alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Syukur atas Panen Berlimpah, Wajib ada Rejang dan Mejogedan

Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng memiliki tradisi Ngusaba Desa Sarin Tahun yang dilangsungkan pada setiap dua tahun sekali. Ritual yang digelar di Pura Desa, Pura Dalem dan Pura Ayu ini sebagai bentuk syukur Dewi Sri atau Dewa Ayu Manik Galih atas karunia hasil panen yang berlimpah

Bendesa Adat Padang Bulia Gusti Aji Nyoman Bisana, 74 mengatakan tradisi ini sudah dilangungkan secara turun temurun . Hal ini tidak lepas dari mata pencaharian warga Padang Bulia yang sebagian besar sebagai petani lahan basah maupun lahan kering.

“Para petani sangatlah bergantung pada alam atau tanah sawah mereka sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. Sehingga Tradisi Ngusaba Desa Sarin Tahun sangatlah penting dari jaman dahulu hingga sampai sekarang bagi masyarakat desa Padang Bulia,” ungkapnya.

Dikatakan Gusti Aji Bisana, Upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun dilaksanakan di tiga pura yaitu Pura Dalem, Pura Uma Ayu dan Pura Desa. Awalnya, pelaksanaan upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun dahulunya dilakukan 5 tahun sekali

Tetapi karena terkendala oleh air dan juga masih alat yang sederhana, sehingga hasil panen tidak mencukupi untuk melalukan upacara ini. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan hasil panen mulai meningkat maka, upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun di tetapkan 2 Tahun sekali.

Baca Juga :  Lahir Melik Bukan Kutukan, Anugerah yang Berisiko, Ini Penjelasannya

Lanjutnya, Ngusaba Desa Sarin Tahun dipusatkan di Pura Desa yang jatuh pada Sasih Purnama Kapat (Kalender Bali) atau berkisar pada bulan Oktober. Prosesi pelaksanaannya berlangsung selama enam hari.

Seluruh masyarakat Desa Padang Bulia terlibat. Tidak hanya melibatkan Pemangku di Pura Desa, pemangku di Pura Kahyangan Tiga juga turut membantu menyukseskan pelaksanaan ritual Ngusaba ini.

Dikatakan Gusti Aji Bisana, ada sejumlah sarana yang digunakan saat upacara berlangsung. Seperti Babi hitam mulus tanpa warna, Buah Kelapa, Buah pisang, bambu untuk dijadikan tiang penyangga taring, kelatkat, katikan, ayam, bebek untuk dijadikan banten suci.

“Biasanya yang laki-laki mempersiapkan atau membuat kelabang, mencari bamboo penyanggah, membuat klatkat, membuat penjor untuk di pasang. Selain itu ada juga yang memasang taring ikut mencari bahan-bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan upacara,” jelasnya lagi.

Tak hanya krama lanang, yang istri (perempuan) juga terlibat dalam ngayah. Mereka membuat tamas, soksokan, kebat yang terbuat dari dauh kelapa/busung, dauh aren/daun ronyang. Termasuk membuat jajan/sanganan.

“Jika persiapan sudah tuntas, kemudian dilanjutkan dengan merakit sanganan dan kebat. Makanya  tukang banten sangat berperan penting dalam mensukseskan upacara Ngusaba ini,” paparnya. (bersambung)

Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng memiliki tradisi Ngusaba Desa Sarin Tahun yang dilangsungkan pada setiap dua tahun sekali. Ritual yang digelar di Pura Desa, Pura Dalem dan Pura Ayu ini sebagai bentuk syukur Dewi Sri atau Dewa Ayu Manik Galih atas karunia hasil panen yang berlimpah

Bendesa Adat Padang Bulia Gusti Aji Nyoman Bisana, 74 mengatakan tradisi ini sudah dilangungkan secara turun temurun . Hal ini tidak lepas dari mata pencaharian warga Padang Bulia yang sebagian besar sebagai petani lahan basah maupun lahan kering.

“Para petani sangatlah bergantung pada alam atau tanah sawah mereka sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. Sehingga Tradisi Ngusaba Desa Sarin Tahun sangatlah penting dari jaman dahulu hingga sampai sekarang bagi masyarakat desa Padang Bulia,” ungkapnya.

Dikatakan Gusti Aji Bisana, Upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun dilaksanakan di tiga pura yaitu Pura Dalem, Pura Uma Ayu dan Pura Desa. Awalnya, pelaksanaan upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun dahulunya dilakukan 5 tahun sekali

Tetapi karena terkendala oleh air dan juga masih alat yang sederhana, sehingga hasil panen tidak mencukupi untuk melalukan upacara ini. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan hasil panen mulai meningkat maka, upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun di tetapkan 2 Tahun sekali.

Baca Juga :  Lahir Melik Bukan Kutukan, Anugerah yang Berisiko, Ini Penjelasannya

Lanjutnya, Ngusaba Desa Sarin Tahun dipusatkan di Pura Desa yang jatuh pada Sasih Purnama Kapat (Kalender Bali) atau berkisar pada bulan Oktober. Prosesi pelaksanaannya berlangsung selama enam hari.

Seluruh masyarakat Desa Padang Bulia terlibat. Tidak hanya melibatkan Pemangku di Pura Desa, pemangku di Pura Kahyangan Tiga juga turut membantu menyukseskan pelaksanaan ritual Ngusaba ini.

Dikatakan Gusti Aji Bisana, ada sejumlah sarana yang digunakan saat upacara berlangsung. Seperti Babi hitam mulus tanpa warna, Buah Kelapa, Buah pisang, bambu untuk dijadikan tiang penyangga taring, kelatkat, katikan, ayam, bebek untuk dijadikan banten suci.

“Biasanya yang laki-laki mempersiapkan atau membuat kelabang, mencari bamboo penyanggah, membuat klatkat, membuat penjor untuk di pasang. Selain itu ada juga yang memasang taring ikut mencari bahan-bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan upacara,” jelasnya lagi.

Tak hanya krama lanang, yang istri (perempuan) juga terlibat dalam ngayah. Mereka membuat tamas, soksokan, kebat yang terbuat dari dauh kelapa/busung, dauh aren/daun ronyang. Termasuk membuat jajan/sanganan.

“Jika persiapan sudah tuntas, kemudian dilanjutkan dengan merakit sanganan dan kebat. Makanya  tukang banten sangat berperan penting dalam mensukseskan upacara Ngusaba ini,” paparnya. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru