alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Pentaskan Sanghyang Jaran untuk Menetralkan Bumi

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Tari Sanghyang Jaran, salah satu tarian sakral yang dipentaskan saat pujawali di Pura Puseh Sari, Desa Adat Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (1/12) malam. Tarian ini dinilai memiliki makna spiritualitas dan religiositas tinggi dan merupakan warisan pengempon Puseh Sari.

Pementasan yang bertepatan dengan Buda Umanis Medangsia itu dilaksanakan melalui serangkaian upacara yang kompleks, terlebih tarian ini termasuk tari wali. Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralkan bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan. Ritual diawali dengan persembahyangan bersama yang dipimpin pemangku pemucuk Pura Puseh Sari.

Selanjutnya, sekaa kidung duduk bersila tepat depan bangunan palinggih pengaruman dan disiapkan pengasepan di atas sebuah dulang. Para penglingsir di sana kemudian memolesi tubuh penari dengan tapak dara yang telah. Ketika bara api sudah dirasa siap, sekaa gending yang terdiri dari teruna teruni ini, mulai melantunkan nyanyian pemanggil roh sanghyang.

Sanghyang Jaran baru akan beraksi ketika kidung sudah dimulai. Semakin lama tempo dan irama, tarian semakin kencang. Sang pemundut (penari) mulai kehilangan kesadaran dengan mengepak-ngepakan badannya layaknya jaran (kuda). Semakin lama, tubuh penari semakin kehilangan kontrol untuk menuju ke api.

Puncaknya, sang penari akan melompati dan menginjak-nginjak bara api yang telah disediakan, bahkan. Beberapa di antaranya berjalan di atas bara api yang telah berserakan di tanah. Mereka seperti tidak merasakan panas, apalagi luka bakar. Tarian ini rutin dipentaskan tiap enam bulan.

Bendesa Adat Banjarangkan A.A. Gede Dharma Putra mengatakan, Sanghyang Jaran seolah menjadi momentum dan harapan baru bagi masyarakat Banjarangkan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang. Dengan pementasan tarian ini, diharapkan Banjarangkan ke depan lebih maju, makmur dan terlepas dari berbagai petaka. “Perubahan musim yang ekstrim, dimana penyakit dan wabah akan menyelimuti bumi. Untuk mencegah penyebaran penyakit inilah, Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan,” ujarnya.


KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Tari Sanghyang Jaran, salah satu tarian sakral yang dipentaskan saat pujawali di Pura Puseh Sari, Desa Adat Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (1/12) malam. Tarian ini dinilai memiliki makna spiritualitas dan religiositas tinggi dan merupakan warisan pengempon Puseh Sari.

Pementasan yang bertepatan dengan Buda Umanis Medangsia itu dilaksanakan melalui serangkaian upacara yang kompleks, terlebih tarian ini termasuk tari wali. Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralkan bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan. Ritual diawali dengan persembahyangan bersama yang dipimpin pemangku pemucuk Pura Puseh Sari.

Selanjutnya, sekaa kidung duduk bersila tepat depan bangunan palinggih pengaruman dan disiapkan pengasepan di atas sebuah dulang. Para penglingsir di sana kemudian memolesi tubuh penari dengan tapak dara yang telah. Ketika bara api sudah dirasa siap, sekaa gending yang terdiri dari teruna teruni ini, mulai melantunkan nyanyian pemanggil roh sanghyang.

Sanghyang Jaran baru akan beraksi ketika kidung sudah dimulai. Semakin lama tempo dan irama, tarian semakin kencang. Sang pemundut (penari) mulai kehilangan kesadaran dengan mengepak-ngepakan badannya layaknya jaran (kuda). Semakin lama, tubuh penari semakin kehilangan kontrol untuk menuju ke api.

Puncaknya, sang penari akan melompati dan menginjak-nginjak bara api yang telah disediakan, bahkan. Beberapa di antaranya berjalan di atas bara api yang telah berserakan di tanah. Mereka seperti tidak merasakan panas, apalagi luka bakar. Tarian ini rutin dipentaskan tiap enam bulan.

Bendesa Adat Banjarangkan A.A. Gede Dharma Putra mengatakan, Sanghyang Jaran seolah menjadi momentum dan harapan baru bagi masyarakat Banjarangkan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang. Dengan pementasan tarian ini, diharapkan Banjarangkan ke depan lebih maju, makmur dan terlepas dari berbagai petaka. “Perubahan musim yang ekstrim, dimana penyakit dan wabah akan menyelimuti bumi. Untuk mencegah penyebaran penyakit inilah, Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan,” ujarnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/