alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Perhitungan Wariga untuk Menuju Titik Terang, Tapi Pahami Wapatangsada

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ajaran wariga merupakan ilmu yang mempelajari mengenai baik buruknya hari dalam melakukan aktivitas, juga memandang bahwa terdapat dewa atau unsur-unsur kedewaan yang menguasai setiap harinya.

Penyusun kalender, Ida Bagus Budayoga mengatakan hampir seluruh kegiatan umat Hindu dilandasi dengan wariga. Setiap aktivitas senantiasa dilandasi atas niat mencari hari baik, demi tujuannya baik, dan menghindari hal-hal yang kurang baik.

Berbicara tentang ilmu wariga, Budayoga menyebut setiap orang dituntut untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Wariga akan menjadi penuntun perilaku manusia, sehingga menjadi etik yang mengatur kehidupan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, lanjutnya, sepanjang umat Hindu menyadari eksistensi dirinya, maka pada saat itu pula wariga menjadi penting untuk ditaati. “Dari wariga juga dituntun untuk ingat dengan hari suci keagamaan. Dituntun untuk ingat pada energi-energi yang orbit saat tertentu atau dimaknai sebagai payogan Ida Bhatara. Jadi wariga ini sangat penting,” ujarnya.

Ada berbagai referensi terkait dengan wariga. Sebut saja dalam Lontar Aji Swamandala berkaitan dengan pelaksanaan upacara yadnya. Dalam Lontar Aji Swamandala diuraikan mengenai wariga, khususnya mengenai ala ayuning dewasa pelaksanaan panca yadnya.

Dalam lontar yang lain juga disebutkan jika wariga ini sebagai dasar pelaksanaan agama. Wariga pinaka bungkahing agama. “Jadi apapun itu tidak lepas dari wariga. Kita diajak memahami perhitungan waktu, pergerakan semesta. Makanya dari wariga bisa mencari aktivitas kegiatan,” paparnya.

Pengaruh wariga juga sangat besar. Wariga menjadi dasar bagi seseorang yang menjadi balian, tukang banten, bahkan menjadi wiku atau sulinggih. Seseorang yang menjadi balian, tukang banten, apalagi sulinggih harus paham dengan perhitungan wariga.

Praktisi wariga ini menyebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin paham dalam perhitungan wariga.

Pertama, harus paham wewaran. Mulai dari eka wara sampai dasa wara. Harus hafal dan ilmunya harus dipahami.
Setelah wewaran juga harus memahami tentang wuku. Ada 30 wuku, mulai dari wuku Sinta sampai Watugunung.

Selanjutnya perhitungan penanggal dan panglong. Penanggal itu adalah  perhitungan hari setelah Tilem. Panglong itu artinya berkurang dan menjadi gelap. Ini yang mendasari perhitungan.

Perhitungan selanjutnya adalah sasih. Mulai dari Sasih Kasa, sampai Sasih Sada. Ada 12 sasih. Kemudian dauh. “Di atas dauh ada Sang Hyang Trio Dasa Saksi. Sehingga ada istilah Wapatangsada. Yaitu wewaran, pananggal, sasih, dauh, trio dasa saksi,” imbuhnya.

Di dalam Budha Kecapi Sastra Sangga, disebutkan bahwa Wruh Pa sira angluliaken ri kanang wariga. Wau lekad dewasa. Dewasa berasal dari kata div yang berarti cahaya. Bisa menentukan satu titik cahaya yang baik untuk melakukan kegiatan.

Dewasa ini bertujuan untuk menuju pada sinar atau hal yang terang. Hal yang terang inilah suatu keadaan yang mana manusia telah memperoleh pembebasan melalui Dewasa, khususnya Dewasa Ayu.
Wariga mengajarkan manusia untuk memahami asal usul terang.

Inilah kecerdasan memilih hari berdasarkan perhitungan. Kalau tidak paham tentang bagaimana cara menghitung waktu, maka tidak boleh memberikan jalan dewasa kepada orang lain, meskipun seorang sulinggih. Ila-ila dahat karena sudah memberikan jalan, langkah pijakan batu pertama untuk menuju kebahagian.

“Kalau pintu pertama sudah salah, maka langkah selanjutnya bisa kaon. Sehingga wariga dianggap sebagai ilmu pasti dan tidak pasti. Misal, kita tahu siang malam berdasarkan waktu. Tetapi apa yang terjadi itu tidak bisa dipastikan. Sehingga perlu membaca pergerakan alam semesta,” ungkapnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ajaran wariga merupakan ilmu yang mempelajari mengenai baik buruknya hari dalam melakukan aktivitas, juga memandang bahwa terdapat dewa atau unsur-unsur kedewaan yang menguasai setiap harinya.

Penyusun kalender, Ida Bagus Budayoga mengatakan hampir seluruh kegiatan umat Hindu dilandasi dengan wariga. Setiap aktivitas senantiasa dilandasi atas niat mencari hari baik, demi tujuannya baik, dan menghindari hal-hal yang kurang baik.

Berbicara tentang ilmu wariga, Budayoga menyebut setiap orang dituntut untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Wariga akan menjadi penuntun perilaku manusia, sehingga menjadi etik yang mengatur kehidupan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, lanjutnya, sepanjang umat Hindu menyadari eksistensi dirinya, maka pada saat itu pula wariga menjadi penting untuk ditaati. “Dari wariga juga dituntun untuk ingat dengan hari suci keagamaan. Dituntun untuk ingat pada energi-energi yang orbit saat tertentu atau dimaknai sebagai payogan Ida Bhatara. Jadi wariga ini sangat penting,” ujarnya.

Ada berbagai referensi terkait dengan wariga. Sebut saja dalam Lontar Aji Swamandala berkaitan dengan pelaksanaan upacara yadnya. Dalam Lontar Aji Swamandala diuraikan mengenai wariga, khususnya mengenai ala ayuning dewasa pelaksanaan panca yadnya.

Dalam lontar yang lain juga disebutkan jika wariga ini sebagai dasar pelaksanaan agama. Wariga pinaka bungkahing agama. “Jadi apapun itu tidak lepas dari wariga. Kita diajak memahami perhitungan waktu, pergerakan semesta. Makanya dari wariga bisa mencari aktivitas kegiatan,” paparnya.

Pengaruh wariga juga sangat besar. Wariga menjadi dasar bagi seseorang yang menjadi balian, tukang banten, bahkan menjadi wiku atau sulinggih. Seseorang yang menjadi balian, tukang banten, apalagi sulinggih harus paham dengan perhitungan wariga.

Praktisi wariga ini menyebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin paham dalam perhitungan wariga.

Pertama, harus paham wewaran. Mulai dari eka wara sampai dasa wara. Harus hafal dan ilmunya harus dipahami.
Setelah wewaran juga harus memahami tentang wuku. Ada 30 wuku, mulai dari wuku Sinta sampai Watugunung.

Selanjutnya perhitungan penanggal dan panglong. Penanggal itu adalah  perhitungan hari setelah Tilem. Panglong itu artinya berkurang dan menjadi gelap. Ini yang mendasari perhitungan.

Perhitungan selanjutnya adalah sasih. Mulai dari Sasih Kasa, sampai Sasih Sada. Ada 12 sasih. Kemudian dauh. “Di atas dauh ada Sang Hyang Trio Dasa Saksi. Sehingga ada istilah Wapatangsada. Yaitu wewaran, pananggal, sasih, dauh, trio dasa saksi,” imbuhnya.

Di dalam Budha Kecapi Sastra Sangga, disebutkan bahwa Wruh Pa sira angluliaken ri kanang wariga. Wau lekad dewasa. Dewasa berasal dari kata div yang berarti cahaya. Bisa menentukan satu titik cahaya yang baik untuk melakukan kegiatan.

Dewasa ini bertujuan untuk menuju pada sinar atau hal yang terang. Hal yang terang inilah suatu keadaan yang mana manusia telah memperoleh pembebasan melalui Dewasa, khususnya Dewasa Ayu.
Wariga mengajarkan manusia untuk memahami asal usul terang.

Inilah kecerdasan memilih hari berdasarkan perhitungan. Kalau tidak paham tentang bagaimana cara menghitung waktu, maka tidak boleh memberikan jalan dewasa kepada orang lain, meskipun seorang sulinggih. Ila-ila dahat karena sudah memberikan jalan, langkah pijakan batu pertama untuk menuju kebahagian.

“Kalau pintu pertama sudah salah, maka langkah selanjutnya bisa kaon. Sehingga wariga dianggap sebagai ilmu pasti dan tidak pasti. Misal, kita tahu siang malam berdasarkan waktu. Tetapi apa yang terjadi itu tidak bisa dipastikan. Sehingga perlu membaca pergerakan alam semesta,” ungkapnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/