.

Baca Juga :  Pasca Pencurian, Krama Tajen Gelar Pakemitan

Tugu prasasti ini ditemukan secara tidak sengaja dengan titik lokasi di sebelah barat Pura Puseh tidak jauh dari Pura Puseh Desa Adat Pukuh. Ketika itu masyarakat dan pemuda Desa Pakraman Pukuh sedang melakukan kegiatan gotong-royong untuk mengadakan sarana olahraga yakni membuat lapangan bola volley, dan sekaligus pengambilan tanah urug untuk keperluan membangun bale gong.

“Saat aktivitas sedang berlangsung, secara tidak sengaja salah seorang warga dengan cangkulnya membentur benda keras. Setelah diamati, ternyata sebuah material batu padas berbentuk silindris berisi tulisan pada bidang sisi samping. Berselang waktu tidak lama setelah penemuan tersebut, Balai arkeologi Bali melakukan peninjauan pada lokasi temuan,” jelasnya.

Setelah diidentifikasi temuan tersebut dipastikan merupakan prasasti yang dibuat dengan material batu padas (tuff stone) berbentuk silindris; tinggi 110 cm; dan diamater silinder 43 cm.  (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru