alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Ritual Sabha Nyenukin Sebagai Bentuk Penyucian Yeh Klebutan

Selain mengumpulkan warna air dari 11 lokasi, krama Desa Adat Pedawa juga memiliki ritual Sabha Nyenukin. Ritual ini lebih mengarah kepada penyucian air di kolam atau kelebutan yang nantinya juga dijadikan sebagai sarana upacara.

Tokoh Adat Desa Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, kata sabha diartikan sebagai upacara. Sedangkan nyenukin berasal dari kata keduk, yang diartikan sebagai mengangkat kekotorannya untuk dibersihkan. Lanjut Sukrata, jika dimaknai maka Sabha Nyenukin ini sebagai penyucian kolam atau yeh kelebutan di Pedawa.

“Ini sebagai wujud kecintaan kami terhadap air. Kolam atau yeh kelebutan itu tidak hanya sekedar dibuatkan upacara. Tetapi dibersihkan juga airnya. Sehingga airnya secara spiritual dapat digunakan untuk upacara, kedua sebagai pekeling bahwa orang pedawa akan memohon keselamatan,” paparnya.

Lalu, kapan ritual Sabha Nyenukin Pelaksanannya nemu lelintihan nemu gelang. Jadi tidak tentu, bisa dilaksanakan lima tahun sekali. Yang terlibat seluruh masyarakat Desa Pedawa, baik desa Adat maupun Desa Dinas

Prosesi upacara Sabha Nyenukin ini dipusatkan di Pura Telaga Waja yang didalamnya terdapat sumber mata air disebut Tibun Derama. Kemudian lokasi yang kedua adalah di Pura Dalem yang disebut Tibun Bima.

Sarana upacara dari Sabha Nyenukin sebut Sukrata bantennya biasa saja. Seperti banten pekelem. Kolam yang diupacarai adalah kolam yang terbentuk secara alami. “ Itulah yang diupacarai. Jadi sumber mata air sebenarnya sangat disucikan,” ungkapnya.

Bagi orang Pedawa, mereka meyakini jika Tirta sudamala berbeda dengan desa lain. Air Sudamala bagi orang di Pedawa diyakini berwarna hitam dan putih. Karena sifatnya sangat disucikan, maka di areal kolam tidak boleh ada yang mandi. Tetapi bisa memanfaatkan rembesannya baik untuk mandi maupun aktifitas lainnya.

Ditanya terkait yang berstana di Pura Telaga Waja dikatakan Wayan Sukrata adalah manisfestasi Wisnu. Bagi masyarakat Pedawa, keberadaan Dewa Wisnu yang berstana di Pura Telaga Waja diyakini memberikan kekuatan, memberikan kemakmuran dan kenyamanan, agar ciptaan beliau lestari.

“Nah untuk melestarikan air, makanya kami di Pedawa memiliki tradisi Nguja benih yang diharapkan agar menanam tumbuhan. Tentu dengn banyaknya tumbuhan bisa menghasilkan lebih banyak air,” terangnya.

Menariknya, di Pura Dalem yang terdapat Tibu Bima tidak hanya dijadikan sebagai tempat nunas tirta pengentas, nunas tirta pengening-ning, untuk melukat dan mebersih. Namun juga diyakini oleh masyarakat Pedawa untuk memohon kekebalan.

“Kekebalan yang dimaksud ini bukan digunakan untuk kekuatan atau kesaktian. Namun agar terhindar dari berbagai macam mara bahaya. Tapi nunas air ini harus dengan ikhlas, tujuannya untuk menegakkan kebenaran. Tetapi jangan sampai melawan, jangan sesumbar, tidak untuk menantang maupun berkelahi. Saya termasuk pernah membuktikan, jadi harus ikhlas dan yakin,” pungkasnya. (habis)






Reporter: I Putu Mardika

Selain mengumpulkan warna air dari 11 lokasi, krama Desa Adat Pedawa juga memiliki ritual Sabha Nyenukin. Ritual ini lebih mengarah kepada penyucian air di kolam atau kelebutan yang nantinya juga dijadikan sebagai sarana upacara.

Tokoh Adat Desa Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, kata sabha diartikan sebagai upacara. Sedangkan nyenukin berasal dari kata keduk, yang diartikan sebagai mengangkat kekotorannya untuk dibersihkan. Lanjut Sukrata, jika dimaknai maka Sabha Nyenukin ini sebagai penyucian kolam atau yeh kelebutan di Pedawa.

“Ini sebagai wujud kecintaan kami terhadap air. Kolam atau yeh kelebutan itu tidak hanya sekedar dibuatkan upacara. Tetapi dibersihkan juga airnya. Sehingga airnya secara spiritual dapat digunakan untuk upacara, kedua sebagai pekeling bahwa orang pedawa akan memohon keselamatan,” paparnya.

Lalu, kapan ritual Sabha Nyenukin Pelaksanannya nemu lelintihan nemu gelang. Jadi tidak tentu, bisa dilaksanakan lima tahun sekali. Yang terlibat seluruh masyarakat Desa Pedawa, baik desa Adat maupun Desa Dinas

Prosesi upacara Sabha Nyenukin ini dipusatkan di Pura Telaga Waja yang didalamnya terdapat sumber mata air disebut Tibun Derama. Kemudian lokasi yang kedua adalah di Pura Dalem yang disebut Tibun Bima.

Sarana upacara dari Sabha Nyenukin sebut Sukrata bantennya biasa saja. Seperti banten pekelem. Kolam yang diupacarai adalah kolam yang terbentuk secara alami. “ Itulah yang diupacarai. Jadi sumber mata air sebenarnya sangat disucikan,” ungkapnya.

Bagi orang Pedawa, mereka meyakini jika Tirta sudamala berbeda dengan desa lain. Air Sudamala bagi orang di Pedawa diyakini berwarna hitam dan putih. Karena sifatnya sangat disucikan, maka di areal kolam tidak boleh ada yang mandi. Tetapi bisa memanfaatkan rembesannya baik untuk mandi maupun aktifitas lainnya.

Ditanya terkait yang berstana di Pura Telaga Waja dikatakan Wayan Sukrata adalah manisfestasi Wisnu. Bagi masyarakat Pedawa, keberadaan Dewa Wisnu yang berstana di Pura Telaga Waja diyakini memberikan kekuatan, memberikan kemakmuran dan kenyamanan, agar ciptaan beliau lestari.

“Nah untuk melestarikan air, makanya kami di Pedawa memiliki tradisi Nguja benih yang diharapkan agar menanam tumbuhan. Tentu dengn banyaknya tumbuhan bisa menghasilkan lebih banyak air,” terangnya.

Menariknya, di Pura Dalem yang terdapat Tibu Bima tidak hanya dijadikan sebagai tempat nunas tirta pengentas, nunas tirta pengening-ning, untuk melukat dan mebersih. Namun juga diyakini oleh masyarakat Pedawa untuk memohon kekebalan.

“Kekebalan yang dimaksud ini bukan digunakan untuk kekuatan atau kesaktian. Namun agar terhindar dari berbagai macam mara bahaya. Tapi nunas air ini harus dengan ikhlas, tujuannya untuk menegakkan kebenaran. Tetapi jangan sampai melawan, jangan sesumbar, tidak untuk menantang maupun berkelahi. Saya termasuk pernah membuktikan, jadi harus ikhlas dan yakin,” pungkasnya. (habis)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/