alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Wajib ada Tarian Rejang, Mejogedan Digelar Tengah Malam

Puncak Acara Ngusaba Desa Sarin Tahun dimulai setelah persembahyangan di Pura Uma Ayu. Kemudian dilanjutkan ke Pura Desa Ngusaba Desa. Dalam upacara tersebut, Prajuru Desa, Juru Kidung, Saye dan krama desa wajib membaca Lontar Sri Teke.

Menariknya, Krama istri tidak hanya membawa canang Raka saja. Pakaiannya pun sengaja dibuat seragam. Mulai dari baju, selendang hingga kamben. Ini sebagai symbol kekompakan krama saat ritual berjalan.

Dikatakan Gusti Aji Bisana, krama lanang juga sudah berpakaian kamben songket. Dimana, di atas kepalanya berisi tombol, di punggunya berisi keris, kain kancut. Mereka berkumpul di Pura Desa untuk mendak rejang dan candi karang di pejenengan, serta didampingi prajuru desa.

“Penari rejang ini kemudian melakukan persembahyangan bersama pemangku desa, disinilah memohon kepada Tuhan Hyang Maha Esa agar diberikan penuntun serta kekuatan magis saat melakukan tarian di Pura Desa,” imbuhnya.

Uniknya, pada tengah malam dilaksanakan dengan ritual mejogedan. Masyarakat sering menyebut dengan meliang-liang. Krama meyakini, meliang-liang ini untuk menghibur serta menghilangkan rasa lelah, serta menghibur masyarakat desa. Umumnya, mejogedan diiringi oleh gamelan dari penabuh. Bahkan, yang menari hanyalah krama laki-laki sebagai simbul purusa.

“Yang boleh memakai tanggun kancut panjang, hanya pengulu desa. Terutama bendesa, kelian desa, Wakil Kelian Desa dan Penyarikan. Saat dipendak, tanggun kancut itu sebagai symbol bakti terhadap pemimpinnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Menari Pukul 09.00, Bangun Pukul 02.00 untuk Berhias, Demi NPF

Selanjutnya dilanjutkan dengan menghidupankan satang sebelum melakasanakan Tarian rejang dewa. Krama meyakini jika satang ini merupakan sinar/penerang untuk menuntun agar para penari rejang dewa mendapat kekuatan spiritual.

“Tari rejang ini ditarikan oleh sekelompok orang penari putri yang masih gadis kecil. Mereka memakai kain putih kuning dan selendang yang disampingnya sambil memegang benang tukel yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Saat mesolah, penari Ngider Buana atau mengelilingi satang sampai ida bhatara turun sehingga salah satu sutra atau permaas kerawuhaan,” katanya.

Sutri yang kerauhan tersebut akan menari sambil membawa tombak. Tidak jarang mereka yang sudah kerauhan menusuk dirinya. Sehingga masyarakat Padang Bulia mempercayai bahwa setelah nuntun rejang dewa, Bhatara-Bhatari yang bersetana di Pura Desa tedun masuk ke sutri yang sudah kesenengan saat upacara.

Prajuru kemudian mebebaosan di jeroan Pura Desa untuk mengetahui petunjuk melalui para sutri/permas yang sudah kerawuhan dari Ida Bhatara-Bhatari. “Setelah itu barulah dilanjutkan dengan Igel Desa yang ditarikan para ulu, prajuru. Kemudian dilakukan persembahyangan Bersama sampai tuntas,” pungkasnya. (habis) 

Puncak Acara Ngusaba Desa Sarin Tahun dimulai setelah persembahyangan di Pura Uma Ayu. Kemudian dilanjutkan ke Pura Desa Ngusaba Desa. Dalam upacara tersebut, Prajuru Desa, Juru Kidung, Saye dan krama desa wajib membaca Lontar Sri Teke.

Menariknya, Krama istri tidak hanya membawa canang Raka saja. Pakaiannya pun sengaja dibuat seragam. Mulai dari baju, selendang hingga kamben. Ini sebagai symbol kekompakan krama saat ritual berjalan.

Dikatakan Gusti Aji Bisana, krama lanang juga sudah berpakaian kamben songket. Dimana, di atas kepalanya berisi tombol, di punggunya berisi keris, kain kancut. Mereka berkumpul di Pura Desa untuk mendak rejang dan candi karang di pejenengan, serta didampingi prajuru desa.

“Penari rejang ini kemudian melakukan persembahyangan bersama pemangku desa, disinilah memohon kepada Tuhan Hyang Maha Esa agar diberikan penuntun serta kekuatan magis saat melakukan tarian di Pura Desa,” imbuhnya.

Uniknya, pada tengah malam dilaksanakan dengan ritual mejogedan. Masyarakat sering menyebut dengan meliang-liang. Krama meyakini, meliang-liang ini untuk menghibur serta menghilangkan rasa lelah, serta menghibur masyarakat desa. Umumnya, mejogedan diiringi oleh gamelan dari penabuh. Bahkan, yang menari hanyalah krama laki-laki sebagai simbul purusa.

“Yang boleh memakai tanggun kancut panjang, hanya pengulu desa. Terutama bendesa, kelian desa, Wakil Kelian Desa dan Penyarikan. Saat dipendak, tanggun kancut itu sebagai symbol bakti terhadap pemimpinnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Jro Balian di Desa Julah, Tulah Jika Dilangkahi

Selanjutnya dilanjutkan dengan menghidupankan satang sebelum melakasanakan Tarian rejang dewa. Krama meyakini jika satang ini merupakan sinar/penerang untuk menuntun agar para penari rejang dewa mendapat kekuatan spiritual.

“Tari rejang ini ditarikan oleh sekelompok orang penari putri yang masih gadis kecil. Mereka memakai kain putih kuning dan selendang yang disampingnya sambil memegang benang tukel yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Saat mesolah, penari Ngider Buana atau mengelilingi satang sampai ida bhatara turun sehingga salah satu sutra atau permaas kerawuhaan,” katanya.

Sutri yang kerauhan tersebut akan menari sambil membawa tombak. Tidak jarang mereka yang sudah kerauhan menusuk dirinya. Sehingga masyarakat Padang Bulia mempercayai bahwa setelah nuntun rejang dewa, Bhatara-Bhatari yang bersetana di Pura Desa tedun masuk ke sutri yang sudah kesenengan saat upacara.

Prajuru kemudian mebebaosan di jeroan Pura Desa untuk mengetahui petunjuk melalui para sutri/permas yang sudah kerawuhan dari Ida Bhatara-Bhatari. “Setelah itu barulah dilanjutkan dengan Igel Desa yang ditarikan para ulu, prajuru. Kemudian dilakukan persembahyangan Bersama sampai tuntas,” pungkasnya. (habis) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru